PROPOSAL
APLIKASI
METODE INQUIRY DALAM MENINGKATKAN
PRESTASI BELAJAR IPA SISWA XXXXXXXX
A.
Latar Belakang Masalah
Dalam Undang-undang No 20 Tahun 2003 Pasal 3 dijelaskan bahwa
Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,
bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik, agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang maha Esa, berahlak mulia serta, berilmu,
cakap, kreatif , mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta
bertanggung jawab. Rumusan tujuan pendidikan diatas, sarat dengan pembentukan
sikap. Dengan demikian, tidaklah lengkap manakala dalam strategi pembelajaran
tidak membahas strategi pembelajaran yang berhubungan dengan pembentukan sikap
dan nilai.[1]
Menurut Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang standar isi untuk
satuan pendidikan dasar dan menengah dijelaskan bahwa tujuan mata pelajaran 1
IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri
sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam
menerapkannya didalam kehidupan sehari-hari.[2]
IPA diperlukan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan
manusia melalui pemecahan masalah-masalah yang dapat diidentifikasikan.
Penerapan IPA perlu dilakukan secara bijaksana agar tidak berdampak buruk
padalingkungan. Pembelajaran IPA sebaiknya dilakukan secara inkuiri (inquiry)
untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta
mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup. Oleh karena itu
pembelajaran IPA di SD/MI menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara
langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap
ilmiah.
Dalam kurikulum mata pelajaran IPA di SD/MI bertujuan agar peserta
didik memiliki kemampuan sebagai berikut: 1) memperoleh keyakinan terhadap
kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan
alam ciptaan-Nya; 2) mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA
yang bermanfaat dan dapat diterpakan dalam kehidupan sehari-hari; 3)
mengembangkan rasa ingin tahu yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan,
teknologi dan masyarakat; 4) mengembangkan keterampilan proses untuk
menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan. Dari tujuan
tersebut maka tugas seorang pendidik adalah bagaimana menerapkan beberapa
ketrampilan mengajar agar seluruh tujuan tersebut dapat tercapai dalam mata
pelajaran IPA. Selain itu, pembelajaran IPA juga memberikan pengetahuan dasar dari konsep yang
bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari.[3]
Tujuan yang terkandung dalam kurikulum IPA tersebut sudah
mengandung ide-ide yang dapat mengantisipasi perkembangan IPTEK secara global.
Namun kenyataan dilapangan tidak sejalan dengan tujuan pada kurikulum, seperti
temuan di lapangan tentang pembelajaran IPA di sekolah dasar/Madrasah
Ibtidaiyah antara lain, guru belum melaksanakan pembelajaran yang dapat
menumbuhkan kemampuan berfikir, kerja dan bersikap ilmiah bagi peserta didik
dalam pembelajarannya guru memberikan siswa dengan sejumlah konsep yang
bersifat hafalan belaka. Dengan demikian, siswa tidak memahami dasar kualitatif
tentang fakta-fakta dalam materi serta tingkat pemahaman semakin berkurang
sehingga pada kenyataanya timbul kebosanan pada siswa, tujuan siswa agar
menguasai konsep yang diajarkan justru tidak tercapai. Kondisi seperti itu
ditemukan juga pada pembelajaran IPA, yaitu guru berusaha agar siswa mampu
menghafal materi sebanyak mungkin sesuai yang diterangkan oleh guru. Dalam hal
ini, yang terjadi adalah pembelajaran berpusat pada guru dan bersifat satu
arah, sehingga siswa kurang mandiri dalam belajar bahkan siswa menjadi
cenderung pasif dan kurang aktif.
Permasalahan tersebut juga didukung oleh hasil survey dari TIMSS
menunjukkan bahwa dari 49 negara yang berpartisipasi pada tahun 2007 dan dari 49
negara yang berpartisipasi pada tahun 2007, masing-masing anak Indonesia
menempati peringkat 35. Skor rata-rata perolehan anak Indonesia untuk IPA
mencapai 427, skor ini tergolong ke dalam low benchmark artinya siswa 3 baru
mengenal beberapa konsep mendasar. Dengan demikian pembaharuan pendidikan di
Indonesia harus terus dilakukan dan disesuaikan dengan perubahan zaman.[4]
Kenyataan pelaksanaan pada pembelajaran IPA seperti yang dipaparkan
diatas juga ditemui di MI Xxxxxxxx, guru belum menggunakan model pembelajaran
yang kreatif dan inovatif bahkan banyak guru yang mengajar tanpa memanfaatkan
sumber belajar. Dalam pembelajarannya siswa belum diarahkan untuk belajar
melalui proses berfikir. Dalam pelaksanaannya siswa belum dilatih untuk dapat
merumuskan masalah, mengajukan hipotesis, mengumpulkan data, menguji hipotesis
dan menyimpulkan, guru sering mengajar apa adanya sehingga pembelajaran seperti
teacher centris, materi yang disampaikan guru sama dengan yang ada di buku yang
dapat mereka pelajari di rumah, dalam pembelajaran guru belum merancang
kegiatan belajar yang memungkinkan siswa melakukan kegiatan penemuan, guru
belum memberikan masukan dan Prestasi pada siswa dalam pembelajaran. Guru juga
belum memanfaatkan lingkungan sebagai media pembelajaran yang memiliki peranan
penting dalam sumber belajar. Hal tersebut dapat mengakibatkan pembelajaran IPA
di kelas menjadi tidak menarik, siswa kurang antusias, malas,ramai sendiri dan
banyak siswa yang tidak memperhatikan materi yang diajarkan oleh guru. Sehingga
tujuan dari mata pelajaran IPA belum tercapai.
Hal ini ditunjukan dengan data rata-rata ulangan harian siswa kelas
V MI Xxxxxxxx dengan hasil ulangan IPA menunjukkan masih belum maksimal yaitu
siswa memperoleh nilai tertinggi 70, nilai terendah 30 dan nilai 4 rata-rata
kelas 50,72 dari 25 siswa. Dari data observasi awal tersebut menunjukkan belum
tercapainya nilai KKM yang telah ditentukan yaitu 65. Dengan melihat data hasil
belajar dan pelaksanaan mata pelajaran tersebut diperlukan adanya suatu upaya
untuk mengadakan perbaikan dan meningkatkan kualitas pembelajaran IPA, agar
siswa menjadi aktif dalam mengembangkan ketrampilan serta memahami
konsep-konsep IPA dengan mudah sehingga hasil belajar siswa dapat memenuhi
kriteria ketuntasan minimal yang telah ditetapkan sekolah.
Untuk meminimalisir permasalahan di MI Xxxxxxxx maka perlu
penerapan model pembelajaran yang inovatif. Dalam model pembelajaran yang
inovatif peran guru tidak hanya sebagai transformator tetapi sebagai
fasilitator, motivator dan evaluator. Siswa dapat belajar membangun
pengetahuannya sendiri. Pembelajaran inovatif prinsip belajarnya konstruktivis
yaitu siswa membangun sendiri pengetahuannya melalui interaksi dengan
lingkungannya sebagai sumber belajar.
Peneliti bersama tim kolaborasi menetapkan alternatif tindakan yang
diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang meliputi keterampilan
guru, aktivitas siswa dan hasil belajar siswa.Alternatif pemecahan masalah
tersebut dengan menggunakan pendekatan inkuiri (inquiry). Pembelajaran
pada umumnya akan lebih efektif bila diselanggerakan melalui model-model
pembelajaran yang di dalam kegiatannya terdapat pemprosesan informasi, artinya
siswa ketika menerima pelajaran atau materi siswa diarahkan untuk lebih dalam
menggali pengetahuannya melalui berfikir kritis dan ilmiah, guru bukan hanya 5
memberi materi dan siswa hanya mendengar informasi saja. Hal tersebut
dikarenakan model-model pemrosesan informasi menekankan pada bagaimana
seseorang berpikir dan bagaimana dampaknya terhadap cara-cara mengolah
informasi. Hal tersebut menghadapkan siswa pada pengalaman kongkrit sehingga
siswa dapat belajar membangun pengetahuan sendiri, mengembangkan ketrampilan
berpikir kritis dan terapi untuk terlibat langsung. Sedangkan peran guru dalam
pendekatan inkuiri yaitu menciptakan
pembelajaran yang menantang sehingga melahirkan interaksi antara gagasan yang
sebelumnya diyakini siswa dengan bukti baru untuk mencapai pemahaman baru yang
lebih melalui pengujian gagasan baru. Peran guru disini adalah guru dituntut
menggunakan berbagai alat bantu atau cara dalam membangkitkan semangat siswa,
termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan
pembelajaran menarik, menyenangkan dan cocok bagi siswa. Selain itu, siswa juga
terlibat kedalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan
mereka dengan penekanan pada belajar melalui praktik.[5]
Menurut Roestiyah NK istilah inquiry dalam bahasa inggris merupakan
suatu teknik atau cara yang digunakan guru untuk mengajar di depan kelas dengan
guru membagi tugas kepada siswa untuk mempelajari dan meneliti kemudian
melaporkan hasilnya.[6] Piaget
memberikan definisi pendekatan inquiri sebagai pendidikan yang mempersiapkan
situasi bagi anak untuk melakukan eksperimen sendiri, mengajukan
pertanyaan-pertanyaan dan mencari sendiri jawaban atas pertanyaan yang mereka
ajukan. Kuslan dan Stone mendefinisikan pendekatan inkuari sebagai pengajaran
dimana guru dan murid-murid mempelajari
peristiwa-peristiwa ilmiah dengan pendekan dan jiwa para ilmuwan.[7]
Berkaitan dengan hal tersebut maka perlu dilakukan penelitian tindakan kelas
dengan judul “Aplikasi Metode Inkuiri dalam Meningkatkan prestasi belajar IPA Pada Siswa Kelas V MI Xxxxxxxx”.
B.
Penegasan Istilah
Untuk menghindari kesalahpahaman, maka penulis memberikan
interpretasi terhadap judul di atas sebagai berikut:
1.
Aplikasi ialah Penerapan ilmu tertentu. [8]
2.
Metode secara harfiah berarti cara. Dalam pemakaian yang umum,
metode diartikan sebagai suatu cara atau prosedur yang dipakai untuk mencapai
tujuan tertentu. [9]
4. Prestasi artinya
penghargaan sebagai hasil yang telah
dicapai baik melalui
belajar, latihan maupun
pekerjaan.[11]
5.
Belajar ialah perubahan tingkah laku yang relatif tetap yang terjadi
karena latihan dan pengalaman.[12]
6. Nash yang dikuti oleh Usman IPA adalah Suatu cara atau metode untuk mengamati alam
yang bersifat analisi, lengkap cermat serta menghubungkan antara fenomena lain
sehingga keseluruhannya membentuk suatu perspektif yang baru tentang objek yang
di amati.[13]
Jadi
yang dimaksud dengan judul Aplikasi Metode Inquiry
Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar IPA ialah Penerapan prosedur yang dipakai untuk mencapai penghargaan sebagai hasil yang
telah dicapai baik
melalui belajar, latihan maupun pekerjaan perubahan tingkah laku yang
relatif tetap yang terjadi karena latihan dan pengalaman dalam mengamati alam
yang bersifat analisi, lengkap cermat serta menghubungkan antara fenomena lain
sehingga keseluruhannya membentuk suatu perspektif yang baru tentang objek yang
di amati.
C. Rumusan Masalah
Rumusan masalah berdasarkan latar belakang di atas adalah sebagai
berikut:
1. Bagaimanakah aplikasi metode Inquiry
dalam proses pembelajaran IPA di Madrasah
Ibtidaiyah Xxxxxxxx Tahun Pelajaran 2016/2017?
2. Dapatkah Prestasi belajar
pada mata pelajaran IPA dicapai dengan aplikasi metode Inquiry di Madrasah Ibtidaiyah
Xxxxxxxx Tahun Pelajaran 2016/2017?
3. Apa faktor-faktor pendukung tercapainya Prestasi belajar siswa
dengan aplikasi metode Inquiry dalam Kegiatan Belajar Mengajar di Madrasah Ibtidaiyah Xxxxxxxx Tahun Pelajaran 2016/2017?
D. Tujuan
Penelitian
Tujuan
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.
Untuk mengetahui bagaimana aplikasi metode Inquiry pada
pembelajaran IPA agar lebih efektif dan efisien.
2.
Untuk mengetahui apakah aplikasi metode Inquiry dapat
meningkatkan Prestasi belajar siswa Madrasah Ibtidaiyah Xxxxxxxx Tahun Pelajaran 2016/2017
3.
Untuk mengetahui faktor-faktor pendukung tercapainya Prestasi
belajar siswa dengan aplikasi metode Inquiry dalam Kegiatan Belajar Mengajar di Madrasah Ibtidaiyah Xxxxxxxx Tahun Pelajaran 2016/2017
E. Manfaat Penelitian
Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat
sebagai berikut:
1.
Manfaat Teoritis.
a.
Dapat menjelaskan aplikasi metode Inquiry dalam proses
pembelajaran IPA di Madrasah Ibtidaiyah
Xxxxxxxx Tahun Pelajaran 2016/2017
b.
Dapat mengetahui kelebihan
dan kekurangan aplikasi metode Inquiry dalam proses pembelajaran IPA di Madrasah Ibtidaiyah Xxxxxxxx Tahun Pelajaran 2016/2017
2. Manfaat
Praktis.
a.
Bagi Siswa
Aplikasi metode
Inquiry diharapkan dapat memunculnya
sikap keilmiahan siswa, misalnya sikap objektif, rasa ingin tahu yang tinggi,
dan berpikir kritis, sehingga dapat mempengaruhi Prestasi belajar dalam diri
siswa.
b.
Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi
pengelola Madrasah Ibtidaiyah Xxxxxxxx agar dapat mengoptimalkan peranan para
pendidiknya dalam mengimplementasikan pendekatan Inquiry terhadap siswa.
Dan, sebagai tolak ukur untuk mengetahui sejauh mana perkembangan peserta didik
setelah diterapkannya pendekatan Inquiry dalam kegiatan belajar mengajar
IPA.
c.
Bagi Kepala Sekolah
Dengan berpedoman pada hasil penelitian ini, kepala dapat member
dorongan kepada dewan guru agar senantiasa kreatif dan berinovasi dalam
pembelajaran supaya siswa-siswanya termotivasi belajar sehingga prestasi
belajar dapat meningkat.
[1] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran, (
Jakarta: Kencana, 2006), hlm.273
[2]
www.aidsindonesia.or.id/.../20130729141205.Permen
[3] Depdikbud, Kurikulum Pendikan Dasar, (Jakarta: Depdikbud,
1994),hlm.5
[4]
litbang.kemdikbud.go.id/survei-internasional-timss
[5] Depdiknas, Buku
1 Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah. (Jakarta:
Depdikbud, 2001), hlm.2
[6] Roestiyah NK, Strategi
Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2012), hlm.75
[7] Srini M.
Iskandar, Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam, (Yogyakarta: CV. Maulana,
2001), hlm.70
[8] Imam Taufik, Kamus Praktis
Bahasa Indonesia, ( Bandung: Ganeca, 2010), hlm. 84
[9] Pupuh Fathurrohman Dan Sobri
Sutikno, Strategi Belajar Mengajar, (Bandung: PT Refika Aditama, 2010),
hlm. 55
[10] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan
Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2002), hlm.
22
[11] Dahlan, dan
Soelaeman, Asas- asas Pendidikan
Islam, (Bandung CV. Diponegoro,
1988), hlm. 76
[13] Usman Samatowo,
Bagaimana Membelajarkan IPA Di SD, (Jakarta: Depdiknas Dirjen Dikti
Direktorat Ketenagaan, 2006), hlm.2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar