Selasa, 06 Desember 2016

PROPOSAL APLIKASI METODE INQUIRY DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPA

PROPOSAL

APLIKASI METODE  INQUIRY  DALAM  MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPA SISWA  XXXXXXXX


A.  Latar Belakang Masalah
Dalam Undang-undang No 20 Tahun 2003 Pasal 3 dijelaskan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik, agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang maha Esa, berahlak mulia serta, berilmu, cakap, kreatif , mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Rumusan tujuan pendidikan diatas, sarat dengan pembentukan sikap. Dengan demikian, tidaklah lengkap manakala dalam strategi pembelajaran tidak membahas strategi pembelajaran yang berhubungan dengan pembentukan sikap dan nilai.[1]
Menurut Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah dijelaskan bahwa tujuan mata pelajaran 1 IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya didalam kehidupan sehari-hari.[2]
IPA diperlukan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan manusia melalui pemecahan masalah-masalah yang dapat diidentifikasikan. Penerapan IPA perlu dilakukan secara bijaksana agar tidak berdampak buruk padalingkungan. Pembelajaran IPA sebaiknya dilakukan secara inkuiri (inquiry) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup. Oleh karena itu pembelajaran IPA di SD/MI menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah.
Dalam kurikulum mata pelajaran IPA di SD/MI bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut: 1) memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaan-Nya; 2) mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterpakan dalam kehidupan sehari-hari; 3) mengembangkan rasa ingin tahu yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat; 4) mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan. Dari tujuan tersebut maka tugas seorang pendidik adalah bagaimana menerapkan beberapa ketrampilan mengajar agar seluruh tujuan tersebut dapat tercapai dalam mata pelajaran IPA. Selain itu, pembelajaran IPA juga  memberikan pengetahuan dasar dari konsep yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari.[3]
Tujuan yang terkandung dalam kurikulum IPA tersebut sudah mengandung ide-ide yang dapat mengantisipasi perkembangan IPTEK secara global. Namun kenyataan dilapangan tidak sejalan dengan tujuan pada kurikulum, seperti temuan di lapangan tentang pembelajaran IPA di sekolah dasar/Madrasah Ibtidaiyah antara lain, guru belum melaksanakan pembelajaran yang dapat menumbuhkan kemampuan berfikir, kerja dan bersikap ilmiah bagi peserta didik dalam pembelajarannya guru memberikan siswa dengan sejumlah konsep yang bersifat hafalan belaka. Dengan demikian, siswa tidak memahami dasar kualitatif tentang fakta-fakta dalam materi serta tingkat pemahaman semakin berkurang sehingga pada kenyataanya timbul kebosanan pada siswa, tujuan siswa agar menguasai konsep yang diajarkan justru tidak tercapai. Kondisi seperti itu ditemukan juga pada pembelajaran IPA, yaitu guru berusaha agar siswa mampu menghafal materi sebanyak mungkin sesuai yang diterangkan oleh guru. Dalam hal ini, yang terjadi adalah pembelajaran berpusat pada guru dan bersifat satu arah, sehingga siswa kurang mandiri dalam belajar bahkan siswa menjadi cenderung pasif dan kurang aktif.
Permasalahan tersebut juga didukung oleh hasil survey dari TIMSS menunjukkan bahwa dari 49 negara yang berpartisipasi pada tahun 2007 dan dari 49 negara yang berpartisipasi pada tahun 2007, masing-masing anak Indonesia menempati peringkat 35. Skor rata-rata perolehan anak Indonesia untuk IPA mencapai 427, skor ini tergolong ke dalam low benchmark artinya siswa 3 baru mengenal beberapa konsep mendasar. Dengan demikian pembaharuan pendidikan di Indonesia harus terus dilakukan dan disesuaikan dengan perubahan zaman.[4]
Kenyataan pelaksanaan pada pembelajaran IPA seperti yang dipaparkan diatas juga ditemui di MI Xxxxxxxx, guru belum menggunakan model pembelajaran yang kreatif dan inovatif bahkan banyak guru yang mengajar tanpa memanfaatkan sumber belajar. Dalam pembelajarannya siswa belum diarahkan untuk belajar melalui proses berfikir. Dalam pelaksanaannya siswa belum dilatih untuk dapat merumuskan masalah, mengajukan hipotesis, mengumpulkan data, menguji hipotesis dan menyimpulkan, guru sering mengajar apa adanya sehingga pembelajaran seperti teacher centris, materi yang disampaikan guru sama dengan yang ada di buku yang dapat mereka pelajari di rumah, dalam pembelajaran guru belum merancang kegiatan belajar yang memungkinkan siswa melakukan kegiatan penemuan, guru belum memberikan masukan dan Prestasi pada siswa dalam pembelajaran. Guru juga belum memanfaatkan lingkungan sebagai media pembelajaran yang memiliki peranan penting dalam sumber belajar. Hal tersebut dapat mengakibatkan pembelajaran IPA di kelas menjadi tidak menarik, siswa kurang antusias, malas,ramai sendiri dan banyak siswa yang tidak memperhatikan materi yang diajarkan oleh guru. Sehingga tujuan dari mata pelajaran IPA belum tercapai.
Hal ini ditunjukan dengan data rata-rata ulangan harian siswa kelas V MI Xxxxxxxx dengan hasil ulangan IPA menunjukkan masih belum maksimal yaitu siswa memperoleh nilai tertinggi 70, nilai terendah 30 dan nilai 4 rata-rata kelas 50,72 dari 25 siswa. Dari data observasi awal tersebut menunjukkan belum tercapainya nilai KKM yang telah ditentukan yaitu 65. Dengan melihat data hasil belajar dan pelaksanaan mata pelajaran tersebut diperlukan adanya suatu upaya untuk mengadakan perbaikan dan meningkatkan kualitas pembelajaran IPA, agar siswa menjadi aktif dalam mengembangkan ketrampilan serta memahami konsep-konsep IPA dengan mudah sehingga hasil belajar siswa dapat memenuhi kriteria ketuntasan minimal yang telah ditetapkan sekolah.
Untuk meminimalisir permasalahan di MI Xxxxxxxx maka perlu penerapan model pembelajaran yang inovatif. Dalam model pembelajaran yang inovatif peran guru tidak hanya sebagai transformator tetapi sebagai fasilitator, motivator dan evaluator. Siswa dapat belajar membangun pengetahuannya sendiri. Pembelajaran inovatif prinsip belajarnya konstruktivis yaitu siswa membangun sendiri pengetahuannya melalui interaksi dengan lingkungannya sebagai sumber belajar.
Peneliti bersama tim kolaborasi menetapkan alternatif tindakan yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang meliputi keterampilan guru, aktivitas siswa dan hasil belajar siswa.Alternatif pemecahan masalah tersebut dengan menggunakan pendekatan inkuiri (inquiry). Pembelajaran pada umumnya akan lebih efektif bila diselanggerakan melalui model-model pembelajaran yang di dalam kegiatannya terdapat pemprosesan informasi, artinya siswa ketika menerima pelajaran atau materi siswa diarahkan untuk lebih dalam menggali pengetahuannya melalui berfikir kritis dan ilmiah, guru bukan hanya 5 memberi materi dan siswa hanya mendengar informasi saja. Hal tersebut dikarenakan model-model pemrosesan informasi menekankan pada bagaimana seseorang berpikir dan bagaimana dampaknya terhadap cara-cara mengolah informasi. Hal tersebut menghadapkan siswa pada pengalaman kongkrit sehingga siswa dapat belajar membangun pengetahuan sendiri, mengembangkan ketrampilan berpikir kritis dan terapi untuk terlibat langsung. Sedangkan peran guru dalam pendekatan inkuiri  yaitu menciptakan pembelajaran yang menantang sehingga melahirkan interaksi antara gagasan yang sebelumnya diyakini siswa dengan bukti baru untuk mencapai pemahaman baru yang lebih melalui pengujian gagasan baru. Peran guru disini adalah guru dituntut menggunakan berbagai alat bantu atau cara dalam membangkitkan semangat siswa, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan dan cocok bagi siswa. Selain itu, siswa juga terlibat kedalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui praktik.[5]
Menurut Roestiyah NK istilah inquiry dalam bahasa inggris merupakan suatu teknik atau cara yang digunakan guru untuk mengajar di depan kelas dengan guru membagi tugas kepada siswa untuk mempelajari dan meneliti kemudian melaporkan hasilnya.[6] Piaget memberikan definisi pendekatan inquiri sebagai pendidikan yang mempersiapkan situasi bagi anak untuk melakukan eksperimen sendiri, mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan mencari sendiri jawaban atas pertanyaan yang mereka ajukan. Kuslan dan Stone mendefinisikan pendekatan inkuari sebagai pengajaran dimana  guru dan murid-murid mempelajari peristiwa-peristiwa ilmiah dengan pendekan dan jiwa para ilmuwan.[7] Berkaitan dengan hal tersebut maka perlu dilakukan penelitian tindakan kelas dengan judul “Aplikasi Metode Inkuiri  dalam Meningkatkan prestasi belajar  IPA Pada Siswa Kelas V MI Xxxxxxxx”.
B.  Penegasan Istilah
Untuk menghindari kesalahpahaman, maka penulis memberikan interpretasi terhadap judul di atas sebagai berikut:
1.    Aplikasi ialah Penerapan ilmu tertentu. [8]
2.    Metode secara harfiah berarti cara. Dalam pemakaian yang umum, metode diartikan sebagai suatu cara atau prosedur yang dipakai untuk mencapai tujuan tertentu. [9]
3.    Inquiry  ialah metode belajar dengan mencari dan menemukan sendiri.[10]
4.    Prestasi  artinya  penghargaan sebagai hasil yang telah   dicapai   baik    melalui    belajar, latihan   maupun pekerjaan.[11]
5.    Belajar ialah perubahan tingkah laku yang relatif tetap yang terjadi karena latihan dan pengalaman.[12]
6.    Nash yang dikuti oleh Usman IPA adalah  Suatu cara atau metode untuk mengamati alam yang bersifat analisi, lengkap cermat serta menghubungkan antara fenomena lain sehingga keseluruhannya membentuk suatu perspektif yang baru tentang objek yang di amati.[13]
               Jadi yang dimaksud dengan judul Aplikasi Metode Inquiry Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar IPA ialah Penerapan prosedur yang dipakai untuk mencapai penghargaan sebagai hasil yang telah   dicapai   baik    melalui    belajar, latihan   maupun pekerjaan perubahan tingkah laku yang relatif tetap yang terjadi karena latihan dan pengalaman dalam mengamati alam yang bersifat analisi, lengkap cermat serta menghubungkan antara fenomena lain sehingga keseluruhannya membentuk suatu perspektif yang baru tentang objek yang di amati.
C. Rumusan Masalah
Rumusan masalah berdasarkan latar belakang di atas adalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah aplikasi metode Inquiry dalam proses  pembelajaran IPA di Madrasah Ibtidaiyah  Xxxxxxxx Tahun Pelajaran 2016/2017?
2. Dapatkah Prestasi  belajar pada mata pelajaran IPA dicapai dengan aplikasi metode Inquiry di Madrasah Ibtidaiyah  Xxxxxxxx Tahun Pelajaran 2016/2017?
3. Apa faktor-faktor pendukung tercapainya Prestasi belajar siswa dengan  aplikasi metode Inquiry  dalam Kegiatan Belajar Mengajar  di Madrasah Ibtidaiyah  Xxxxxxxx Tahun Pelajaran 2016/2017?
D. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.    Untuk mengetahui bagaimana aplikasi metode Inquiry  pada pembelajaran IPA agar lebih efektif dan efisien.
2.    Untuk mengetahui apakah aplikasi metode Inquiry  dapat meningkatkan Prestasi belajar siswa Madrasah Ibtidaiyah  Xxxxxxxx Tahun Pelajaran 2016/2017
3.    Untuk mengetahui faktor-faktor pendukung tercapainya Prestasi belajar siswa dengan  aplikasi metode Inquiry  dalam Kegiatan Belajar Mengajar  di Madrasah Ibtidaiyah  Xxxxxxxx Tahun Pelajaran 2016/2017
E. Manfaat  Penelitian
Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis.
a.  Dapat  menjelaskan  aplikasi metode Inquiry dalam proses  pembelajaran IPA di Madrasah Ibtidaiyah  Xxxxxxxx Tahun Pelajaran 2016/2017
b.    Dapat  mengetahui kelebihan dan kekurangan  aplikasi metode Inquiry dalam proses  pembelajaran IPA di Madrasah Ibtidaiyah  Xxxxxxxx Tahun Pelajaran 2016/2017
2. Manfaat Praktis.
a.    Bagi Siswa
Aplikasi metode Inquiry diharapkan dapat memunculnya sikap keilmiahan siswa, misalnya sikap objektif, rasa ingin tahu yang tinggi, dan berpikir kritis, sehingga dapat mempengaruhi Prestasi belajar dalam diri siswa.
b.    Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi pengelola Madrasah Ibtidaiyah  Xxxxxxxx  agar dapat mengoptimalkan peranan para pendidiknya dalam mengimplementasikan pendekatan Inquiry terhadap siswa. Dan, sebagai tolak ukur untuk mengetahui sejauh mana perkembangan peserta didik setelah diterapkannya pendekatan Inquiry dalam kegiatan belajar mengajar IPA.
c.    Bagi Kepala Sekolah
Dengan berpedoman pada hasil penelitian ini, kepala dapat member dorongan kepada dewan guru agar senantiasa kreatif dan berinovasi dalam pembelajaran supaya siswa-siswanya termotivasi belajar sehingga prestasi belajar dapat meningkat.



[1] Wina  Sanjaya, Strategi Pembelajaran, ( Jakarta: Kencana, 2006), hlm.273
[2] www.aidsindonesia.or.id/.../20130729141205.Permen
[3] Depdikbud, Kurikulum Pendikan Dasar, (Jakarta: Depdikbud, 1994),hlm.5

[4] litbang.kemdikbud.go.id/survei-internasional-timss
[5] Depdiknas, Buku 1 Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah. (Jakarta: Depdikbud, 2001), hlm.2
[6] Roestiyah NK, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2012), hlm.75
[7] Srini M. Iskandar, Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam, (Yogyakarta: CV. Maulana, 2001), hlm.70
[8] Imam Taufik, Kamus Praktis Bahasa Indonesia, ( Bandung: Ganeca, 2010), hlm. 84
[9] Pupuh Fathurrohman Dan Sobri Sutikno, Strategi Belajar Mengajar, (Bandung: PT Refika Aditama, 2010), hlm. 55
[10] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2002), hlm. 22
[11] Dahlan, dan Soelaeman,  Asas- asas Pendidikan Islam, (Bandung CV. Diponegoro,  1988), hlm. 76
[12]  Mustaqim, Psikologi Pendidikan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar), 2004,  hlm. 34
[13] Usman Samatowo, Bagaimana Membelajarkan IPA Di SD, (Jakarta: Depdiknas Dirjen Dikti Direktorat Ketenagaan, 2006), hlm.2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar