Rabu, 07 Desember 2016

STUDI DESKRITIF ANALISIS TENTANG IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PAI SISWA SDN XXXX TAHUN PELAJARAN 2018/2019



STUDI DESKRITIF ANALISIS TENTANG IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PAI SISWA SDN XXXX
TAHUN PELAJARAN 2018/2019

PROPOSAL

A.  Latar Belakang 
Ada kecendrungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi menggingat jangka pendek tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Penyelidikan psikologi tentang ingatan telah cukup banyak dilakukan oleh para ahli, dan hasilnya banyak yang langsung bersangkut paut dengan soal belajar. Dalam membimbing anak didik sebaiknya hasil-hasil yang telah dikemukakan para ahli dipergunakan sebaik-baiknya supaya dapat dimanfaatkan secara maksimal. [1]
Pendekatan kontektual(Contextual Teaching and Learning/CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan Impelematasi nya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlansung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil. Tujuan utama CTL adalah membantu siswa dengan cara yang tepat untuk mengaitkan makna pada pelajaran-pelajaran akademik mereka.[2]
Dalam kelas kontektual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru.Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual.[3]
Pendidikan ditujukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, sebagaimana dirumuskan dalam Tujuan Pendidikan Nasional dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 Bab II pasal 3, bahwa : “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.[4] Berdasarkan UU Sisdiknas tersebut maka salah salah satu ciri manusia berkualitas adalah mereka yang tangguh iman dan takwanya serta memiliki akhlak mulia. Dengan demikian salah satu ciri kompetensi keluaran pendidikan kita adalah ketangguhan dalam iman dan takwa serta memiliki akhlak mulia. Kemuliaan akhlak dan budi pekerti menjadi indikator nyata tercapainya tujuan pendidikan nasional. [5]
Bagi umat Islam, dan khususnya pendidikan Islam, kompetensi iman dan takwa serta memiliki akhlak mulia tersebut sudah lama disadari kepentingannya, dan sudah diimplementasikan dalam lembaga pendidikan Islam. Dalam pandangan Islam kompetensi imtak dan iptek serta akhlak mulia diperlukan oleh manusia dalam melaksanakan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi. Bagaimana peran khalifah tersebut dapat dilaksanakan, diperlukan dua hal (1) landasan yang kuat berupa imtak mulia, dan (2) alat untuk melaksanakan perannya sebagai khalifah adalah iptek. Dengan demikian tidak mengenal dikotomi antara imtak dan iptek, namun justru sebaliknya perlu keterpaduan antara keduanya. Drs. Hasbullah mengatakan bahwa pendidikan Islam tidak menghendaki terjadinya dikotomi keilmuan, sebab dengan adanya sistem dikotomi menyebabkan sistem pendidikan Islam menjadi sekularistis, rasionalistis-empiris, intuitif dan materialistis.[6]
Berkaitan dengan pengembangan imtak mulia maka yang perlu dikaji lebih lanjut ialah peran pendidikan agama, sebagaimana dirumuskan dalam UU Sisdiknas. Nomor 20 Tahun 2003 BAB VI Bagian kesembilan pasal 30 ayat 2 bahwa : Pendidikan keagamaan berfungsi mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya dan/atau menjadi ahli ilmu agama.[7]
Pendidikan keagamaan merupakan salah satu bahan kajian dalam semua kurikulum disemua jenjang pendidikan, mulai dari Taman Kanak-Kanak sampai Perguruan Tinggi. Dalam kurikulum yang terbaru yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran (KTSP) pada pendidikan dasar dan menengah, Pendidikan Agama merupakan salah satu mata pelajaran yang wajib diikuti oleh peserta didik bersama dengan Pendidikan Kewarganegaraan dan yang lainnya.
Tantangan yang dihadapi dalam Pendidikan Agama khususnya Pendidikan Agama Islam sebagai sebuah mata pelajaran adalah bagaimana mengimplementasikan pendidikan agama Islam bukan hanya mengajarkan pengetahuan tentang agama akan tetapi bagaimana mengarahkan peserta didik agar memiliki kualitas iman, taqwa mulia, selanjutnya terimplementasi dalam kehidupan keseharian peserta didik. Dengan demikian materi pendidikan agama Islam bukan hanya mengajarkan pengetahuan tentang agama akan tetapi bagaimana membentuk kepribadian siswa agar memiliki keimanan dan ketakwaan yang kuat dan kehidupannya senantiasa dihiasi dengan akhlak yang mulia dimanapun mereka berada, dan dalam posisi apapun mereka bekerja. Kendala lainnya adalah lemahnya tingkat kreatifitas para pendidik mata pelajaran Pendidikan Agama Islam karena sebagaian besar masih menganut paradigma pembelajaran konvensionalistik, yakni pola belajar tradisonal yang cenderung menjadikan peserta didik sebagai objek proses pembelajaran dan pendidik menjadi satu-satunya sumber informasi dan pengetahuan. Akibatnya akan terjadi pola belajar teacher centered di mana pendidik memonopoli segala aktivitas belajar dengan menggunakan metode yang monoton tanpa adanya improvisasi metodologi penyajian materi yang berakibat pada kurangnya minat peserta didik untuk belajar materi pendidikan Agama Islam. Pendidik juga diharapkan untuk tidak terlalu fokus pada hasil belajar (out put), atau sekedar memenuhi target administrasi sesuai petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis. Akan tetapi pendidik diharapkan fokus pada proses penyajian materi dengan menggunakan segala macam metode dan pendekatan yang selaras dengan materi pelajaran yang diajarkan. Kendala lainnya adalah waktu yang disediakan hanya dua jam pelajaran dengan muatan materi yang begitu padat dan memang penting, yakni menuntut pemantapan pengetahuan hingga terbentuk watak dan kepribadian yang berbeda jauh dengan tuntutan terhadap mata pelajaran lainnya.[8]
Dede Rosyada berpendapat semua siswa pada jenjang Sekolah Menengah harus memperoleh perlakuan yang sama, dengan memperoleh pendidikan akademik untuk masuk ke perguruan tinggi serta memiliki keterampilan untuk masuk ke dunia kerja. Hal ini berarti, segala aktivitas pendidikan dan pembelajaran yang berlangsung di sekolah diarahkan untuk memberikan bekal kepada peserta didik baik bekal iman dan takwa maupun bekal ilmu pengetahuan dan teknologi sebelum memasuki perguruan tinggi ataupun dunia kerja. [9]
Saat ini yang mendesak adalah bagaimana usaha-usaha yang harus dilakukan oleh para pendidik mata pelajaran Pendidikan Agama Islam untuk mengembangkan metode-metode pembelajaran yang dapat memperluas pemahaman peserta didik mengenai ajaran-ajaran agamanya, mendorong mereka untuk mengamalkannya dan sekaligus dapat membentuk akhlak dan kepribadiannya. 
Salah satu metode pembelajaran yang dianjurkan digunakan dalam KTSP dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam adalah Pembelajaran Kontekstual atau Contextual Teaching Learning (CTL). Sehubungan dengan hal tersebut maka dalam tulisan ini akan disajikan, mengapa pembelajaran PAI menggunakan pendekatan pembelajaran kontekstual dan bagaimana mengimplementasikan pembelajaran kontekstual dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar. Dengan diterapkannya model ini, diharapkan dapat membantu para pendidik mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dalam mengarahkan peserta didik untuk menjadi manusia yang benar-benar mempunyai kualitas keberagamaan yang kuat yang dihiasi dengan akhlak yang mulia dalam kehidupan sehari-hari.
B.  Penegasan Istilah.
Agar kajian ini dapat dipahami secara tepat dan benar, serta untuk menghindari kesalahpahaman, maka penulis memandang perlu untuk menjelaskan kata-kata yang esensial pada judul skripsi ini, yaitu:
1.    Studi Deskritif ialah suatu penelitian yang mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat, serta tatacara yang berlaku dalam masyarakat, serta situasi tertentu, termasuk tentang hubungan kegiatan-kegiatan sikap-sikap, pandangan-pandangan serta proses yang sedang berlangsung dan pengaruhi dari suatu fenomena. [10]
2.    Pembelajaran Kontekstual ialah suatu konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dan situasi dunia nyata siswa dengan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dan Impelematasi nya dalam kehidupan mereka sebagai angota keluarga dan masyarakat.[11] .
3.    Meningkatkan Hasil Belajar ialah menaikkan (derajat, taraf dsb); mempertinggi; memperhebat.[12] Hasil belajar Menurut Oemar Hamalik hasil belajar adalah bila seseorang telah belajar akan terjadi perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti.[13]
4.    PAI ialah Pendidikan dengan melalui ajaran agama islam, yaitu berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan ia dapat memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran-ajaran agama islam sebagai suatu pandangan hidupnya demi keselamatan dan kesejahteraan hidup didunia maupun diakherat kelak. [14]
Jadi yang dimaksud judul Studi Deskritif Analisis Tentang Implementasi Pembelajaran Kontekstual Untuk Meningkatkan Hasil Belajar PAI ialah suatu penelitian yang mempelajari masalah-masalah disekolah, serta situasi tertentu, termasuk tentang suatu konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dan situasi dunia nyata siswa dengan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan Pendidikan dengan melalui ajaran agama islam, yaitu berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan ia dapat memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran-ajaran agama islam sebagai suatu pandangan hidupnya demi keselamatan dan kesejahteraan hidup didunia maupun diakherat kelak.
C.  Rumusan Masalah 
Berdasarkan uraian-uraian pokok pikiran di atas, maka peneliti menarik suatu permasalahan yang akan dijawab melalui penelitian ilmiah dan menjadi pembahasan dalam skripsi sebagai berikut:
1.    Bagaimana konsep  pembelajaran kontekstual  Untuk Meningkatkan Hasil Belajar PAI Siswa yang ideal?
2.    Bagaimana Impelematasi  pembelajaran kontekstual Untuk Meningkatkan Hasil Belajar PAI Siswa SDN XXXXTahun Pelajaran 2018/2019?
3.    Apakah Impelematasi  pembelajaran kontekstual Untuk Meningkatkan Hasil Belajar PAI Siswa SDN XXXXTahun Pelajaran 2018/2019  sudah mencapai standar?
D.  Tujuan Penelitian. 
Tujuan Penelitian  ini adalah:
1.    Untuk mengetahui konsep  pembelajaran kontekstual  dalam Meningkatkan Hasil Belajar PAI Siswa yang ideal.
2.    Untuk mengetahui Impelematasi  pembelajaran kontekstual dalam Meningkatkan Hasil Belajar PAI Siswa SDN XXXXTahun Pelajaran 2018/2019.
3.    Untuk mengetahui Impelematasi  pembelajaran kontekstual dalam Meningkatkan Hasil Belajar PAI Siswa SDN XXXXTahun Pelajaran 2018/2019  sudah mencapai standar.
E.    Manfaat  Penelitian.
Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1.Manfaat Teoritis.
a.  Dapat  menjelaskan  Impelematasi  konsep  pembelajaran kontekstual  dalam  Meningkatkan Hasil Belajar PAI Siswa yang ideal.
b. Dapat mengetahui Impelematasi  pembelajaran kontekstual dalam Meningkatkan Hasil Belajar PAI Siswa SDN XXXXTahun Pelajaran 2018/2019.
c.  Dapat mengetahui Impelematasi  pembelajaran kontekstual dalam Meningkatkan Hasil Belajar PAI Siswa SDN XXXXTahun Pelajaran 2018/2019  sudah mencapai standar.
2) Manfaat Praktis.
a.    Bagi Siswa.
Impelematasi  Pembelajaran Kontekstual diharapkan dapat memunculnya sikap keilmiahan siswa, misalnya sikap objektif, rasa ingin tahu yang tinggi, dan berpikir kritis, sehingga dapat mempengaruhi motivasi belajar dalam diri siswa.
b.    Bagi Sekolah.
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi pengelola SDN XXXXagar dapat mengoptimalkan peranan para pendidiknya dalam mengimplementasikan Pembelajaran Kontekstual terhadap siswa. Dan, sebagai tolak ukur untuk mengetahui sejauh mana perkembangan peserta didik setelah diterapkannya Pembelajaran Kontekstual dalam kegiatan belajar mengajar PAI.
c.    Bagi Kepala Sekolah.
Dengan berpedoman pada hasil penelitian ini, kepala dapat member dorongan kepada dewan guru agar senantiasa kreatif dan berinovasi dalam pembelajaran supaya siswa-siswanya termotivasi belajar sehingga prestasi belajar dapat meningkat.
F.   Kajian Pustaka  
 Fungsi dari kajian pustaka adalah untuk mengemukakan teori dari buku-buku yang sesuai dengan judul penelitian. Dari penelitian yang telah dilakukan sejauh ini, dan telah peneliti ketahui adalah:
Mudjiono berpendapat bahwa Pembelajaran adalah proses yang diselenggarakan oleh guru untuk membelajarkan siswa dalam belajar bagaimana belajar memperoleh dan memproses pengetahuan, ketrampilan dan sikap.[15] Kata pembelajaran adalah terjemahan dari instruction, yang banyak dipakai dalam dunia pendidikan di Amerika Serikat. Istilah ini banyak dipengaruhi oleh aliran psikologi kognitif-wholistik yang menempatkan peserta didik sebagai sumber dari kegiatan. Selain itu, istilah ini juga dipengaruhi oleh perkembangan teknologi yang diasumsikan dapat mempermudah peserta didik mempelajari segala sesuatu lewat berbagai macam media seperti bahan-bahan cetak, program televisi, gambar, audio, dan lain sebagainya, sehingga semua itu mendorong terjadinya perubahan peranan pendidik dalam mengelola proses belajar mengajar, dari pendidik sebagai sumber belajar dan sebagai fasilitator dalam belajar mengajar.
            Pembelajaran adalah membelajarkan siswa untuk mendapatkan informasi yang berhubungan dengan pendidikan. Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh pihak pendidik sebagai fasilitator, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik.  Proses belajar mengajar merupakan kegiatan utama sekolah. Sekolah diberi kebebasan memilih strategi, metode, dan teknik-teknik pembelajaran dan pengajaran yang paling efektif, sesuai dengan karakteristik mata pelajaran, siswa, guru, dan kondisi nyata sumberdaya yang tersedia di sekolah.[16]
Dari uraian-uraian yang dikemukakan di atas maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran merupakan proses yang dilakukan oleh seorang pendidik sebagai penyampai dan peserta didik sebagai penerima sehingga terjadi interaksi antara keduanya dan peserta didik mampu menguasai pelajaran yang disajikan. Atau dengan kata lain pembelajaran adalah kegiatan pendidik secara terprogram dalam desain instruksional untuk membuat peserta didik belajar secara aktif dengan memberdayakan seluruh potensi yang dimiliki agar memperoleh sesuatu yang bermakna dan produktif. 
Berikut akan disajikan beberapa pengertian tentang Pembelajaran Kontekstual : Ibnu Setiawan mengungkapkan dalam Elaine B. Johnson sebagai berikut berikut: The CTL system is an educational process that aims to help students see meaning in the academic material they are studying by connecting academic subjects with the context of their daily lives, that is, with the context of their personal, social, and cultural circumstances (Johnson, 2007 :19) Artinya : Sistem pembelajaran kontekstual merupakan suatu proses pendidikan yang bertujuan membantu siswa melihat makna dalam bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan cara menghubungkannya dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari yaitu dengan konteks lingkungan pribadinya, sosialnya, dan kultur kesehariannya.
Wina Sanjaya yang kutif oleh Elin Rosalin juga memaparkan bahwa : Pembelajaran Kontekstual (CTL) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untauk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkanya dalam kehidupan mereka. [17]
Dari pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran kontekstual adalah konsep pembelajaran yang membantu pendidik mengaitkan setiap materi yang dipelajari oleh peserta didik dengan kehidupan sehari-hari atau bidang-bidang tertentu, sehingga peserta didik dapat merasakan makna dari setiap materi pelajaran yang diterimanya dan mengimplementasikannya dalam berbagai aspek kehidupan. Peserta didik memperoleh pengetahuan dan ketrampilan dari konteks yang terbatas sedikit demi sedikit, dan dari proses mengonstruksi sendiri, sehingga belajar akan bermakna.
G.  Metode  Penelitian
Untuk memperoleh hasil penelitian yang valid, maka peneliti akan menerangkan beberapa metode yang dipergunakan dalam skrispsi ini:
1.    Jenis dan Pendekatan
a.    Jenis Penelitian
Jenis peneliti menggunakan jenis penelitian deskriftif, yaitu penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan, atau menghubungkan antara variabel, satu dengan variabel yang lain.[18]
Penelitian ini berusaha menjawab pertannyaan-pertannyaan apakah dan mendeskripsikan hasil penelitian. Dengan demikian, peneliti akan memberikan kutipan-kutipan data untuk memberikan gambaran penyajian laporan.
b.    Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif.
Menurut Bogman dan Tailor yang dikutif Lexi J. Moeleong, penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriftif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang diamati.[19]
Kegunaan Metode Kualitatif menurut Lexi J. Moeleong  seperti  yang di kutif  Nur Khoiri adalah   :
1)   Menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah
2)   Metode ini menyajikan secara langsung hakikat hubungan antara peneliti dengan responden
3)   Metode ini lebih peka dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan banyak penajaman pengaruh bersama terhadap pola-pola nilai yang dihadapi.[20]    
2.    Subyek Penelitian
Adapun subyek penelitian ini adalah sebagai berikut:
a.    Kepala sekolah
Kepala sekolah disini sebagai orang yang mempunyai wewenang dalam menentukan kebijakan di sekolah dan kegiatan pembelajaran di SDN XXXXtahun Pelajaran 2018/2019.
b.    Guru PAI
Guru merupakan orang  yang melaksanakan pembelajaran di dalam kelas. Maka dari itu, peran guru sangat penting dalam penelitian ini karena guru nantinya yang menerapkan Pembelajaran Kontekstual di SDN XXXXTahun Pelajaran 2018/2019, serta sebagai sumber data primer dalam penelitian ini.
c.    Siswa
Siswa dalam hal ini sebagai unsur yang juga memiliki peran penting guna tercapainya tujuan penelitian. Siswa sebagai subyek dalam Pembelajaran Kontekstual di SDN XXXXTahun Pelajaran 2018/2019.
3.    Fokus Penelitian hasil belajar PAI dan  Akhlak Siswa setelah diterapkan  Pembelajaran Kontekstual.
Fokus penelitian ini adalah sebagai berikut:
a.    Mengetahui konsep  pembelajaran kontekstual  Untuk Meningkatkan Hasil Belajar PAI Siswa yang ideal.
b.    Mengetahui Impelematasi  pembelajaran kontekstual Untuk Meningkatkan Hasil Belajar PAI Siswa SDN XXXXTahun Pelajaran 2018/2019.
c.    Mengetahui Impelematasi  pembelajaran kontekstual Untuk Meningkatkan Hasil Belajar PAI Siswa SDN XXXXTahun Pelajaran 2018/2019  sudah mencapai standar.
4.    Pengumpulan Data.
Data yang ada dalam penelitian ini adalah data kepustakaan (Library research), data merupakan teori-teori dari para ahli yang berhubungan dengan penelitian ini, data yang diperoleh dengan cara peneliti terjun kelapangan.
a)    Teknik Pengumpulan Data.
Untuk mempermudah memperoleh data di lapangan, penulis menggunakan beberapa Teknik, yaitu:
1)   Wawancara.
Merupakan alat informasi dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan untuk dijawab secara lisan pula.[21] Teknik wawancara menghendaki komunikasi langsung antara penyelidikan subjek atau responden. Berdasarkan strukturnya, pada penelitian kualitatif ada 2 jenis wawancara yaitu:
a.    Wawancara relatif tertutup, wawancara format ini difokuskan pada topik khusus atau umum, panduan dibuat rinci, namun nara sumber tetap terbuka dalam berfikir.
b.    Wawancara terbuka, peneliti memberi kebebasan diri kepada nara sumber untuk berbicara secara luas dan mendalam, pada wawancara ini, subjek peneliti lebih kuat pengaruhnya dalam menentukan isi wawancara.[22]  
Teknik ini digunakan untuk menggali data tentang profil sekolah, keadaan umum sekolah dan pelaksanaan Implementasi  pembelajaran kontekstual dalam proses  pembelajaran PAI di SDN 3 Bugel Kedung Jepara. Adapun sumber informasinya diperoleh dari adalah:
a.    Kepala SDN XXXX untuk mendapatkan informasi umum tentang Madrasah .
b.    Waka kurikulum untuk mendapatkan informasi tentang pelaksanaan pembelajaran dan pelaksanaan kurikulum di SDN XXXX.
c.    Dewan Guru untuk mendapatkan informasi tentang pelaksanaan Teknik belajar dan motivasi belajar siswa di SDN XXXX.
d.   Pihak-pihak lain yang berkaitan dengan perolehan data dalam penulisan skripsi ini.
2)   Observasi
Observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada obyek penelitian. Teknik ini penulis digunakan untuk memperoleh data tentang situasi dan kondisi umum Pembelajaran Kontekstual di SDN XXXXTahun Pelajaran 2018/2019. Teknik ini juga digunakan  untuk mengetahui pengelolaan secara keseluruhan, letak geografis serta untuk mengembangkan data-data yang terkait dengan lembaga pendidikan yang bersangkutan.
3)   Dokumentasi
Teknik Dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen, legger, agenda dan sebagainya.[23] Teknik ini dipergunakan untuk memperoleh data tentang keadaan dan situasi umum SDN XXXXserta data-data lain yang bersifat dokumen.
b)   Teknik Analisis Data
Analisis data merupakan upaya mencari dan menata secara sistematis catatan hasil observasi wawancara dan lainnya guna meningkatkan pemahaman penelitian tentang kasus yang diteliti dan menjadikannya sebagai teman bagi orang lain. Sedangkan......... SELANJUTNYA CALL ADMINNYA.........


[1] Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2006), hlm. 53.
[2] Elin Rosalin, Gagasan Merancang Pembelajaran Kontekstual, (Bandung: PT Karsa Mandiri Persada, 2008), hlm. 25.
[3] Pembelajaranguru.wordpress.com/…05/25/pendekatan, diunduh tgl. 22 Mei 2013.
[5] Depdiknas, Dasar-dasar Didaktik dan Penerapannya dalam Pembelajaran, (Jakarta: Depdiknas , 2003), hlm.3.
[6] Hasbullah, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1999), hlm. 7.
[7] Depdiknas RI, ( Jakarta: Depdiknas, 2003), hlm. 10. 
[8] Abdul Majid, Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, Konsep dan Implementasi Kurikulum 2006) ,(Bandung: PT. Remaja Rosdakarya), hlm. 81.
[9] Dede Rosyada, Paradigma Pendidikan Demokratis: sebuah model pelibatan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan, (Jakarta : Prenada Media, 2004), hlm. 9.
[10] Imam Taufik, Kamus Praktis Bahasa Indonesia, ( Bandung: Ganeca, 2010), hlm. 84.
[11] Elin Rosalin, Gagasan Merancang Pembelajaran Kontekstual, (Bandung: PT Karsa Mandiri Persada, 2008), hlm. 27.
[12] Depdiknas, Kamus Umum Bahasa Indonesia, ( Jakarta: DEPDIKNAS, 2008), hlm.1529.
[13] Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Bumi Aksara, 2006), hlm. 30.
[14] Nur Uhbiyati,  Ilmu Pendidikan Islam. (Bandung: Pustaka Setia ,1998), Cet. I, hlm 36.

[15] haeruneljufry.blogspot.com/2010/04/penerapan. Diunduh tgl 29/05/2013.
[16] Rohiat, Manajemen Sekolah, ( Bandung: Refika Aditama, 2010), hlm. 65.
[17] Elin Rosalin, Op.cit, hlm.27.
[18] Sugiono, Metode Penelitian Administrasi, ( Bandung: Alfabeta, 2003), hlm. 11.
[19] Lexi J. Moeleong, Metode Penelitian Kualitatif, ( Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004),hlm. 4. 
[20] Nur Khoiri, Metode Penelitian Pendidikan, ( Jepara: INISNU, 2012), hlm. LXII.
[21] S Margono, Op.cit., hlm. 165.
[22] Sudarwan Danim, Op.cit, hlm. 132.
[23] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1998), hlm. 236. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar