Rabu, 07 Desember 2016

UPAYA PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR OPERASI PERKALIAN PADA PELAJARAN MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN GARIS



UPAYA PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR OPERASI PERKALIAN PADA PELAJARAN MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN GARIS SISWA KELAS III XXXXXXXXXXX

A.  Latar Belakang Masalah
Mata pelajaran matematika di MI bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah serta menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika. Padahal Peserta didik kelas I, II, dan III merupakan subjek yang perlu mendapatkan perhatian sejak dini. Usia mereka berada pada rentangan usia enam sampai dengan sembilan tahun. Pada fase usia ini hampir seluruh aspek perkembangan kecerdasan, misalnya IQ, EQ, dan SQ sedang bertumbuh dan berkembang. Biasanya tingkat perkembangan pada anak tersebut merupakan suatu kesatuan yang utuh (holistik) dan hanya mampu memahami hubungan antara konsep secara sederhana. Begitu pula dalam proses pembelajaran, umumnya mereka masih bergantung pada objek-objek yang bersifat konkret dan pengalaman yang dialaminya secara langsung (secara empiris).[1]
Dari gambaran pelaksanaan kegiatan di atas, akan muncul suatu permasalahan pada diri siswa apabila tingkat pemahaman siswa terhadap suatu konsep tidak terjadi secara utuh. Materi pelajaran yang disampaikan guru kurang tepat sasaran sehingga tema-tema dalam pembelajaran menjadi terpecah-pecah. Anak belum mampu memilah secara tegas pengetahuan matematika, bahasa, sosial, dan lain-lain. Semua pengetahuan tersebut masih dipahami secara utuh atau global. Ketika mata pelajaran itu disajikan tidak dengan metode yang tepat, anak mengalami kesulitan. Artinya, anak belum mampu berpikir tentang sesuatu konsep tanpa melihat benda konkret. Misalnya, anak akan kesulitan memahami konsep tentang “kuda” tanpa ada benda “kuda” atau “gambar kuda”. Karena itu, kontekstualisasi antara taraf berpikir anak dengan kehidupan anak sehari-hari menjadi sangat penting. Kesulitan peserta didik dalam memahami pelajaran akan kian bertambah jika tema yang diberikan kurang dipahami dengan baik. Secara perlahan mereka akan frustrasi hingga akhirnya ia akan tinggal kelas. Ini disebabkan peserta didik kurang mampu mengikuti proses pembelajaran. Data awal mengansumsikan bahwa angka mengulang dan putus sekolah pada siswa kelas I lebih tinggi dibandingkan dengan kelas yang lain (II, III, IV, V, dan VI).
Matematika merupakan salah satu mata pelajaran pokok, mata pelajaran wajib yang ada di setiap jenjang pendidikan dasar dan menengah. Matematika juga menjadi salah satu dari tiga mata pelajaran yang mulai tahun ajaran 2009/2010 di masukkan dalam UASBN. Sampai sekarang masih ada siswa yang kurang berminat terhadap Matematika dan prestasi belajar Matematikapun belum menunjukkan hasil yang optimal.
Siswa Madrasah Ibtidaiyah mulai mengenal operasi hitung perkalian ketika berada di kelas II. Seharusnya mereka sudah mengetahui konsep dasarnya ketika berada di kelas rendah dan sudah bisa mengaplikasikan konsep tersebut ke dalam materi yang lainnya ketika berada di kelas yang lebih tinggi yaitu kelas III, Kenyataannya siswa kelas III, banyak yang belum hafal perkalian dasar. Untuk mengerjakan perkalian dua angka atau lebih mereka masih kesulitan. Kesulitan itu terlihat pada operasi hitung perkalian ketika tes akhir pembelajaran matematika, untuk materi operasi hitung perkalian di kelas III Xxxxxxxxxxxmenunjukkan hasil yang kurang memuaskan. Oleh sebab itu Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) untuk Standar Kompetensi 1 dan Kompetensi Dasar 3 belum tercapai karena nilai sebagian siswa masih di bawah KKM yaitu di bawah 75.
Masalah yang juga sering muncul adalah siswa dalam kondisi terpaksa harus menelan dan menghafal secara mekanis apa-apa yang telah di sampaikan oleh guru, sehingga menjadikan para siswa tidak memiliki keberanian untuk mengemukakan pendapat, tak kreatif dan mandiri, apalagi untuk berfikir inovatif. Selain itu, pendekatan pembelajaran matematika masih menggunakan pendekatan tradisional, yaitu duduk dengar catat dan hafal. Pembelajaran jadi membosankan, tidak menarik dan hasilnya tidak memuaskan. Waktu untuk mengerjakan soalpun terasa lebih lama, sehingga tidak semua soal dapat terjawab dengan cepat dan benar.
Mata Pelajaran Matematika pada diberikan kepada siswa kelas III Xxxxxxxxxxxsemester satu (I) untuk membekali siswa berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif serta mampu bekerja sama. Kompetensi tersebut diperlukan agar siswa dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif. Untuk menguasai mata pelajaran matematika secara baik, diperlukan pemahaman konsep dan prosedur (algoritma) secara baik pula. Pemahaman konsep matematika tidak lahir dengan sendirinya, tetapi diproses melalui tatanan kehidupan pembelajaran. Tatanan kehidupan pembelajaran di sekolah secara formal yang paling dominan adalah pembelajaran. Berarti, praktik pembelajaran di sekolah idealnya dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa. Akan tetapi, ada sinyalemen bahwa sebagian praktik pembelajaran model pada pelajaran matematika belum secara serius dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip yang sahih untuk memberikan peluang siswa belajar cerdas, kritis, kreatif, dan memecahkan masalah. Sebagian besar praktik pengajaran di sekolah masih menggunakan cara-cara lama yang dikembangkan dengan menggunakan intuisi, atau berdasarkan pengalaman sejawat.
Pembelajaran matematika hendaknya melihat jauh ke depan dan memikirkan apa yang akan dihadapi oleh peserta didik di masa yang akan datang.[2] Pembelajaran matematika tidak hanya bertujuan memberikan materi pelajaran yang hanya untuk dihafal, tetapi lebih menekankan bagaimana mengajak siswa untuk menemukan, membangun pengetahuannya sendiri, dan mendorong siswa untuk berpikir, sehingga siswa dapat mengembangkan kecakapan hidup (life skill) dan siap untuk menyelesaikan, karena matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang dan matematika diskrit. Untuk menguasai dan mencipta teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini.[3]
 Salah satu permasalahan yang umum terjadi pada saat proses pembelajaran di sekolah termasuk pada mata pelajaran matematika adalah kurangnya keterlibatan siswa secara aktif, inisiatif dan kontributif, baik secara intelektual maupun emosional. Pendapat, ide atau pertanyaan yang kritis dalam proses pembelajaran jarang diikuti oleh gagasan lain sebagai respon diri siswa lainnya. Hal tersebut mengakibatkan materi pembelajaran yang disampaikan kurang menarik dan tidak dipahami sebagai suatu tantangan yang dibutuhkan respon. Padahal keberhasilan dalam pembelajaran dapat diperlihatkan dengan perilaku dan sikap siswa atau apa yang diajarkan di sekolah, dan untuk mengajarkan suatu materi pelajaran perlu dikaitkan dengan materi lain yang ada hubungannya dengan materi yang telah dimiliki siswa.
Kasus serupa yang dijumpai pada siswa XxxxxxxxxxxJepara, menurut hasil wawancara dan survey pada saat observasi dengan guru matematika XxxxxxxxxxxJepara, guru mengeluhkan bahwa pemahaman siswa terhadap pelajaran masih rendah dan kurangnya tingkat keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran, sehingga berdampak pada proses pembelajaran dimana banyak siswa yang kurang berprestasi secara aktif dalam proses pembelajaran. Hal ini terbukti dengan hasil tes tentang  perkalian yang peneliti berikan di kelas III  bahwa nilai rata-rata untuk tiap indikator adalah sebagai berikut : 1) aspek pemahaman konsep kriteria ketuntasan minimumnya adalah 65, dari 36 siswa ketuntasan belajar siswa mencapai 32,66%, 2) aspek penalaran dan komunikasi kriteria ketuntasan minimunnya adalah 45, dari 36 siswa ketuntasan belajar siswa mencapai 65, 60%, 3) aspek pemecahan masalah adalah 65, dari 36 siswa ketuntasan belajar minimum adalah 52,89%. Dari ketiga aspek tersebut terlihat bahwa aspek pemahaman konsep yang masih rendah, padahal semakin banyak siswa dapat mencapai tingkat pemahaman dan penguasaan materi, maka semakin tinggi pula keberhasilan dari pengajaran tersebut. Rendahnya pemahaman konsep tersebut juga berdampak pada kurangnya prestasi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran berlangsung.
Disamping data di atas hasil observasi yang dilakukan pada Xxxxxxxxxxxpada pembelajaran matematika menemukan keragaman masalah dan perilaku siswa sebagai berikut : 1) Tidak mau bertanya padahal dirinya belum jelas tentang materi yang telah diajarkan, 2) Tidak mau ditunjuk untuk mengerjakan soal di depan kelas, karena takut salah, 3) Siswa mudah putus asa pada waktu menyelesaikan soal yang dianggap sulit, 4) Siswa masih memilih belajar dengan cara menghafal rumus dan jawaban contoh soal yang pernah diajarkan oleh guru, 5) Sering terjadi penolakan jika diberi tugas atau pekerjaan rumah karena menganggap dirinya tidak bisa mengerjakan secara individu, 6) Siswa sering mengalami kesulitan ketika diberikan soal yang berbeda dengan soal yang pernah diberikan saat pembelajaran, dari alasan ini terlihat pemahaman konsep yang masih lemah yang berakibat turunnya hasil belajar siswa. Selain dari kondisi siswa yang tersebut di atas prestasi belajar yang diraih siswa kelas IV pada aspek kemampuan pemahaman konsep dari 40 siswa hanya sekitar 20 siswa yang nilainya di atas kriteria ketuntasan minimum (KKM) sehingga ketuntasan belajarnya hanya 52, 66%, sedangkan target ketuntasan belajar sebesar 63%.
 Berdasarkan observasi di atas terlihat siswa masih kurang berpartisipasi dalam mengikuti pembelajaran matematika. Hal ini dikarenakan ada beberapa hal yang bertolak belakang dengan ciri-ciri partisipasi siswa, untuk meningkatkan keaktifan siswa guna mencapai peningkatan hasil belajar perlu dilakukan dengan proses pembelajaran dengan menggunakan metode memberikan ruang siswa untuk aktif dalam belajar salah satunya dengan menerapkan metode menggunakan garis vertikal dan horizontal. Metode garis vertikal dan horizontal mudah sekali untuk diterapkan untuk kelas rendah, karena tidak membutuhkan memori bagi siswa yang harus menghafal perkalian 1 s/d 5. Namun jika cara ini sering diterapkan, mudah-mudahan siswa akan merasa senang dan otomatis akan menghafal perkalian-perkalian tersebut.[4]
Berdasarkan latar belakang di atas peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian lebih jauh tentang Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Operasi Perkalian Pada Pelajaran Matematika Dengan Menggunakan Garis Siswa Kelas III Xxxxxxxxxxx.
B.  Rumusan Masalah
Berangkat dari apa yang telah diungkapkan di atas peneliti merumuskan beberapa permasalahan yaitu:
1.    Bagaimanakah penerapan metode garis pada pembelajaran matematika materi Operasi Perkalian di kelas III Xxxxxxxxxxx?
2.    Adakah peningkatan hasil belajar siswa di kelas III Xxxxxxxxxxxpada mata pelajaran matematika materi Operasi Perkalian menggunakan metode garis?
C. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai untuk mengetahui:
a.    Untuk mengetahui penerapan metode garis pada pembelajaran matematika materi Operasi Perkalian di kelas III Xxxxxxxxxxx.
b.    Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa di kelas III Xxxxxxxxxxxpada mata pelajaran matematika materi Operasi Perkalian menggunakan metode garis.
2.    Manfaat Penelitian
Penelitian tindakan kelas yang penulis lakukan ini, diharapkan dapat bermanfaat bagi penulis dan pihak-pihak yang terkait. Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:
a.    Secara teoritis
Dapat memberikan masukan dan informasi secara teori tentang metode garis pada pembelajaran matematika di tingkat dasar.
b. Secara praktis
1)   Bagi Guru Sebagai bahan dan masukan serta informasi bagi guru dalam mengembangkan siswanya terutama dalam hal proses pembelajaran matematika, khususnya peningkatan hasil belajar.
2)   Bagi siswa Diharapkan para siswa dapat terjadi peningkatan hasil belajar pada pembelajaran matematika
3)   Bagi Peneliti Dapat menambah pengalaman dan pengetahuan baru khususnya proses pelaksanaan metode garis pada mata pelajaran matematika.
D.. Kerangka Teoritik
1.    Pengertian Peningkatan
Kata peningkatan atau meningkatkan merupakan kegiatan peneliti membangun atau mengusahakan tercapainya suatu kemampuan yang lebih baik dari sebelumnya. Peneliti berupaya meningkatkan kemampuan peserta didik dalam melakukan operasi perkalian melalui metode garis. Sehubungan dengan hal tersebut maka dalam penelitian ini, peneliti mengadakan kegiatan pembelajaran dengan disertai pemberian bimbingan secara langsung terhadap peserta didik, dalam bentuk petunjuk, nasihat, ajakan, perintah, pemberian contoh atau latihan, agar peserta didik benar-benar belajar sehingga tercapai prestasi belajar yang optimal.[5]
2.    Pengertian Prestasi Belajar
Kata “prestasi” berasal dari bahasa Belanda yaitu prestatie kemudian dalam Bahasa Indonesia menjadi “prestasi” yaitu yang berarti “hasil usaha”.[6] Sedangkan belajar berarti berusaha supaya mendapat suatu kepandaian.[7]
Prestasi belajar atau hasil belajar merupakan perubahan tingkah laku seseorang melalui proses belajar, sedangkan perubahan tersebut harus dapat digunakan untuk meningkatkan penampilan diri dalam kehidupan.[8] Tohirin menyatakan bahwa prestasi belajar adalah apa yang telah dicapai oleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar. Ada juga yang menyebut prestasi belajar dengan istilah hasil belajar.[9]
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang dicapai oleh siswa berdasarkan pengalaman dan latihan dalam beberapa mata pelajaran yang diwujudkan dalam nilai raport.
3.    Metode Garis
Banyak orang memandang matematika sebagai bidang studi yang paling sulit. Meskipun demikian, semua orang harus mempelajarinya karena merupakan suatu sarana untuk memecahkan masalah kehidupan sehari-hari. seperti halnya bahasa, membaca, dan menulis, kesulitan belajar matematika harus diatasi sedini mungkin. Kalau tidak, siswa akan menghadapi banyak masalah karena hampir semua bidang studi memerlukan pengetahuan matematika.
Ternyata menghapalkan perkalian dengan model manual memang tidak efektif. Ada alternatif lain yang lebih mudah kita terapkan untuk mengenalkan perkalian pada anak-anak, yaitu perkalian dengan menggunakan garis vertikal dan horizontal untuk kelas rendah berkisar pada angka 1 s/d 5.[10]
Materi perkalian telah diajarkan pada kelas 3 MI, meskipun masih dalam tingkat penanaman konsep. Mengajarkan perkalian kepada anak tingkat dasar semestinya memperhatikan perkembangan anak, mengingat pada saat kelas 1, mereka masih terbiasa dengan penjumlahan dan pengurangan. Perkalian merupakan penjumlahan yang berulang.
Misalnya saja 2 x 3 berarti 2 + 2 + 2 = 6 atau 4 x 2 berarti 4 + 4 = 8 dan seterusnya. Tetapi mengajarkan perkalian bagi anak yang mengalami kesulitan dalam penjumlahan berulang? Berikut cara mudah dan sederhana mengajarkan perkalian dengan menggunakan metode garis/coretan. Meskipun metode ini lebih tepat untuk bilangan-bilangan rendah yang tidak banyak menggunakan garis-garis, namun dapat menjadi pilihan dalam memotivasi anak untuk belajar sambil berkreasi dan yang pasti menyenangkan.
Contoh, 3 x 5 = ....
Caranya: Buatlah 3 garis membujur (vertikal) dan 5 garis mendatar (garis horizontal), kemudian hitunglah titik-titik pertemuan mendatar dan membujur (titik warna merah), ternyata jumlah titik pertemuan garis ada 15 titik. maka hasil dari 3 x 5 = 15.


 







4.    Pembelajaran Matematika
a.    Pengertian Matematika
Matematika sebagai salah satu sumber ilmu dasar yang saat ini telah berkembang amat pesat baik materi maupun kegunaan.[11] Kemudian Depdikbud memperbaharui matematika sebagai berikut : Matematika merupakan suatu bahan kajian yang memiliki objek abstrak dan dibangun melalui proses penalaran obyektif, yaitu kebenaran suatu konsep diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya sudah diterima, sehingga keterkaitan antar konsep dalam matematika sangat kuat dan jelas.[12]
 Dalam hal ini yang dimaksud dengan matematika di sekolah dasar adalah matematika yang diajarkan di pendidikan dasar dan pendiidkan menengah. Matematika sekolah dasar tersebut menumbuhkembangkan kemapuan-kemampuan dan membentuk pribadi peserta didik serta terpadu pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Berarti matematika sekolah dasart tidak dapat dipisahkan sama sekali dari cicri-ciri yang dimiliki matematika secara umum.
Secara etimologi, istilah matematika (mathematics = inggris) berasal dari bahasa Latin yaitu mathematica, yang mulanya dari bahasa Yunani yaitu mathematike yang berarti relating to learning. Perkataan itu mempunyai akar kata mathema yang berarti pengetahuan atau ilmu. Kata mathematike berhubungan erat dengan kata lain yang serupa yaitu mathanein yang berarti belajar (berfikir). Jadi matematika adalah ilmu yang diperoleh dengan bernalar.[13]
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa matematika memiliki ciri-ciri penting yaitu (1) memiliki kajian yang abstrak, (2) berpola kritis deduktif dan konsisten, (3) berkaitan antar konsep dalam matematia bersifat sangan kuat dan jelas.


[1] Joula Ekaningsih Paimin, Agar Anak Pintar Matematika, (Jakarta: Puspa Swara, 2008), hlm. 49
[2] Trianto, Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstrutivistik, (Jakarta: Prestasi Pustaka, 2007), hlm. 1
[3] Mendiknas RI, 2006, Permendiknas RI No. 22 Tahun 2006, (Jakarta: CV Mini Jaya Abadi), hlm. 416
[4] zhoney.blogspot.com/2010/09/tips-perkalian-dengan-menggunakan-garis.html
[5] sutiyonokudus.files.wordpress.com
[6] Zaenal Arifin, Evaluasi Instruksional Prinsip Teknik Prosedur, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001), hlm. 3
[7] Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1985), hlm. 108
[8] Nana Sudjana, Penilaian Hasil Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000), hlm. 102
[9] Thohirin, Psikologi Pembelajaran PAI, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), hlm. 151
[10] zhoney.blogspot.com/2010/09/tips-perkalian-dengan-menggunakan-garis.html
[11] Depdikanas, Kurikulum 2004 Standart Kompetensi Matematika Seakolah dasar, (Jakarta:  Depdiknas, 2003), hlm.110
[12] Ibid, hlm.1
[13] Mutadi, Pendekatan Efektif dalam Pembelajaran Matematika, (Jakarta: Pusdiklat Tenaga Teknis Keagamaan Depag Bekerjasama dengan Ditbina Widyaiswara LAN-RI, 2007) hlm. 14.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar