UPAYA PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR OPERASI PERKALIAN PADA PELAJARAN
MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN GARIS SISWA KELAS III XXXXXXXXXXX
A. Latar Belakang Masalah
Mata pelajaran matematika di MI bertujuan agar peserta didik
memiliki kemampuan Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep
dan mengaplikasikan konsep secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam
pemecahan masalah serta menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan
manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau
menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika. Padahal Peserta didik kelas I,
II, dan III merupakan subjek yang perlu mendapatkan perhatian sejak dini. Usia
mereka berada pada rentangan usia enam sampai dengan sembilan tahun. Pada fase
usia ini hampir seluruh aspek perkembangan kecerdasan, misalnya IQ, EQ, dan SQ
sedang bertumbuh dan berkembang. Biasanya tingkat perkembangan pada anak
tersebut merupakan suatu kesatuan yang utuh (holistik) dan hanya mampu memahami
hubungan antara konsep secara sederhana. Begitu pula dalam proses pembelajaran,
umumnya mereka masih bergantung pada objek-objek yang bersifat konkret dan
pengalaman yang dialaminya secara langsung (secara empiris).[1]
Dari gambaran pelaksanaan kegiatan
di atas, akan muncul suatu permasalahan pada diri siswa apabila tingkat
pemahaman siswa terhadap suatu konsep tidak terjadi secara utuh. Materi
pelajaran yang disampaikan guru kurang tepat sasaran sehingga tema-tema dalam
pembelajaran menjadi terpecah-pecah. Anak belum mampu memilah secara tegas
pengetahuan matematika, bahasa, sosial, dan lain-lain. Semua pengetahuan
tersebut masih dipahami secara utuh atau global. Ketika mata pelajaran itu
disajikan tidak dengan metode yang tepat, anak mengalami kesulitan. Artinya,
anak belum mampu berpikir tentang sesuatu konsep tanpa melihat benda konkret.
Misalnya, anak akan kesulitan memahami konsep tentang “kuda” tanpa ada benda
“kuda” atau “gambar kuda”. Karena itu, kontekstualisasi antara taraf berpikir
anak dengan kehidupan anak sehari-hari menjadi sangat penting. Kesulitan
peserta didik dalam memahami pelajaran akan kian bertambah jika tema yang
diberikan kurang dipahami dengan baik. Secara perlahan mereka akan frustrasi
hingga akhirnya ia akan tinggal kelas. Ini disebabkan peserta didik kurang
mampu mengikuti proses pembelajaran. Data awal mengansumsikan bahwa angka
mengulang dan putus sekolah pada siswa kelas I lebih tinggi dibandingkan dengan
kelas yang lain (II, III, IV, V, dan VI).
Matematika merupakan salah satu mata
pelajaran pokok, mata pelajaran wajib yang ada di setiap jenjang pendidikan
dasar dan menengah. Matematika juga menjadi salah satu dari tiga mata pelajaran
yang mulai tahun ajaran 2009/2010 di masukkan dalam UASBN. Sampai sekarang
masih ada siswa yang kurang berminat terhadap Matematika dan prestasi belajar
Matematikapun belum menunjukkan hasil yang optimal.
Siswa Madrasah Ibtidaiyah mulai
mengenal operasi hitung perkalian ketika berada di kelas II. Seharusnya mereka
sudah mengetahui konsep dasarnya ketika berada di kelas rendah dan sudah bisa
mengaplikasikan konsep tersebut ke dalam materi yang lainnya ketika berada di
kelas yang lebih tinggi yaitu kelas III, Kenyataannya siswa kelas III, banyak
yang belum hafal perkalian dasar. Untuk mengerjakan perkalian dua angka atau
lebih mereka masih kesulitan. Kesulitan itu terlihat pada operasi hitung
perkalian ketika tes akhir pembelajaran matematika, untuk materi operasi hitung
perkalian di kelas III Xxxxxxxxxxxmenunjukkan hasil yang kurang memuaskan. Oleh
sebab itu Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) untuk Standar Kompetensi 1 dan
Kompetensi Dasar 3 belum tercapai karena nilai sebagian siswa masih di bawah
KKM yaitu di bawah 75.
Masalah yang juga sering muncul
adalah siswa dalam kondisi terpaksa harus menelan dan menghafal secara mekanis
apa-apa yang telah di sampaikan oleh guru, sehingga menjadikan para siswa tidak
memiliki keberanian untuk mengemukakan pendapat, tak kreatif dan mandiri,
apalagi untuk berfikir inovatif. Selain itu, pendekatan pembelajaran matematika
masih menggunakan pendekatan tradisional, yaitu duduk dengar catat dan hafal.
Pembelajaran jadi membosankan, tidak menarik dan hasilnya tidak memuaskan.
Waktu untuk mengerjakan soalpun terasa lebih lama, sehingga tidak semua soal
dapat terjawab dengan cepat dan benar.
Mata Pelajaran Matematika pada
diberikan kepada siswa kelas III Xxxxxxxxxxxsemester satu (I) untuk membekali
siswa berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif serta mampu
bekerja sama. Kompetensi tersebut diperlukan agar siswa dapat memiliki
kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan
hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif. Untuk
menguasai mata pelajaran matematika secara baik, diperlukan pemahaman konsep
dan prosedur (algoritma) secara baik pula. Pemahaman konsep matematika tidak
lahir dengan sendirinya, tetapi diproses melalui tatanan kehidupan
pembelajaran. Tatanan kehidupan pembelajaran di sekolah secara formal yang
paling dominan adalah pembelajaran. Berarti, praktik pembelajaran di sekolah
idealnya dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa. Akan tetapi, ada sinyalemen
bahwa sebagian praktik pembelajaran model pada pelajaran matematika belum
secara serius dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip yang sahih untuk
memberikan peluang siswa belajar cerdas, kritis, kreatif, dan memecahkan
masalah. Sebagian besar praktik pengajaran di sekolah masih menggunakan
cara-cara lama yang dikembangkan dengan menggunakan intuisi, atau berdasarkan
pengalaman sejawat.
Pembelajaran matematika hendaknya
melihat jauh ke depan dan memikirkan apa yang akan dihadapi oleh peserta didik
di masa yang akan datang.[2]
Pembelajaran matematika tidak hanya bertujuan memberikan materi pelajaran yang
hanya untuk dihafal, tetapi lebih menekankan bagaimana mengajak siswa untuk
menemukan, membangun pengetahuannya sendiri, dan mendorong siswa untuk
berpikir, sehingga siswa dapat mengembangkan kecakapan hidup (life skill) dan
siap untuk menyelesaikan, karena matematika merupakan ilmu universal yang
mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai
disiplin dan memajukan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang
teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan
matematika di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang dan
matematika diskrit. Untuk menguasai dan mencipta teknologi di masa depan
diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini.[3]
Salah satu permasalahan yang umum terjadi pada
saat proses pembelajaran di sekolah termasuk pada mata pelajaran matematika
adalah kurangnya keterlibatan siswa secara aktif, inisiatif dan kontributif,
baik secara intelektual maupun emosional. Pendapat, ide atau pertanyaan yang
kritis dalam proses pembelajaran jarang diikuti oleh gagasan lain sebagai
respon diri siswa lainnya. Hal tersebut mengakibatkan materi pembelajaran yang
disampaikan kurang menarik dan tidak dipahami sebagai suatu tantangan yang
dibutuhkan respon. Padahal keberhasilan dalam pembelajaran dapat diperlihatkan
dengan perilaku dan sikap siswa atau apa yang diajarkan di sekolah, dan untuk
mengajarkan suatu materi pelajaran perlu dikaitkan dengan materi lain yang ada
hubungannya dengan materi yang telah dimiliki siswa.
Kasus serupa yang dijumpai pada
siswa XxxxxxxxxxxJepara, menurut hasil wawancara dan survey pada saat observasi
dengan guru matematika XxxxxxxxxxxJepara, guru mengeluhkan bahwa pemahaman
siswa terhadap pelajaran masih rendah dan kurangnya tingkat keterlibatan siswa
dalam proses pembelajaran, sehingga berdampak pada proses pembelajaran dimana
banyak siswa yang kurang berprestasi secara aktif dalam proses pembelajaran.
Hal ini terbukti dengan hasil tes tentang
perkalian yang peneliti berikan di kelas III bahwa nilai rata-rata untuk tiap indikator
adalah sebagai berikut : 1) aspek pemahaman konsep kriteria ketuntasan
minimumnya adalah 65, dari 36 siswa ketuntasan belajar siswa mencapai 32,66%,
2) aspek penalaran dan komunikasi kriteria ketuntasan minimunnya adalah 45,
dari 36 siswa ketuntasan belajar siswa mencapai 65, 60%, 3) aspek pemecahan
masalah adalah 65, dari 36 siswa ketuntasan belajar minimum adalah 52,89%. Dari
ketiga aspek tersebut terlihat bahwa aspek pemahaman konsep yang masih rendah,
padahal semakin banyak siswa dapat mencapai tingkat pemahaman dan penguasaan
materi, maka semakin tinggi pula keberhasilan dari pengajaran tersebut.
Rendahnya pemahaman konsep tersebut juga berdampak pada kurangnya prestasi
siswa dalam mengikuti proses pembelajaran berlangsung.
Disamping data di atas hasil
observasi yang dilakukan pada Xxxxxxxxxxxpada pembelajaran matematika menemukan
keragaman masalah dan perilaku siswa sebagai berikut : 1) Tidak mau bertanya
padahal dirinya belum jelas tentang materi yang telah diajarkan, 2) Tidak mau
ditunjuk untuk mengerjakan soal di depan kelas, karena takut salah, 3) Siswa
mudah putus asa pada waktu menyelesaikan soal yang dianggap sulit, 4) Siswa
masih memilih belajar dengan cara menghafal rumus dan jawaban contoh soal yang
pernah diajarkan oleh guru, 5) Sering terjadi penolakan jika diberi tugas atau
pekerjaan rumah karena menganggap dirinya tidak bisa mengerjakan secara
individu, 6) Siswa sering mengalami kesulitan ketika diberikan soal yang berbeda
dengan soal yang pernah diberikan saat pembelajaran, dari alasan ini terlihat
pemahaman konsep yang masih lemah yang berakibat turunnya hasil belajar siswa.
Selain dari kondisi siswa yang tersebut di atas prestasi belajar yang diraih
siswa kelas IV pada aspek kemampuan pemahaman konsep dari 40 siswa hanya
sekitar 20 siswa yang nilainya di atas kriteria ketuntasan minimum (KKM)
sehingga ketuntasan belajarnya hanya 52, 66%, sedangkan target ketuntasan
belajar sebesar 63%.
Berdasarkan observasi di atas terlihat siswa
masih kurang berpartisipasi dalam mengikuti pembelajaran matematika. Hal ini
dikarenakan ada beberapa hal yang bertolak belakang dengan ciri-ciri
partisipasi siswa, untuk meningkatkan keaktifan siswa guna mencapai peningkatan
hasil belajar perlu dilakukan dengan proses pembelajaran dengan menggunakan
metode memberikan ruang siswa untuk aktif dalam belajar salah satunya dengan
menerapkan metode menggunakan garis vertikal dan horizontal. Metode garis
vertikal dan horizontal mudah sekali untuk diterapkan untuk kelas rendah,
karena tidak membutuhkan memori bagi siswa yang harus menghafal perkalian 1 s/d
5. Namun jika cara ini sering diterapkan, mudah-mudahan siswa akan merasa
senang dan otomatis akan menghafal perkalian-perkalian tersebut.[4]
Berdasarkan latar belakang di atas
peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian lebih jauh tentang Upaya
Peningkatan Prestasi Belajar Operasi Perkalian Pada Pelajaran Matematika Dengan
Menggunakan Garis Siswa Kelas III Xxxxxxxxxxx.
B. Rumusan
Masalah
Berangkat
dari apa yang telah diungkapkan di atas peneliti merumuskan beberapa
permasalahan yaitu:
1. Bagaimanakah
penerapan metode garis pada pembelajaran matematika materi Operasi Perkalian di
kelas III Xxxxxxxxxxx?
2. Adakah
peningkatan hasil belajar siswa di kelas III Xxxxxxxxxxxpada mata pelajaran
matematika materi Operasi Perkalian menggunakan metode garis?
C.
Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian Tujuan yang
ingin dicapai untuk mengetahui:
a. Untuk
mengetahui penerapan metode garis pada pembelajaran matematika materi Operasi
Perkalian di kelas III Xxxxxxxxxxx.
b. Untuk
mengetahui peningkatan hasil belajar siswa di kelas III Xxxxxxxxxxxpada mata
pelajaran matematika materi Operasi Perkalian menggunakan metode garis.
2. Manfaat
Penelitian
Penelitian tindakan kelas yang penulis lakukan ini,
diharapkan dapat bermanfaat bagi penulis dan pihak-pihak yang terkait. Adapun
manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Secara
teoritis
Dapat memberikan masukan dan
informasi secara teori tentang metode garis pada pembelajaran matematika di
tingkat dasar.
b. Secara praktis
1) Bagi
Guru Sebagai bahan dan masukan serta informasi bagi guru dalam mengembangkan
siswanya terutama dalam hal proses pembelajaran matematika, khususnya
peningkatan hasil belajar.
2) Bagi
siswa Diharapkan para siswa dapat terjadi peningkatan hasil belajar pada
pembelajaran matematika
3) Bagi
Peneliti Dapat menambah pengalaman dan pengetahuan baru khususnya proses
pelaksanaan metode garis pada mata pelajaran matematika.
D.. Kerangka Teoritik
1.
Pengertian Peningkatan
Kata peningkatan
atau meningkatkan merupakan kegiatan peneliti membangun atau mengusahakan
tercapainya suatu kemampuan yang lebih baik dari sebelumnya. Peneliti berupaya
meningkatkan kemampuan peserta didik dalam melakukan operasi perkalian melalui
metode garis. Sehubungan dengan hal tersebut maka dalam penelitian ini,
peneliti mengadakan kegiatan pembelajaran dengan disertai pemberian bimbingan
secara langsung terhadap peserta didik, dalam bentuk petunjuk, nasihat, ajakan,
perintah, pemberian contoh atau latihan, agar peserta didik benar-benar belajar
sehingga tercapai prestasi belajar yang optimal.[5]
2.
Pengertian Prestasi Belajar
Kata “prestasi” berasal dari
bahasa Belanda yaitu prestatie kemudian dalam Bahasa Indonesia menjadi
“prestasi” yaitu yang berarti “hasil usaha”.[6] Sedangkan belajar berarti berusaha supaya mendapat
suatu kepandaian.[7]
Prestasi belajar atau hasil
belajar merupakan perubahan tingkah laku seseorang melalui proses belajar,
sedangkan perubahan tersebut harus dapat digunakan untuk meningkatkan
penampilan diri dalam kehidupan.[8] Tohirin menyatakan bahwa prestasi belajar adalah apa
yang telah dicapai oleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar. Ada juga yang
menyebut prestasi belajar dengan istilah hasil belajar.[9]
Berdasarkan beberapa pendapat
tersebut dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang dicapai
oleh siswa berdasarkan pengalaman dan latihan dalam beberapa mata pelajaran
yang diwujudkan dalam nilai raport.
3.
Metode Garis
Banyak orang memandang matematika sebagai
bidang studi yang paling sulit. Meskipun demikian, semua orang harus
mempelajarinya karena merupakan suatu sarana untuk memecahkan masalah kehidupan
sehari-hari. seperti halnya bahasa, membaca, dan menulis, kesulitan belajar matematika
harus diatasi sedini mungkin. Kalau tidak, siswa akan menghadapi banyak masalah
karena hampir semua bidang studi memerlukan pengetahuan matematika.
Ternyata menghapalkan perkalian dengan
model manual memang tidak efektif. Ada alternatif lain yang lebih mudah kita
terapkan untuk mengenalkan perkalian pada anak-anak, yaitu perkalian dengan
menggunakan garis vertikal dan horizontal untuk kelas rendah berkisar pada
angka 1 s/d 5.[10]
Materi perkalian telah diajarkan pada
kelas 3 MI, meskipun masih dalam tingkat penanaman konsep. Mengajarkan
perkalian kepada anak tingkat dasar semestinya memperhatikan perkembangan anak,
mengingat pada saat kelas 1, mereka masih terbiasa dengan penjumlahan dan
pengurangan. Perkalian merupakan penjumlahan yang berulang.
Misalnya saja 2 x 3 berarti 2 + 2 + 2 = 6
atau 4 x 2 berarti 4 + 4 = 8 dan seterusnya. Tetapi mengajarkan perkalian bagi
anak yang mengalami kesulitan dalam penjumlahan berulang? Berikut cara mudah
dan sederhana mengajarkan perkalian dengan menggunakan metode garis/coretan.
Meskipun metode ini lebih tepat untuk bilangan-bilangan rendah yang tidak
banyak menggunakan garis-garis, namun dapat menjadi pilihan dalam memotivasi
anak untuk belajar sambil berkreasi dan yang pasti menyenangkan.
Contoh, 3 x 5 =
....
Caranya: Buatlah 3 garis membujur
(vertikal) dan 5 garis mendatar (garis horizontal), kemudian hitunglah
titik-titik pertemuan mendatar dan membujur (titik warna merah), ternyata
jumlah titik pertemuan garis ada 15 titik. maka hasil dari 3 x 5 = 15.
![]() |
4.
Pembelajaran Matematika
a. Pengertian
Matematika
Matematika sebagai salah satu sumber
ilmu dasar yang saat ini telah berkembang amat pesat baik materi maupun
kegunaan.[11]
Kemudian Depdikbud memperbaharui matematika sebagai berikut : Matematika
merupakan suatu bahan kajian yang memiliki objek abstrak dan dibangun melalui
proses penalaran obyektif, yaitu kebenaran suatu konsep diperoleh sebagai
akibat logis dari kebenaran sebelumnya sudah diterima, sehingga keterkaitan
antar konsep dalam matematika sangat kuat dan jelas.[12]
Dalam hal ini yang dimaksud
dengan matematika di sekolah dasar adalah matematika yang diajarkan di
pendidikan dasar dan pendiidkan menengah. Matematika sekolah dasar tersebut
menumbuhkembangkan kemapuan-kemampuan dan membentuk pribadi peserta didik serta
terpadu pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Berarti matematika sekolah dasart
tidak dapat dipisahkan sama sekali dari cicri-ciri yang dimiliki matematika secara
umum.
Secara etimologi, istilah matematika
(mathematics = inggris) berasal dari bahasa Latin yaitu mathematica, yang
mulanya dari bahasa Yunani yaitu mathematike yang berarti relating to learning.
Perkataan itu mempunyai akar kata mathema yang berarti pengetahuan atau ilmu.
Kata mathematike berhubungan erat dengan kata lain yang serupa yaitu mathanein
yang berarti belajar (berfikir). Jadi matematika adalah ilmu yang diperoleh
dengan bernalar.[13]
Berdasarkan uraian diatas, maka
dapat disimpulkan bahwa matematika memiliki ciri-ciri penting yaitu (1)
memiliki kajian yang abstrak, (2) berpola kritis deduktif dan konsisten, (3)
berkaitan antar konsep dalam matematia bersifat sangan kuat dan jelas.
[1] Joula
Ekaningsih Paimin, Agar Anak Pintar Matematika, (Jakarta: Puspa Swara, 2008),
hlm. 49
[2] Trianto, Model-Model
Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstrutivistik, (Jakarta: Prestasi
Pustaka, 2007), hlm. 1
[3] Mendiknas RI,
2006, Permendiknas RI No. 22 Tahun 2006, (Jakarta: CV Mini Jaya Abadi),
hlm. 416
[4]
zhoney.blogspot.com/2010/09/tips-perkalian-dengan-menggunakan-garis.html
[5]
sutiyonokudus.files.wordpress.com
[6] Zaenal Arifin,
Evaluasi Instruksional Prinsip Teknik Prosedur, (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2001), hlm. 3
[7]
Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka,
1985), hlm. 108
[8] Nana Sudjana, Penilaian
Hasil Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000), hlm. 102
[9] Thohirin, Psikologi
Pembelajaran PAI, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), hlm. 151
[10]
zhoney.blogspot.com/2010/09/tips-perkalian-dengan-menggunakan-garis.html
[11] Depdikanas,
Kurikulum 2004 Standart Kompetensi Matematika Seakolah dasar, (Jakarta: Depdiknas, 2003), hlm.110
[12] Ibid,
hlm.1
[13] Mutadi, Pendekatan
Efektif dalam Pembelajaran Matematika, (Jakarta: Pusdiklat Tenaga Teknis
Keagamaan Depag Bekerjasama dengan Ditbina Widyaiswara LAN-RI, 2007) hlm. 14.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar