Selasa, 06 Desember 2016

PTK PERANAN GURU DALAM PENGEMBANGAN SENI



I.            PERANAN GURU DALAM PENGEMBANGAN SENI MELALUI PERMAINAN ALAT MUSIK PERKUSI ANAK USIA DINI DI XXXXXXXXXXXX
II.         PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang Masalah
Pendidikan Taman kanak-kanak merupakan salah satu bentuk pendidikan pra sekolah yang terdapat di jalur pendidikan sekolah (PP No. 27 Tahun 1990). Sebagai lembaga pendidikan pra-sekolah, tugas utama Taman Kanak-kanak adalah mempersiapkan anak dengan memperkenalkan berbagai pengetahuan, sikap perilaku, keterampilan dan intelektual agar dapat melakukan adaptasi dengan kegiatan belajar yang sesungguhnya di Sekolah Dasar.
Masitoh (2005 : 1) mengungkapkan bahwa Pendidikan di Taman Kanak-kanak merupakan salah satu bentuk pendidikan anak usia dini yang memiliki peranan sangat penting untuk mengembangkan kepribadian anak serta mempersiapkan mereka memasuki jenjang pendidikan selanjutnya. Pendidikan di Taman Kanak-Kanak merupakan jembatan antara lingkungan keluarga dengan masyarakat yang lebih luas yaitu Sekolah Dasar dan lingkungan lainnya. Sebagai salah satu bentuk pendidikan anak usia dini, lembaga ini menyediakan program pendidikan dini bagi sekurang-kurangnya anak usia empat tahun sampai memasuki jenjang pendidikan dasar.


Masa perkembangan Anak Usia Dini adalah masa yang paling tepat untuk mengembangkan semua potensi yang dimiliki anak. Salah satu potensi yang perlu dikembangkan adalah tentang wawasan dan rasa seni anak.Kesenian merupakan salah satu potensi dasar anak sebagai bentuk dari kecerdasan jamak.Melalui pengembangan potensi anak berarti juga mengembangkan kecerdasannya.Jika potensi ini tidak dikembangkan sejak dini, maka masa emas pengembangan potensi tersebut akan terlewat begitu saja, meskipun dapat dikembangkan pada tahun-tahun sesudahnya, namun hasil yang dicapai tidak akan seoptimal apabila dikembangkan pada masa emasnya. Oleh karena itu, para pendidik anak usia dini berperan sebagai fasilitator dalam pengembangan potensi seni tersebut.Membekali diri dengan menambah wawasan tentang seni pada anak, pendidik diharapkan dapat menjalankan peran dengan baik. Tanpa bekal cukup, pendidik anak usia dini tidak akan dapat mengembangkan potensi seni anak dengan optimal.Oleh karena itu, seni keterampilan anak merupakan rancangan untuk membekali Anak Usia Dini dengan materi berbagai keterampilan berkarya seni yang harus dikuasai oleh pendidik anak usia dini.Setelah melakukan penelitian diharapkan anak usia dini dapat mengembangkan kemampuan diri sendiri dalam berkarya seni  dan dapat membimbing anak usia dini mengembangkan kemampuan  berkarya seni.
Belajar seni merupakan sebuah kegiatan yang dapat memberikan banyak kegunaan untuk menyeimbangkan pengembangan kreativitas anak melalui kegiatan seni yaitu seni tari,seni musik, seni rupa,dan seni teater. Kinerja otak  pada dasarnya, keseluruhan pembelajaran seni (tari,musik,rupa,teater) memberikan kontribusi yang cukup baik bagi perkembangan peserta didik layaknya pemberian pengembangan bidang studi akademis yang lain. Meskipun demikian terkadang apabila melihat dibeberapa sekolah, masih ada yang mengesampingkan pembelajaran seni bahkan tidak mempelajarinya sama sekali, sehingga tidak menutup kemungkinan untuk anak-anak bahkan orang dewasa mencoba menggali kemampuan seni mereka diluar kegiatan sekolah. Seiring dengan perkembangan zaman pada saat ini pembelajaran seni (tari,musik,rupa,teater) telah menjadi program pendidikan umum di sekolah. Mulai dari tingkat Pendidikan Anak Usia Dini sampai sekolah menengah keatas. Dengan adanya pembelajaran seni tersebut diharapkan dapat melatih dan mengoptimalkan kemampuan motorik, kognitif, bahasa, sosial, emosional serta kemandirian pada anak. Terlebih apabila pembelajaran seni yang diterapkan pada Anak Usia Dini,yang salah satunya adalah belajar seni musik melalui permainan alat perkusi. Hal tersebut oleh pandangan Khoiriah (2010:1) yang dikemukakan sebagai berikut bahwa:  ….Melalui berkarya seni, siswa dapat mengungkapkan gagasan,perasaan,nilai dan imajinasi yang melibatkan pertumbuhan pribadinya. Khususnya bagi Anak Usia Dini (0-8 tahun) atau yang dikenal dengan masa keemasan (the golden age).
Salah satu Taman kanak-kanak unggul yang mengacu terhadap pentingnya pandangan diatas, yaitu berkenaan dengan konsep pembelajaran kesenian khususnya seni melalui permainan alat musik perkusi guna mengoptimalkan kemampuan anak usia dini adalah Taman kanak-kanak (TK) TERPADU kota Jepara. TK TERPADU yang merupakan Taman kanak-kanak yang terakreditasi A dan menyandang status TK percontohan Se-kabupaten dan kota Jepara ini memiliki banyak kemajuan dalam prestasi diberbagai bidang yang telah diakui oleh kota Jepara. Hal tersebut disebabkan,TK Terpadu merupakan Taman kanak-kanak yang berusaha ‘’mencetak ‘’anak-anak didiknya yang selalu aktif dalam berbagai kegiatan, baik yang berhubungan dengan kreativitas maupun kesenian.Tentunya kemajuan itupun tidak lepas dari kerja keras dan dedikasi maksimal guru-guru sekolah tersebut.
Berdasarkan permasalahan yang terjadi di Xxxxxxxxxxxx dan pendapat-pendapat yang telah dikemukakan di atas, penulis tertarik untuk meneliti secara langsung pengembangan seni melalui alat musik perkusi di Xxxxxxxxxxxx. Penulis menggunakan metode penelitian tindakan kelas  dengan judul “Peranan Guru Dalam Pengembangan Seni Melalui Permainan Alat Musik Perkusi Di Xxxxxxxxxxxx.
  Pendidikan Anak Usia Dini (studi Deskriptif Analitik Terhadap Karateristik Seni Siswa Kelompok A dan B di Xxxxxxxxxxxx).Diharapkan dengan penelitian tersebut dapat lebih jauh wawasan mengenai potensi dari setiap anak usia dini dalam berkreasi dan berekspresi melalui wujud penelitian yang saya lakukan.
B.       Rumusan Masalah.
Permasalaan utama dalam penelitian ini difokuskan kepada “ bagaimana kegiatan bermain alat musik perkusi dapat meningkatkan kemampuan seni anak usia dini “ Permasalahan tersebut dijabarkan kedalam rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Apakah aktivitas belajar pengembangan Seni musik anak melalui permainan alat musik perkusi pada anak usia dini Di XxxxxxxxxxxxJepara dapat dikembangkan?

2. apakah Seni musik anak melalui permainan alat musik perkusi pada anak usia dini Di XxxxxxxxxxxxJepara dapat dikembangkan?


C.      Tujuan Penelitian
Tujuan utama dari penelitian itu adalah memperoleh gambaran bagaimana bermain alat music perkusi dapat meningkatkan pengembangan seni anak Xxxxxxxxxxxx.
Adapun secara lebih khusus penelitian ini bertujuan sebagai berikut:

1.      Untuk mendeskripsikan aktivitas belajar pengembangan Seni musik anak melalui permainan alat musik perkusi pada anak usia dini Di XxxxxxxxxxxxJepara?

2. Untuk mengetahui perkembangan Seni musik anak melalui permainan alat musik perkusi pada anak usia dini Di XxxxxxxxxxxxJepara?


D.      Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang terkait diantaranya :
1.    Bagi Anak
a.       Memberikan pengalaman dan wawasan baru pada anak dalam kemampuan seni.
b.      Memberi motivasi siswa dalam proses pembelajaran
2.    Bagi Guru
a.       Sebagai bahan masukan bagi guru dalam memilih media tepat dan menyenangkan dalam pengembangan seni melalui permainan alat musik perkusi.
b.      Menumbuhkan minat untuk melakukan penelitian.
3.    Bagi Kepala Sekolah
a.       Hasil penelitian dapat dijadiakan bahan pertimbangan serta rujukan dalam menentukan kebijakan dan program dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran.
b.      Memberikan sumbangan pemikiran sebagai alternative penerapan model pembelajaran dengan pengembangan seni melalui permainan alat musik perkusi.

E.        Landasan Teori
1.    Peran  Guru
Dalam proses belajar mengajar, guru mempunyai tugas untuk mendorong, membimbing, dan member fasilitas belajar bagi siswa untuk mencapai tujuan. Guru mempunyai tanggung jawab untuk melihat segala sesuatu yang terjadi dalam kelas untuk membantu proses perkembangan siswa. Penyampaian materi pelajaran hanyalah merupakan salah satu dari berbagai kegiatan dalam belajar sebagai suatu proses yang dinamis dalam segala fase dan proses perkembangan siswa. Secara lebih terperinci tugas guru berpusat pada :
(1)   Mendidik dengan titik berat memberikan arah dan motivasi pencapaian tujuan baik jangka pendek maupun jangka panjang;
(2)   Memberi fasilitas pencapaian tujuan melalui pengalaman belajar yang memadai;
(3)   Membantu perkembangan aspek-aspek pribadi seperti sikap, nilai-nilai, dan penyesuaian diri. Demikianlah, dalam proses belajar-mengajar guru tidak terbatas sebagai penyampai ilmu pengetahuan akan tetapi lebih dari itu, ia bertanggung jawab akan keseluruhan perkembangan kepribadian siswa. Ia harus menciptakan proses belajar yang sedemikian rupa sehingga dapat merangsang siswa untuk belajar secara aktif dan dinamis dalam memenuhi kebutuhan dan menciptakan tujuan.
Maka dengan demikian peran guru dalam belajar ini menjadi lebih luas dan lebih mengarah kepada peningkatan motivasi belajar siswa-siswa. Guru hendaknya mampu membantu setiap siswa untuk secara efektif dapat mempergunakan berbagai kesempatan belajar dan berbagai sumber serta media belajar.
Fungsi guru sebagai perencana pengajaran, pengelola pengajaran, penilai hasil belajar, sebagai motivator belajar, dan sebagai pembimbing. Untuk itu guru harus memiliki pengetahuan yang cukup tentang prinsip-prinsip belajar sebagai dasar dalam merancang kegiatan belajar-mengajar, seperti merumuskan tujuan, memilih bahan, memilih metode, menetapkan evaluasi, dan sebagainya.
Empat hal yang dapat dikerjakan guru dalam memberikan motivasi adalah :
(1)   Membangkitkan dorongan kepada siswa untuk belajar;
(2)   Menjelaskan secara kongkret kepada siswa apa yang dapat dilakukan pada akhir pengajaran;
(3)   Memberikan ganjaran terhadap prestasi yang dicapai sehingga dapat merangsang untuk mencapai prestasi yang lebih baik di kemudian hari, dan;
(4)   Membentuk kebiasaan belajar yang baik.
Sebagai pembimbinh guru diharapkan mampu untuk :
(1)   Mengenal dan memahami setiap siswa baik secara individu maupun kelompok;
(2)   Memberikan penerangan kepada siswa mengenai hal-hal yang diperlukan dalam proses belajar;
(3)   Memberikan kesempatan yang memadai agar setiap siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuan pribadinya;
(4)   Membantu setiap siswa dalam mengatasi masalah-masalah pribadi yang dihadapinya;
(5)   Menilai keberhasilan setiap langkah kegiatan yang telah dilakukannya.
Sikap profesional guru harus yang sukarela untuk melalukan pekerjaan ekstra, telah menunjukkan dapat menyesuaikan diri dan sabar, memiliki sikap yang konstruktif dan rasa tanggung jawab, berkemauan untuk melatih diri, memiliki semangat untuk memberikan layanan kepada siswa, sekolah dan masyarakat.
Guru memegang peranan penting terhadap keberhasilan implementasi KTSP,karena gurulah yang pada akhirnya akan menyelesaikan kurikulum di kelas.Guru garda terdepan dalam implementasi kurikulum. Guru adalah kurikulum berjalan. Sebaik apapun kurikulum dan , tanpa didukung guru yang memenuhi syarat,maka semuanya akan sia-sia (Kunandar, penulis buku Profesional, Implementasi KTSP dan Persiapan Sertifikasi Guru, Rajawali pers, Jakarta 2007).
JURGEM ZIMER, Pendiri school for life:  “Anak-anak harus diberikan peluang untuk mengembangkan diri. Oleh karean itu, pendidiksan konvensional yang terpaku pada kurikulum saja tanpa mengaitkannya dengan keseharian hidup,perlu diubah.”
HELEN MORRSCHEL, koordinasi Kasek Ciputra Surabaya: “Guru harus ciptakan proyek yang ada dalam realitas kehidupan untuk merangsang anak ma uterus belajar.”
Pilar-Pilar Pendidikan Abad 21 Menurut UNESCO yaitu :
1.      Learning to know : Belajar untuk memahami makna yang tersirat untuk mengaitkan dengan nilai ilahiah.
2.      Learning to do : Action in thingking berbuat dengan berpikir.
3.      Learning by doing : menuntut siswa mengenal hubungan antara belajar dan berkarya.
4.      Learnimg to be : Belajar untuk mengenal jati diri.
5.      Learning to live together : Belajar hidup bermasyarakat dan menjadi bermanfaat bagi diri dan masyarakat maupun seluruh umat manusia sebagai amalan agamanya.
6.      Learn how to Learn : Pergeseran dari model belajar memiliki (hafal) menjadi model belajar “memiliki” diubah model belajar “menjadi” anak didik mencari jawaban maka guru sebagai pembimbing, motivator, fasilitator, katalisator, moderator, promoter, provokator (baik) persuator, negosiator.
7.      Learning troughout life : Belajar terus menerus karena perubahan dan perkembangan kehidupan tak pernah mundur, semakin rumit, keras, pelik dan menantang.
Syarat Guru yang Baik dan Berhasil
Tidak sembarang orang dapat melaksanakan tugas professional sebagai seorang guru. Untuk menjadi guru yang baik haruslah memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh pemerintah (Ngalim Purwanto, 1985 : 170-175). Syarat utama untuk menjadi guru, selain berijazah dan syarat-syarat mengenai kesehatan jasmani dan rohani, ialah mempunyai sifat-sifat yang perlu untuk dapat memberikan pendidikan dan pembelajaran.
2.    Seni
Pengertian seni, seni pada mulanya adalah proses dari manusia, dan oleh karena itu merupakan sinomim dari ilmu. Seni dapat dilihat dari intisari ekspresi manusia, seni sangat sulit dijelaskan dan dinilai,bahwa masing-masing individu memili untuk  peraturan paramenter yang menuntunnya atau kerjanya. Seni bisa dikatakan bahwa seni adalah proses dan produk dari memilih medium, dan suatu set peraturan untuk penggunaan itu dan suatu set nilai-nilai yang menentukan apa yang pantas dikirimkan dengan ekspresi lewat medium itu, untuk menyampaikan baik kepercayaan, gagasan, sensasi atau perasaan dengan cara seefektif mungkin untuk medium itu. Sekalipun demikian, banyak seniman mendapat pengaruh orang lain masa lalu, dan juga garis pedoman sudah muncul untuk menggungkap gagasan tertentu lewat simbolis dan bentuk.
Jadi seni adalah karya yang mengandung keindahan cipta, ide  atau gagasan, rasa, ekspresi, karsa, teknik yang menarik, unik dan dapat dinikmati.
Beberapa teori seni menurut beberapa tokoh :
1.        Ki Hajar Dewantara
Seni adalah segala perbuatan yang timbul dan bersifat indah, menyenangkan dan dapat menggerakkan jiwa manusia.
2.        Herbert Read
Aktivitas menciptakan bentuk-bentuk yang menyenangkan.
3.        Ahdiat Karta Miharja
Kegiatan rohani yang merefleksi pada jasmani, dan mempunyai daya yang bias membangkitkan perasaan / jiwa orang lain.
Cabang –cabang seni ada 5 yaitu :
1.        Seni Rupa
2.        Seni Tari/gerak
3.        Seni Suara/vocal
4.        Seni Satra
5.        Seni Teater/Drama
Hakikat Seni bagi anak usia dini :
1.        Seni sebagai media bermain
Peristiwa membuat benda-benda menjadi alih fungsi ini lebih dimasudkan anak sebagai kegiatan bermain. Anak memperlakukan objek yang tidak ditemukan di lingkungan sekitar. Figure yang ada dalam permainan ini satu persatu dihafalkan dan pada suatu ketika akan muncul kembali dengan bentuk yang sempurna.
2.        Seni sebagai ungkapan rasa
Kegiatan anak dilakukan dengan sadar maupun hanya sekedar bermain, kesemuanya ini teteap diakui sebagai karya
3.        Seni sebagai media berkomunikasi
Tidak semua anak mempunyai perkembangan bicara dan pengutaraan pendapatnya secara lisan,olek karenanya musik dapat digunakan sebagai alat mengutarakan pendapat.
4.        Seni untuk mengutarakan Ide, Gagasan dan Angan-angan
Kegiatan anak ingin mengutarakan ide dan gagasan yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Ingatan peristiwa masa lalu anak yang sangat terkenang pada suatu ketika bercampur dengan keinginan ataupun khayalan makhluk aneh yang tidak dikenal orang dewasa, akan muncul dalam ruang yang lebar.
Keterbatasan kata-kata membuat perasaan anak akan semakin sesak karena keinginannya mengutarakan pendapat tidak diketahui orang lain. Akhirnya anak hanya mampu mengutarakan  lewat symbol. Symbol yang muncul dari pikiran anak ini ternyata mempunyai arti yang sangat kompleks, mulai keinginan sesuatu, gagasan, serta angan-angan yang meluap atas benda pujaannya.
Pentingnya Pendidikan Seni Sejak Usia Dini yaitu :
Perkembangan anak dalam empat tahun pertama adalah perkembangannya yang paling kritik bukan saja pertumbuhan fisik yang terpenting, melainkan pola pengembangan kepribadian aktualiasi kemampuan belajarnya telah nampak juga.
Pengembangan kepribadian terbentuk dari berbagai jenis peluang pembelajaran yang diperoleh itu, akan dapat meningkatkan pengalaman, ternyata berbagai kejadian sekitarnya efek yang sangat permanen terhadap kehidupan anak di kemudian hari. Ternyata interaksi lingkungan telah juga mempengaruhi secara signifikan kepada periode pranatal. Si bayi lahir ia memiliki 100 - 200 sel neuron, siap untuk memproseskan beberapa jenis pengalaman seperti informasi intelektual, suasana emosional yang diperolehnya melalui panca indranya. Manusia dalam mencerna pengaruh tersebut memiliki organisme yang disebut intelegensi yang merupakan kemampuan umum yang bersumber dari otak. Apabila struktur otak sejak lahir terbentuk secara genetis, maka fungsi otak sangat ditentukan oleh berbagai jenis pengaruh lingkungan. Proses otak akan mengalami regenerasi yang berakibat fungsinya intelegensi (stimulus) lingkungan yang diperlukan untuk memberfungsikan otak. Selama pertumbuhannya, minat dan aktivitas anak selalu terkait dengan perkembangan kemampuannya. Setelah koordinasi kaki, tangan dan bagian badan yang terkait sudah mantap, demikian pula perkembangan bahasanya bertambah, maka anak sudah mulai merancang berbagai alternatif aktivitas yang lain. Cakupan kemampuannya menjadi sangat luas dan juga menjadi makin komplek. Makin waktu berlalu, penyaluran pilihan melatihkan kemampuan. Oleh karena itu berbagai kegiatan pendidikan sebenarnya bisa dirancang secara sengaja dengan tujuan agar anak memperoleh peluang meningkatkan beberapa kemampuan berdasarkan pengalaman belajarnya. Pengalaman yang memperkaya dalam kehidupan mental terutama yang disebut intelegensi inilah yang menjadi tugas lingkungan untuk dapat memberikan berbagai rangsangan sesuai tuntutan perkembangan anak. Salah satu media yang dapat dipakai untuk memperkaya perkembangan mental anak adalah melalui pendidikan seni.
3.    Alat Musik perkusi
Musik adalah salah satu bentuk komunikasi melalui bunyi-bunyian, misalnya suara botol, gelas, kayu, dan sebagainya. Dengan menggunakan musik, guru bisa meminta siswa untuk melakukan atraksi dengan mengikuti musik yang dimainkan. Melalui atraksi tersebut, kecerdasan visual spasial anak akan terarah.
Anak sudah bisa mengikuti irama atau ketukan. Misalnya, saat guru mengajak siswa untuk bermain tepukan. Anak akan belajar tentang irama dan tempo tepukan. Contoh lain, mengajak anak bermain bunyi dengan memukul berbagai macam botol berisi air yang berbeda ukuran. Anak diminta untuk memukul botol-botol tersebut. Botol-botol tersebut tentunya akan menghasilkan bunyi yang berbeda. Saat bermain tersebut, anak belajar tentang ukuran benda bahwa setiap benda memiliki bunyi yang berbeda.
Ada beberapa alat musik yang bisa diajarkan kepada anak. Misalnya saja angklung yang terdiri dari nada yang paling rendah sampai nada yang paling tinggi. Anak sudah bisa menghafal posisi dari setiap nada yang ada pada angklung tersebut. Pada saat anak bermain angklung inilah, kecerdasan kinestetik anak dapat berkembang.
Semiawan (2009:78) mengemukakan bahwa kecerdasan musikal adalah kemampuan untuk mengkomposisikan musik, menyanyi dan menghargai musik, memiliki kepekaan untuk irama. Armstrong (2005:21) juga mengemukakan bahwa kecerdasan musikal melibatkan kemampuan menyanyikan sebuah lagu, mengingat melodi musik, mempunyai kepekaan akan irama, atau sekadar menikmati musik, Dalam bentuknya yang lebih canggih, kecerdasan ini mencakup para diva dan virtuoso piano dan dunia seni dan budaya.  Tujuan materi program dalam kurikulum yang dapat mengembangkan kecerdasan musikal antara lain mendengarkan musik, melodi, instrumentalia, dan bernyanyi bersama atau sendiri.
Guru bisa mengajarkan anak tentang bunyi-bunyian, melalui permainan menebak bunyi alat musik. Permainan ini akan melatih kepekaan anak terhadap bunyi-bunyian.
Guru bisa meminta siswa untuk menirukan suara hewan kesukaannya, misalnya suara kucing, kambing dan sebagainya. Kegiatan lain yang bisa dilakukan adalah dengan menggunakan permainan “tebak suara”. Guru menirukan suara hewan tertentu kemudian siswa diminta untuk menebak nama hewan yang suaranya ditirukan oleh guru.
Kecerdasan interpersonal pada anak dapat dilakuan melalui kegaitan seni , misalnya dengan meminta anak untuk memainkan alat musik secara berkelompok. Atau guru bisa meminta anak untuk berpasangan, kemudian anak memainkan alat musik secara bergantian. Kegiatan ini juga akan mengasah kemampuan sosial anak.
Kecerdasan intrapersonal dapat dikembangkan dengan menanyakan kepada anak alat musik apa yang disukainya, apa lagu kesukaannya, dan sebagainya. Setelah mengetahui hal tersebut, maka guru bisa meminta anak untuk memainkan alat musik kesukaannya atau menyanyikan lagu kesukaannya.
Anak diminta untuk menceritakan alat musik yang disukainya, lagu kesukaannya, mengapa ia menyukai hal tersebut, dan sebagainya. Guru juga bisa meminta siswa untuk menyanyikan lagu kesukaannya di depan teman-temannya. Selain mengasah kecerdasan verbal anak, kegiatan ini juga meningkatkan kepercayaan diri anak.
Instrument perkusi pada dasarnya adalah benda apapun yang dapat menghasilkan suara baik karena dipukul, dikocok, digosok, diadukan, atau dengan cara apapun yang dapat membuat getaran pada benda tersebut. Istilah instrument perkusi biasanya digunakan pada benda yang digunakan sebagai pengiring permainan musik.
Alat musik perkusi.
Alat musik perkusi disebut juga alat pukul atau alat tabuh adalah alat musik yang menghasilkan suara yang dipukul, ditabuh, digoyang, digosok, atau tindakan lain yang membuat objek bergetar baik, dengan suara alat tongkat, maupun dengan tangan kosong.
Kata ini berasal dari kata latin percussion yang berarti memukul dan percussus kata benda yang berarti pukulan, jenis music ini diantaranya drum.
Drum adalah salah satu kelompok dari alat musik perkusi yang terdiri dari kulit yang direntangkan yang dipukul oleh tangan atau sebuah batang (stick). Kadang selain kulit juga digunakan bahan lain misalnya plastik

F.       Kerangka Berfikir
Peranan guru dalam pengembangan seni melalui alat music perkusi AUD, meruoakan pembelajaran tematik, gabungan antara berbagai bidang kajian misal dibidang perkembangan jasmani (fisik dan motorik), perkembangan kognitif, perkembangan berbicara, perkembangan emosi, perkembangan sosial, dan lainnya.
Guru sangat berperan penting terhadap keberhasilan implementasi KTSP, karena gurulah yang pada akhirnya akan menyelesaikan kurikulum dikelas khususnya pengembangan seni melalui alat music perkusi AUD.
Salah satu contoh seni musik alat perkusi anak usia dini adalah bentuk komunikasi melalui bunyi-bunyian, misalnya suara botol, gelas, kayu dan sebagainya. Dengan menggunakan musik, guru bias meminta siswa untuk melakukan atraksi dengan mengikuti music yang dimainkan. Melalui atraksi tersebut, kecerdasan visual spasial anak akan terarah.

G.      Hipotesis Tindakan
Hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalalah” pengembangan seni melalui alat music perkusi di Xxxxxxxxxxxx”
Berdasarkan pengertian tersebut, maka hipotesis tindakan diambil dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.        Jika anak bermain musik, maka pengembangan seni anak akan meningkat.
2.        Jika anak mempunyai keinginan, untuk bermain musik maka, perkembangan  belajar seni anak akan berkembang.
3.        Jika anak dapat mengembangkan seni melalui alat musik perkusi secara baik, maka perkembangan seni akan akan berkembang lebih baik.

H.      Metode Penelitian
1.        Pendekatan dan Jenis penelitian
Pendekatan dalam penelitian ini adalah Kualitatif, penelitian kualitatif  bertujuan untuk melakukan penafsiran terhadap fenomena sosial. Metodologi penelitian yang dipakai adalah multi metodologi, sehingga sebenarnya tidak ada metodologi yang khusus. Para periset kualitatif dapat menggunakan semiotika, narasi, isi, diskurus, arsip, analisis fenomik, bahkan statistik, (Agus Salim, 2006).
Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh variable bebas terhadap variable terukat setelah diterapkan pembelajarandengan menggunakan media pengembangan seni melalui alat musik perkusi anak Taman kanak-kanak.
Dalam bidang pendidikan, khusnya dalam praktik pembelajaran, penelitian tindakan berkembang menjadi penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau classroom Action Research (CAR). PTK adalah penelitian tindakan yang dilakukan dengan tujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas pembelajaran. PTK berfokus pada kelas atau pada proses pembelajaran yang terjadi di dalam kelas (Suharsini Arikunto, 2002 : 78).
2.        Lokasi dan waktu penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dalaksanakan di Xxxxxxxxxxxx
3.        Subyek penelitian
Subyek penelitian ini adalah siswa kelompok A dan B Xxxxxxxxxxxx.
4.        Fokus penelitian
Penelitian ini difokuskan pada peningkatan pengembangan seni melalui alat musik perkusi di Xxxxxxxxxxxx.
5.        Teknik Pengumpulan Data.
Beberapa teknik pengumpulan data dalam penelitian kualitatif, yaitu :
a.         Wawancara
Wawancara merupakan alat re-cheking atau pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang diperoleh sebelumnya. Teknik wawancara yang digunakan dalam penelitian kualitatif adalah wawancara mendalam (in-depth interview) adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara Tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa ,menggunakan pdoman (guide) wawancar, di mana pewawancara dan informasi terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama.
b.         Observasi
Beberapa informasi yang diperoleh dari hasil observasi adalah ruang (tempat), pelaku, kegiatan, objek, perbuatan, kejadian atau peristiwa, waktu, dan perasaan. Alasan peneliti melakukan observasi adalah untuk menyajikan gambaran realistic perilaku atau kejadian, untuk menjawab pertanyaan, untuk evaluasi yaitu melakukan pengukuran terhadap aspek tertentu melakukan umpan balik terhadap pengukuran tersebut.
6.        Keabsahan Data
Banyak hasil penelitian kualitatif diragukan kebenarannya karena beberapa hal, yaitu subjektivitas peneliti merupakan hal yang dominan dalam penelitian kualitatif, alat penelitian yang diandalkan adalah wawancara dan observasi mengandung banyak kelemahan ketika dilakukan secara terbuka dan apalagi tanpa control, sumber dan kualitatif yang kurang credible aka mempengaruhi hasil akurasi penelitian. Oleh karena itu, dibutuhkan beberapa cara menentukan keabsahan data  yaitu:
a.         Kredibilitas
Apakah proses dan hasil penelitian dapat diterima atau dipercaya. Beberapa criteria dalam menilai adalah lama penelitian, observasi yang detail, triangulasi, per debriefing, analisi kasus negative, membandingkan dengan hasil penelitian lain, dan member check. Cara memperoleh tingkat kepercayaan hasil penelitian, yaitu :
1.      Memperpanjang masa pengamatan memungkinkan membangun kepercayaan para responden terhadap peneliiti dan juga kepercayaan diri peneliti sendiri.
2.      Pengamatan yang terus menerus, untuk menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat  relevan dengan persoalan atau isu yang sedang diteliti, serta memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci.
3.      Triangulasi, pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembandingan terhadap data tersebut.
4.      Peer debriefing (membicarakannya dengan orang lain) yaitu mengekspos hasil sementara atau hasil akhir yang diperoleh dalam bentuk diskusi analitik dengan rekan-rekan sejawat.
5.      Mengadakan member check yaitu dengan menguji kemungkinan dugaan-dugaan yang berbeda dan mengembangkan pengujian-pengujian untuk mengecek analisia, dengan mengaplikasikannya.
b.         Reliabilitas
Realibilitas penelitian kualitatif dipengaruhi oleh definisi konsep yaitu suatu konsep dan definisi yang dirumuskan berbeda-beda menurut pengetahuan peneliti, metode pengumpulan dan analisis data, situasi dan kondisi sosial, status dan kedudukan peneliti dihadapkan responden, serta hubungan peneliti dengan responden.


7.        Analisis Data
Analisis data merupakan upaya mancari dan menata secara sistematis catatan hasil observasi wawancara dan lainnya guna menigkatkan pemahaman penelitian tentang kasusu yang diteliti dan menjadikannya sebagai teman bagi orang lain. Sedangkan demi meningkatkan pemahaman tersebut analisis perlu dilanjutkan dengan berupaya mencari makna. (Noeng Muhadjir 1996:104) pola analisis penelitian ini menggunakan pola pikir idukatif yaitu mengangkat dari fakta-fakta atau peristiwa-peristiwa yang bersifat khusus tersebut dipelajari dan dianalisis sehingga bias dibuat suatu kesimpulan dan generalisasi yang bersifat umum.
Sedangkan teknik yang digunakan untuk pemeriksan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain adalah teknik triangulasi. Teknik trigulasi berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alasan yang berbeda dalam penelitian kualitatif hal itu dapat dicapai dengan beberapa jalan, diantaranya :
a.         Membandingkan data hasil pengamatan dan hasil wawancara.
b.         Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.
c.         Pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian beberapa teknis pengumpulan data dan

d.        Pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber data dengan metode yang sama. (lexy J. Moleong, 1998 : 330-331)
Analisis data yang digunakan yaitu analisis nonstatistik yaitu menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Analisis data yang diwujudkan bukan dalam bentuk angka melainkan dalam bentuk laporan dan uraian deskriptif terhadap peningkatan pengembangan seni siswa melalui alat music perkusi di Xxxxxxxxxxxx. Miles dan Huberman (1984:56-59) mengemukakan bahwa salah satu permasalahan dalam penelitian kualitatif adalah nbahwa cara kerja terutama bertalian dengan kata-kata bukan dengan angka-angka. Rochiati Wiriaatmadja (2008:139)
8.        Desain Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari 3 siklus. Dalam penelitian tindakan kelas ini peneliti mengadopsi model yang dikembangkan oleh Kurt lewin, kemis dan Ernest Stinger.
Adapun komponen-komponen pokok yang dijadikan sebagai langkah dalam penelitian ini adalah : perencanaan (planning), tindakan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflection) Nana Syaodih Sukmadinata (2010:145-146)
Siklus prosedur penelitian ini dapat divisualisasikan sebagai berikut:
                   Planing            Acting             Observasi            Reflecting
1.         Siklus I
a.    Tahap perencanaan
Dalam tahap ini dilakukan observasi awal untuk mengidentifikasikan masalah dan menganalisis akar permasalahan, kemudian menetapkan tindakan pemecahannya kegiatan, yakni dengan menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran, mempersiapkan RKH, mempersiapkan media yang digunakan, dan membuat alat pengumpul data, termasuk menyiapkan pertanyaan untuk wawancara dengan guru (observer).
b.    Tahap tindakan
Tahap ini merupakan tahapan pelaksana dari rencana yang telah dibuat. Melaksanakan proses pembelajaran. Dengan menggunakan langkah-langkah yang telah ditetapkan.
c.    Tahap pengamatan
Dalam tahap ini dilakukan pengamatan oleh guru observer terhadap rencana pelaksana pembelajaran dan terhadap kelangsungan proses pembelajaran melalui lembar pengamatan terhadap anak.
d.   Tahap refleksi
Dalam tahapan ini dilakukan evaluasi tahapan-tahapan yang telah dilalui. Menganalisis dan merefleksi perencana serta proses pembelajaran dan hasil belajar.
2.         Siklus II
a.    Tahap perencanaan
Dalam tahap ini dilakukan observasi kedua untuk mengidentifikasi masalah dan menganalisis akar permasalahan berdasarkan hasil refleksi siklus I, kemudian menetapkan tindakan pemecahan kegiatan, yakni dengan menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran, mempersiapkan RKH dan RKM, mempersiapkan media yang digunakan, dan membuat alat pengumpul data, termasuk menyiapkan pertanyaan untuk wawancara dengan guru (observer)
b.    Tahap tindakan
c.    Tahap ini merupakan tahap pelaksana dari rencana yang telah dibuat. Melaksanakan proses pembelajaran. Dengan langkah –langkah yang telah ditetapkan.
d.   Tahap pengamatan
Dalam tahap ini dilakukan pengamatan oleh guru observer terhadap rencana pelaksana pembelajaran dan terhadap kelangsungan proses pembelajaran melalui lembar pengamatan terhadap anak.



e.    Tahap refleksi
Dalam tahapan ini dilakukan evaluasi tahapan-tahapan yang telah dilalui. Menganalisis dan merefleksi perencana serta proses pembelajaran dan hasil belajar.
3.         Siklus III
a.    Tahap perencanaan
Dalam tahap ini dilakukan observasi ketiga untuk mengidentifikasi masalah dan menganalisis akar permasalahan berdasarkan hasil refleksi siklus II, kemudian menetapkan tindakan pemecahannya kegiatan, yakni dengan menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran, mempersiapkan RKM, mempersiapkan medi yang digunakan, dan membuat alat pengumpul data, termasuk menyiapkan pertanyaan untuk wawancara dengan responden dan guru (observer)
b.    Tahap tindakan
Tahap ini merupakan tahapan pelaksana dari rencana yang telah dibuat. Melaksanakan proses pembelajaran. Dengan menggunakan langkah-langkah yang telah ditetapkan.
c.    Tahap pengamatan
Dalam tahap ini dilakukan pengamatan oleh guru observer terhadap rencana pelaksanaan pembelajaran dan terhadap kelangsungan proses pembelajaran melalui lembar pengamatan terhadap anak.
d.   Tahap refleksi
Dalam tahapan ini dilakukan evaluasi tahapan-tahapan yang telah dilalui. Menganalisis dan merefleksi perencana serta serta proses pembelajaran dan hasil belajar.

I.         Jadwal Kegiatan Penelitian
No
Uraian Kegiatan
Juni
Juli
Agustus
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
Pengajuan judul skripsi












2
Pengajuan proposal skripsi












3
Persetujuan proposal skripsi












4
Kerangka skripsi












5
Pengumpulan data












6
Analisis data












7
Penyusunan laporan












8
Revisi penyusunan












9
Ijin di ujikan












10
Pelaksanaan ujian
























DAFTAR PUSTAKA


Anselm Strauss dan Juliet Corbin, 2003, Dasar-dasar Penelitian Kualitatif, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,)
Asmani, Jamal Ma’mur, 2009, Manajemen Strategi Pendidikan Anak Usia Dini, , (Jogjakarta: Diva Press,)
Depdiknas, Pedoman Teknis Penyelenggaraan Kelompok Bermain, Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini, Jakarta, 2009.
Diane Miller Nielsen. edisi kedua, Mengelola Kelas Untuk Guru TK, PT. Indeks.
Hajar Pamadhi & Evan Sukardi S., Edisi 1. 2008, Seni Keterampilan Anak. Universitas Terbuka,.
Khoiri, Nur, Metode Penelitian Pendidikan (Jepara: Inisnu, 202012)
Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002)
Mayke, Sugianto T., Dra., (2011). Bermain, Mainan, dan Permainan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan.
Moeslichatoen, Metode Pengajaran di Taman Kanak-kanak, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004)
Moleong, Lexy J., Metodologi Penelitan Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002)  
Ramadhy, Sufyan dan Permadi, Dadi, Bagaimana mengembangkan Kecerdasan, (Bandung: PT Sarana Panca Karya Nusa, 2009)
S Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004)
S. Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004)
Sagala, Syaeful, Manajemen Berbasis Sekolah dan Masyarakat, (Jakarta: Nimas Multima, 2004)
Sarno, (2011). Pengantar Pendidikan, Program Studi Pendidikan PAUD. Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Veteran Semarang.
Sudjana, Nana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: CV. Sinar Baru, 1989)
Sujanto, Agus, 1981. Psikologi Perkembangan, Aksara Baru, jakarta
Sumanto,wasty,  (2003), Psikologi Pendidikan, ( Jakarta: PT. Rineka Cipta,)
Syah, Muhibbin, Psikologi Pendidikan dengan Pendekata Baru, PT. Remaja Rosda Karya, Bandung, 2000
T. Agustin (ed.), Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Amandemen ke-4, (Semarang: CV. Aneka Ilmu,2002)  
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa.ed 3_cet. 2, (2002), Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka,)
Trianto, M.Pd., (2011). Desain Pengembangan Pembelajaran Tematik Bagi Anak Usia Dini TK/RA & Anak Usia Kelas Awal SD/MI. Jakarta, Kencana.
Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) BAB I pasal 1 item 14, (Bandung: Citra Umbara, 2006)
Wiriaatmaja, Rochiati, (2008), Metode Penelitian Tindakan Kelas, (Bandung: RosdaKarya,)
www.box.net,2009, Pendidikan dan Peserta Didik
www.organisasi.org,2009, Perkembangan Peserta Didik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar