I.
PERANAN GURU DALAM PENGEMBANGAN
SENI MELALUI PERMAINAN ALAT MUSIK PERKUSI ANAK USIA DINI DI XXXXXXXXXXXX
II.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masalah
Pendidikan
Taman kanak-kanak merupakan salah satu bentuk pendidikan pra sekolah yang
terdapat di jalur pendidikan sekolah (PP No. 27 Tahun 1990). Sebagai lembaga
pendidikan pra-sekolah, tugas utama Taman Kanak-kanak adalah mempersiapkan anak
dengan memperkenalkan berbagai pengetahuan, sikap perilaku, keterampilan dan
intelektual agar dapat melakukan adaptasi dengan kegiatan belajar yang
sesungguhnya di Sekolah Dasar.
Masitoh
(2005 : 1) mengungkapkan bahwa Pendidikan di Taman Kanak-kanak merupakan salah
satu bentuk pendidikan anak usia dini yang memiliki peranan sangat penting
untuk mengembangkan kepribadian anak serta mempersiapkan mereka memasuki
jenjang pendidikan selanjutnya. Pendidikan di Taman Kanak-Kanak merupakan
jembatan antara lingkungan keluarga dengan masyarakat yang lebih luas yaitu
Sekolah Dasar dan lingkungan lainnya. Sebagai salah satu bentuk pendidikan anak
usia dini, lembaga ini menyediakan program pendidikan dini bagi
sekurang-kurangnya anak usia empat tahun sampai memasuki jenjang pendidikan
dasar.
Masa
perkembangan Anak Usia Dini adalah masa yang paling tepat untuk mengembangkan
semua potensi yang dimiliki anak. Salah satu potensi yang perlu dikembangkan
adalah tentang wawasan dan rasa seni anak.Kesenian merupakan salah satu potensi
dasar anak sebagai bentuk dari kecerdasan jamak.Melalui pengembangan potensi
anak berarti juga mengembangkan kecerdasannya.Jika potensi ini tidak
dikembangkan sejak dini, maka masa emas pengembangan potensi tersebut akan
terlewat begitu saja, meskipun dapat dikembangkan pada tahun-tahun sesudahnya,
namun hasil yang dicapai tidak akan seoptimal apabila dikembangkan pada masa
emasnya. Oleh karena itu, para pendidik anak usia dini berperan sebagai
fasilitator dalam pengembangan potensi seni tersebut.Membekali diri dengan
menambah wawasan tentang seni pada anak, pendidik diharapkan dapat menjalankan
peran dengan baik. Tanpa bekal cukup, pendidik anak usia dini tidak akan dapat
mengembangkan potensi seni anak dengan optimal.Oleh karena itu, seni
keterampilan anak merupakan rancangan untuk membekali Anak Usia Dini dengan
materi berbagai keterampilan berkarya seni yang harus dikuasai oleh pendidik
anak usia dini.Setelah melakukan penelitian diharapkan anak usia dini dapat
mengembangkan kemampuan diri sendiri dalam berkarya seni dan dapat membimbing anak usia dini
mengembangkan kemampuan berkarya seni.
Belajar
seni merupakan sebuah kegiatan yang dapat memberikan banyak kegunaan untuk
menyeimbangkan pengembangan kreativitas anak melalui kegiatan seni yaitu seni
tari,seni musik, seni rupa,dan seni teater. Kinerja otak pada dasarnya, keseluruhan pembelajaran seni
(tari,musik,rupa,teater) memberikan kontribusi yang cukup baik bagi
perkembangan peserta didik layaknya pemberian pengembangan bidang studi
akademis yang lain. Meskipun demikian terkadang apabila melihat dibeberapa
sekolah, masih ada yang mengesampingkan pembelajaran seni bahkan tidak
mempelajarinya sama sekali, sehingga tidak menutup kemungkinan untuk anak-anak
bahkan orang dewasa mencoba menggali kemampuan seni mereka diluar kegiatan
sekolah. Seiring dengan perkembangan zaman pada saat ini pembelajaran seni
(tari,musik,rupa,teater) telah menjadi program pendidikan umum di sekolah.
Mulai dari tingkat Pendidikan Anak Usia Dini sampai sekolah menengah keatas. Dengan
adanya pembelajaran seni tersebut diharapkan dapat melatih dan mengoptimalkan
kemampuan motorik, kognitif, bahasa, sosial, emosional serta kemandirian pada
anak. Terlebih apabila pembelajaran seni yang diterapkan pada Anak Usia
Dini,yang salah satunya adalah belajar seni musik melalui permainan alat
perkusi. Hal tersebut oleh pandangan Khoiriah (2010:1) yang dikemukakan sebagai
berikut bahwa: ….Melalui berkarya seni, siswa dapat
mengungkapkan gagasan,perasaan,nilai dan imajinasi yang melibatkan pertumbuhan
pribadinya. Khususnya bagi Anak Usia Dini (0-8 tahun) atau yang dikenal dengan
masa keemasan (the golden age).
Salah
satu Taman kanak-kanak unggul yang mengacu terhadap pentingnya pandangan
diatas, yaitu berkenaan dengan konsep pembelajaran kesenian khususnya seni
melalui permainan alat musik perkusi guna mengoptimalkan kemampuan anak usia
dini adalah Taman kanak-kanak (TK) TERPADU kota Jepara. TK TERPADU yang
merupakan Taman kanak-kanak yang terakreditasi A dan menyandang status TK
percontohan Se-kabupaten dan kota Jepara ini memiliki banyak kemajuan dalam
prestasi diberbagai bidang yang telah diakui oleh kota Jepara. Hal tersebut
disebabkan,TK Terpadu merupakan Taman kanak-kanak yang berusaha ‘’mencetak ‘’anak-anak
didiknya yang selalu aktif dalam berbagai kegiatan, baik yang berhubungan
dengan kreativitas maupun kesenian.Tentunya kemajuan itupun tidak lepas dari
kerja keras dan dedikasi maksimal guru-guru sekolah tersebut.
Berdasarkan
permasalahan yang terjadi di Xxxxxxxxxxxx dan pendapat-pendapat yang telah
dikemukakan di atas, penulis tertarik untuk meneliti secara langsung
pengembangan seni melalui alat musik perkusi di Xxxxxxxxxxxx. Penulis
menggunakan metode penelitian tindakan kelas
dengan judul “Peranan Guru Dalam Pengembangan Seni Melalui Permainan
Alat Musik Perkusi Di Xxxxxxxxxxxx.
Pendidikan Anak Usia Dini (studi Deskriptif
Analitik Terhadap Karateristik Seni Siswa Kelompok A dan B di Xxxxxxxxxxxx).Diharapkan
dengan penelitian tersebut dapat lebih jauh wawasan mengenai potensi dari
setiap anak usia dini dalam berkreasi dan berekspresi melalui wujud penelitian
yang saya lakukan.
B. Rumusan Masalah.
Permasalaan
utama dalam penelitian ini difokuskan kepada “ bagaimana kegiatan bermain alat
musik perkusi dapat meningkatkan kemampuan seni anak usia dini “ Permasalahan
tersebut dijabarkan kedalam rumusan
masalah
sebagai berikut:
1. Apakah aktivitas belajar
pengembangan Seni musik anak melalui permainan alat musik perkusi pada anak usia
dini Di XxxxxxxxxxxxJepara dapat dikembangkan?
2. apakah Seni musik anak melalui permainan
alat musik perkusi pada anak usia dini Di XxxxxxxxxxxxJepara dapat dikembangkan?
C. Tujuan
Penelitian
Tujuan
utama dari penelitian itu adalah memperoleh gambaran bagaimana bermain alat
music perkusi dapat meningkatkan pengembangan seni anak Xxxxxxxxxxxx.
Adapun
secara lebih khusus penelitian ini bertujuan sebagai berikut:
1.
Untuk mendeskripsikan aktivitas belajar
pengembangan Seni musik anak melalui permainan alat musik perkusi pada anak usia
dini Di XxxxxxxxxxxxJepara?
2. Untuk mengetahui perkembangan Seni musik anak melalui permainan
alat musik perkusi pada anak usia dini Di XxxxxxxxxxxxJepara?
D. Manfaat
Penelitian
Penelitian
ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang terkait
diantaranya :
1.
Bagi Anak
a. Memberikan
pengalaman dan wawasan baru pada anak dalam kemampuan seni.
b. Memberi
motivasi siswa dalam proses pembelajaran
2.
Bagi Guru
a. Sebagai
bahan masukan bagi guru dalam memilih media tepat dan menyenangkan dalam
pengembangan seni melalui permainan alat musik perkusi.
b. Menumbuhkan
minat untuk melakukan penelitian.
3.
Bagi Kepala
Sekolah
a. Hasil
penelitian dapat dijadiakan bahan pertimbangan serta rujukan dalam menentukan
kebijakan dan program dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran.
b. Memberikan
sumbangan pemikiran sebagai alternative penerapan model pembelajaran dengan
pengembangan seni melalui permainan alat musik perkusi.
E. Landasan Teori
1. Peran Guru
Dalam
proses belajar mengajar, guru mempunyai tugas untuk mendorong, membimbing, dan
member fasilitas belajar bagi siswa untuk mencapai tujuan. Guru mempunyai
tanggung jawab untuk melihat segala sesuatu yang terjadi dalam kelas untuk
membantu proses perkembangan siswa. Penyampaian materi pelajaran hanyalah
merupakan salah satu dari berbagai kegiatan dalam belajar sebagai suatu proses
yang dinamis dalam segala fase dan proses perkembangan siswa. Secara lebih
terperinci tugas guru berpusat pada :
(1) Mendidik
dengan titik berat memberikan arah dan motivasi pencapaian tujuan baik jangka
pendek maupun jangka panjang;
(2) Memberi
fasilitas pencapaian tujuan melalui pengalaman belajar yang memadai;
(3) Membantu
perkembangan aspek-aspek pribadi seperti sikap, nilai-nilai, dan penyesuaian
diri. Demikianlah, dalam proses belajar-mengajar guru tidak terbatas sebagai
penyampai ilmu pengetahuan akan tetapi lebih dari itu, ia bertanggung jawab
akan keseluruhan perkembangan kepribadian siswa. Ia harus menciptakan proses
belajar yang sedemikian rupa sehingga dapat merangsang siswa untuk belajar
secara aktif dan dinamis dalam memenuhi kebutuhan dan menciptakan tujuan.
Maka
dengan demikian peran guru dalam belajar ini menjadi lebih luas dan lebih
mengarah kepada peningkatan motivasi belajar siswa-siswa. Guru hendaknya mampu
membantu setiap siswa untuk secara efektif dapat mempergunakan berbagai
kesempatan belajar dan berbagai sumber serta media belajar.
Fungsi
guru sebagai perencana pengajaran, pengelola pengajaran, penilai hasil belajar,
sebagai motivator belajar, dan sebagai pembimbing. Untuk itu guru harus
memiliki pengetahuan yang cukup tentang prinsip-prinsip belajar sebagai dasar
dalam merancang kegiatan belajar-mengajar, seperti merumuskan tujuan, memilih
bahan, memilih metode, menetapkan evaluasi, dan sebagainya.
Empat
hal yang dapat dikerjakan guru dalam memberikan motivasi adalah :
(1) Membangkitkan
dorongan kepada siswa untuk belajar;
(2) Menjelaskan
secara kongkret kepada siswa apa yang dapat dilakukan pada akhir pengajaran;
(3) Memberikan
ganjaran terhadap prestasi yang dicapai sehingga dapat merangsang untuk
mencapai prestasi yang lebih baik di kemudian hari, dan;
(4) Membentuk
kebiasaan belajar yang baik.
Sebagai
pembimbinh guru diharapkan mampu untuk :
(1) Mengenal
dan memahami setiap siswa baik secara individu maupun kelompok;
(2) Memberikan
penerangan kepada siswa mengenai hal-hal yang diperlukan dalam proses belajar;
(3) Memberikan
kesempatan yang memadai agar setiap siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuan
pribadinya;
(4) Membantu
setiap siswa dalam mengatasi masalah-masalah pribadi yang dihadapinya;
(5) Menilai
keberhasilan setiap langkah kegiatan yang telah dilakukannya.
Sikap
profesional guru harus yang sukarela untuk melalukan pekerjaan ekstra, telah
menunjukkan dapat menyesuaikan diri dan sabar, memiliki sikap yang konstruktif
dan rasa tanggung jawab, berkemauan untuk melatih diri, memiliki semangat untuk
memberikan layanan kepada siswa, sekolah dan masyarakat.
Guru memegang peranan penting terhadap
keberhasilan implementasi KTSP,karena gurulah yang pada akhirnya akan menyelesaikan
kurikulum di kelas.Guru garda terdepan dalam implementasi kurikulum. Guru
adalah kurikulum berjalan. Sebaik apapun kurikulum dan , tanpa didukung guru
yang memenuhi syarat,maka semuanya akan sia-sia (Kunandar, penulis buku
Profesional, Implementasi KTSP dan Persiapan Sertifikasi Guru, Rajawali pers,
Jakarta 2007).
JURGEM ZIMER, Pendiri school for life: “Anak-anak harus diberikan peluang untuk
mengembangkan diri. Oleh karean itu, pendidiksan konvensional yang terpaku pada
kurikulum saja tanpa mengaitkannya dengan keseharian hidup,perlu diubah.”
HELEN MORRSCHEL, koordinasi Kasek Ciputra Surabaya: “Guru harus
ciptakan proyek yang ada dalam realitas kehidupan untuk merangsang anak ma uterus
belajar.”
Pilar-Pilar Pendidikan Abad 21 Menurut UNESCO yaitu :
1. Learning to know : Belajar untuk memahami makna yang tersirat untuk
mengaitkan dengan nilai ilahiah.
2. Learning to do : Action in thingking
berbuat dengan berpikir.
3. Learning by doing : menuntut siswa
mengenal hubungan antara belajar dan berkarya.
4. Learnimg to be : Belajar untuk
mengenal jati diri.
5. Learning to live together : Belajar
hidup bermasyarakat dan menjadi bermanfaat bagi diri dan masyarakat maupun
seluruh umat manusia sebagai amalan agamanya.
6. Learn how to Learn : Pergeseran dari
model belajar memiliki (hafal) menjadi model belajar “memiliki” diubah model
belajar “menjadi” anak didik mencari jawaban maka guru sebagai pembimbing,
motivator, fasilitator, katalisator, moderator, promoter, provokator (baik)
persuator, negosiator.
7. Learning troughout life : Belajar
terus menerus karena perubahan dan perkembangan kehidupan tak pernah mundur,
semakin rumit, keras, pelik dan menantang.
Syarat Guru yang Baik dan Berhasil
Tidak sembarang orang dapat
melaksanakan tugas professional sebagai seorang guru. Untuk menjadi guru yang
baik haruslah memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh pemerintah
(Ngalim Purwanto, 1985 : 170-175). Syarat utama untuk menjadi guru, selain
berijazah dan syarat-syarat mengenai kesehatan jasmani dan rohani, ialah mempunyai
sifat-sifat yang perlu untuk dapat memberikan pendidikan dan pembelajaran.
2. Seni
Pengertian
seni, seni pada
mulanya adalah proses dari manusia, dan oleh karena itu merupakan sinomim dari
ilmu. Seni dapat dilihat dari intisari ekspresi manusia, seni sangat sulit
dijelaskan dan dinilai,bahwa masing-masing individu memili untuk peraturan paramenter yang menuntunnya atau
kerjanya. Seni bisa dikatakan bahwa seni adalah proses dan produk dari memilih
medium, dan suatu set peraturan untuk penggunaan itu dan suatu set nilai-nilai
yang menentukan apa yang pantas dikirimkan dengan ekspresi lewat medium itu,
untuk menyampaikan baik kepercayaan, gagasan, sensasi atau perasaan dengan cara
seefektif mungkin untuk medium itu. Sekalipun demikian, banyak seniman mendapat
pengaruh orang lain masa lalu, dan juga garis pedoman sudah muncul untuk
menggungkap gagasan tertentu lewat simbolis dan bentuk.
Jadi
seni adalah karya yang mengandung keindahan cipta, ide atau gagasan, rasa, ekspresi, karsa, teknik
yang menarik, unik dan dapat dinikmati.
Beberapa
teori seni menurut beberapa tokoh :
1.
Ki Hajar
Dewantara
Seni adalah segala perbuatan yang
timbul dan bersifat indah, menyenangkan dan dapat menggerakkan jiwa manusia.
2.
Herbert Read
Aktivitas menciptakan bentuk-bentuk
yang menyenangkan.
3.
Ahdiat Karta
Miharja
Kegiatan rohani yang merefleksi
pada jasmani, dan mempunyai daya yang bias membangkitkan perasaan / jiwa orang
lain.
Cabang –cabang seni ada 5 yaitu :
1.
Seni Rupa
2.
Seni Tari/gerak
3.
Seni Suara/vocal
4.
Seni Satra
5.
Seni
Teater/Drama
Hakikat Seni bagi anak usia dini :
1.
Seni sebagai
media bermain
Peristiwa membuat benda-benda
menjadi alih fungsi ini lebih dimasudkan anak sebagai kegiatan bermain. Anak
memperlakukan objek yang tidak ditemukan di lingkungan sekitar. Figure yang ada
dalam permainan ini satu persatu dihafalkan dan pada suatu ketika akan muncul
kembali dengan bentuk yang sempurna.
2.
Seni sebagai
ungkapan rasa
Kegiatan anak dilakukan dengan
sadar maupun hanya sekedar bermain, kesemuanya ini teteap diakui sebagai karya
3.
Seni sebagai media
berkomunikasi
Tidak semua anak mempunyai
perkembangan bicara dan pengutaraan pendapatnya secara lisan,olek karenanya
musik dapat digunakan sebagai alat mengutarakan pendapat.
4.
Seni untuk
mengutarakan Ide, Gagasan dan Angan-angan
Kegiatan anak ingin mengutarakan
ide dan gagasan yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Ingatan peristiwa
masa lalu anak yang sangat terkenang pada suatu ketika bercampur dengan
keinginan ataupun khayalan makhluk aneh yang tidak dikenal orang dewasa, akan
muncul dalam ruang yang lebar.
Keterbatasan
kata-kata membuat perasaan anak akan semakin sesak karena keinginannya
mengutarakan pendapat tidak diketahui orang lain. Akhirnya anak hanya mampu
mengutarakan lewat symbol. Symbol yang
muncul dari pikiran anak ini ternyata mempunyai arti yang sangat kompleks,
mulai keinginan sesuatu, gagasan, serta angan-angan yang meluap atas benda
pujaannya.
Pentingnya
Pendidikan Seni Sejak Usia Dini yaitu :
Perkembangan anak dalam empat tahun pertama adalah perkembangannya yang paling kritik bukan saja
pertumbuhan fisik yang terpenting, melainkan pola pengembangan kepribadian
aktualiasi kemampuan belajarnya telah nampak juga.
Pengembangan kepribadian terbentuk dari berbagai
jenis peluang pembelajaran yang diperoleh itu, akan dapat meningkatkan pengalaman,
ternyata berbagai kejadian sekitarnya efek yang sangat permanen terhadap
kehidupan anak di kemudian hari. Ternyata interaksi lingkungan telah juga
mempengaruhi secara signifikan kepada periode pranatal. Si bayi lahir ia
memiliki 100 - 200 sel neuron, siap untuk memproseskan beberapa jenis
pengalaman seperti informasi intelektual, suasana emosional yang diperolehnya
melalui panca indranya. Manusia dalam mencerna pengaruh tersebut memiliki
organisme yang disebut intelegensi yang merupakan kemampuan umum yang bersumber
dari otak. Apabila struktur otak sejak lahir terbentuk secara genetis, maka
fungsi otak sangat ditentukan oleh berbagai jenis pengaruh lingkungan. Proses
otak akan mengalami regenerasi yang berakibat fungsinya intelegensi (stimulus)
lingkungan yang diperlukan untuk memberfungsikan otak. Selama pertumbuhannya,
minat dan aktivitas anak selalu terkait dengan perkembangan kemampuannya.
Setelah koordinasi kaki, tangan dan bagian badan yang terkait sudah mantap,
demikian pula perkembangan bahasanya bertambah, maka anak sudah mulai merancang
berbagai alternatif aktivitas yang lain. Cakupan kemampuannya menjadi sangat
luas dan juga menjadi makin komplek. Makin waktu berlalu, penyaluran pilihan
melatihkan kemampuan. Oleh karena itu berbagai kegiatan pendidikan sebenarnya
bisa dirancang secara sengaja dengan tujuan agar anak memperoleh peluang
meningkatkan beberapa kemampuan berdasarkan pengalaman belajarnya. Pengalaman
yang memperkaya dalam kehidupan mental terutama yang disebut intelegensi inilah
yang menjadi tugas lingkungan untuk dapat memberikan berbagai rangsangan sesuai
tuntutan perkembangan anak. Salah satu media yang dapat dipakai untuk
memperkaya perkembangan mental anak adalah melalui pendidikan seni.
3. Alat Musik
perkusi
Musik adalah salah satu bentuk
komunikasi melalui bunyi-bunyian, misalnya suara botol, gelas, kayu, dan
sebagainya. Dengan menggunakan musik, guru bisa meminta siswa untuk melakukan
atraksi dengan mengikuti musik yang dimainkan. Melalui atraksi tersebut,
kecerdasan visual spasial anak akan terarah.
Anak sudah bisa mengikuti irama atau
ketukan. Misalnya, saat guru mengajak siswa untuk bermain tepukan. Anak akan
belajar tentang irama dan tempo tepukan. Contoh lain, mengajak anak bermain
bunyi dengan memukul berbagai macam botol berisi air yang berbeda ukuran. Anak
diminta untuk memukul botol-botol tersebut. Botol-botol tersebut tentunya akan
menghasilkan bunyi yang berbeda. Saat bermain tersebut, anak belajar tentang
ukuran benda bahwa setiap benda memiliki bunyi yang berbeda.
Ada beberapa alat musik yang bisa
diajarkan kepada anak. Misalnya saja angklung yang terdiri dari nada yang
paling rendah sampai nada yang paling tinggi. Anak sudah bisa menghafal posisi
dari setiap nada yang ada pada angklung tersebut. Pada saat anak bermain
angklung inilah, kecerdasan kinestetik anak dapat berkembang.
Semiawan (2009:78) mengemukakan
bahwa kecerdasan musikal adalah kemampuan untuk mengkomposisikan musik,
menyanyi dan menghargai musik, memiliki kepekaan untuk irama. Armstrong
(2005:21) juga mengemukakan bahwa kecerdasan musikal melibatkan kemampuan
menyanyikan sebuah lagu, mengingat melodi musik, mempunyai kepekaan akan irama,
atau sekadar menikmati musik, Dalam bentuknya yang lebih canggih, kecerdasan
ini mencakup para diva dan virtuoso piano dan dunia seni dan budaya.
Tujuan materi program dalam kurikulum yang dapat mengembangkan kecerdasan
musikal antara lain mendengarkan musik, melodi, instrumentalia, dan bernyanyi
bersama atau sendiri.
Guru bisa mengajarkan anak tentang
bunyi-bunyian, melalui permainan menebak bunyi alat musik. Permainan ini akan
melatih kepekaan anak terhadap bunyi-bunyian.
Guru bisa meminta siswa untuk
menirukan suara hewan kesukaannya, misalnya suara kucing, kambing dan
sebagainya. Kegiatan lain yang bisa dilakukan adalah dengan menggunakan
permainan “tebak suara”. Guru menirukan suara hewan tertentu kemudian siswa
diminta untuk menebak nama hewan yang suaranya ditirukan oleh guru.
Kecerdasan interpersonal pada anak
dapat dilakuan melalui kegaitan seni , misalnya dengan meminta anak untuk
memainkan alat musik secara berkelompok. Atau guru bisa meminta anak untuk
berpasangan, kemudian anak memainkan alat musik secara bergantian. Kegiatan ini
juga akan mengasah kemampuan sosial anak.
Kecerdasan intrapersonal dapat
dikembangkan dengan menanyakan kepada anak alat musik apa yang disukainya, apa
lagu kesukaannya, dan sebagainya. Setelah mengetahui hal tersebut, maka guru
bisa meminta anak untuk memainkan alat musik kesukaannya atau menyanyikan lagu
kesukaannya.
Anak diminta untuk menceritakan alat
musik yang disukainya, lagu kesukaannya, mengapa ia menyukai hal tersebut, dan
sebagainya. Guru juga bisa meminta siswa untuk menyanyikan lagu kesukaannya di
depan teman-temannya. Selain mengasah kecerdasan verbal anak, kegiatan ini juga
meningkatkan kepercayaan diri anak.
Instrument perkusi pada dasarnya
adalah benda apapun yang dapat menghasilkan suara baik karena dipukul, dikocok,
digosok, diadukan, atau dengan cara apapun yang dapat membuat getaran pada
benda tersebut. Istilah instrument perkusi biasanya digunakan pada benda yang
digunakan sebagai pengiring permainan musik.
Alat musik
perkusi.
Alat musik perkusi disebut juga alat
pukul atau alat tabuh adalah alat musik yang menghasilkan suara yang dipukul,
ditabuh, digoyang, digosok, atau tindakan lain yang membuat objek bergetar
baik, dengan suara alat tongkat, maupun dengan tangan kosong.
Kata ini berasal dari kata latin
percussion yang berarti memukul dan percussus kata benda yang berarti pukulan,
jenis music ini diantaranya drum.
Drum adalah salah satu kelompok dari
alat musik perkusi yang terdiri dari kulit yang direntangkan yang dipukul oleh
tangan atau sebuah batang (stick). Kadang selain kulit juga digunakan bahan
lain misalnya plastik
F. Kerangka
Berfikir
Peranan
guru dalam pengembangan
seni melalui alat music perkusi AUD, meruoakan pembelajaran tematik, gabungan antara berbagai
bidang kajian misal dibidang perkembangan jasmani (fisik dan motorik),
perkembangan kognitif, perkembangan berbicara, perkembangan emosi, perkembangan
sosial, dan lainnya.
Guru
sangat berperan penting terhadap keberhasilan implementasi KTSP, karena gurulah
yang pada akhirnya akan menyelesaikan kurikulum dikelas khususnya pengembangan
seni melalui alat music perkusi AUD.
Salah
satu contoh seni musik alat perkusi anak usia dini adalah bentuk komunikasi
melalui bunyi-bunyian, misalnya suara botol, gelas, kayu dan sebagainya. Dengan
menggunakan musik, guru bias meminta siswa untuk melakukan atraksi dengan
mengikuti music yang dimainkan. Melalui atraksi tersebut, kecerdasan visual
spasial anak akan terarah.
G. Hipotesis
Tindakan
Hipotesis
tindakan dalam penelitian ini adalalah” pengembangan seni melalui alat music
perkusi di Xxxxxxxxxxxx”
Berdasarkan
pengertian tersebut, maka hipotesis tindakan diambil dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut:
1.
Jika anak
bermain musik, maka pengembangan seni anak akan meningkat.
2.
Jika anak
mempunyai keinginan, untuk bermain musik maka, perkembangan belajar seni anak akan berkembang.
3.
Jika anak dapat
mengembangkan seni melalui alat musik perkusi secara baik, maka perkembangan
seni akan akan berkembang lebih baik.
H. Metode
Penelitian
1.
Pendekatan dan
Jenis penelitian
Pendekatan
dalam penelitian ini adalah Kualitatif, penelitian kualitatif bertujuan untuk melakukan penafsiran terhadap
fenomena sosial. Metodologi penelitian yang dipakai adalah multi metodologi,
sehingga sebenarnya tidak ada metodologi yang khusus. Para periset kualitatif
dapat menggunakan semiotika, narasi, isi, diskurus, arsip, analisis fenomik,
bahkan statistik, (Agus Salim, 2006).
Dalam
penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode penelitian tindakan kelas
yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh variable bebas terhadap variable
terukat setelah diterapkan pembelajarandengan menggunakan media pengembangan
seni melalui alat musik perkusi anak Taman kanak-kanak.
Dalam
bidang pendidikan, khusnya dalam praktik pembelajaran, penelitian tindakan
berkembang menjadi penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau classroom Action Research
(CAR). PTK adalah penelitian tindakan yang dilakukan dengan tujuan untuk
memperbaiki atau meningkatkan kualitas pembelajaran. PTK berfokus pada kelas
atau pada proses pembelajaran yang terjadi di dalam kelas (Suharsini Arikunto,
2002 : 78).
2.
Lokasi dan waktu
penelitian
Penelitian
tindakan kelas ini dalaksanakan di Xxxxxxxxxxxx
3.
Subyek
penelitian
Subyek
penelitian ini adalah siswa kelompok A dan B Xxxxxxxxxxxx.
4.
Fokus penelitian
Penelitian ini
difokuskan pada peningkatan pengembangan seni melalui alat musik perkusi di Xxxxxxxxxxxx.
5.
Teknik
Pengumpulan Data.
Beberapa teknik pengumpulan data
dalam penelitian kualitatif, yaitu :
a.
Wawancara
Wawancara
merupakan alat re-cheking atau pembuktian terhadap informasi atau keterangan
yang diperoleh sebelumnya. Teknik wawancara yang digunakan dalam penelitian
kualitatif adalah wawancara mendalam (in-depth interview) adalah proses
memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara Tanya jawab sambil
bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai,
dengan atau tanpa ,menggunakan pdoman (guide) wawancar, di mana pewawancara dan
informasi terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama.
b.
Observasi
Beberapa
informasi yang diperoleh dari hasil observasi adalah ruang (tempat), pelaku,
kegiatan, objek, perbuatan, kejadian atau peristiwa, waktu, dan perasaan.
Alasan peneliti melakukan observasi adalah untuk menyajikan gambaran realistic
perilaku atau kejadian, untuk menjawab pertanyaan, untuk evaluasi yaitu
melakukan pengukuran terhadap aspek tertentu melakukan umpan balik terhadap
pengukuran tersebut.
6.
Keabsahan Data
Banyak hasil
penelitian kualitatif diragukan kebenarannya karena beberapa hal, yaitu
subjektivitas peneliti merupakan hal yang dominan dalam penelitian kualitatif,
alat penelitian yang diandalkan adalah wawancara dan observasi mengandung
banyak kelemahan ketika dilakukan secara terbuka dan apalagi tanpa control,
sumber dan kualitatif yang kurang credible aka mempengaruhi hasil akurasi
penelitian. Oleh karena itu, dibutuhkan beberapa cara menentukan keabsahan
data yaitu:
a.
Kredibilitas
Apakah
proses dan hasil penelitian dapat diterima atau dipercaya. Beberapa criteria
dalam menilai adalah lama penelitian, observasi yang detail, triangulasi, per
debriefing, analisi kasus negative, membandingkan dengan hasil penelitian lain,
dan member check. Cara memperoleh tingkat kepercayaan hasil penelitian, yaitu :
1. Memperpanjang
masa pengamatan memungkinkan membangun kepercayaan para responden terhadap
peneliiti dan juga kepercayaan diri peneliti sendiri.
2. Pengamatan
yang terus menerus, untuk menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi
yang sangat relevan dengan persoalan
atau isu yang sedang diteliti, serta memusatkan diri pada hal-hal tersebut
secara rinci.
3. Triangulasi,
pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data
untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembandingan terhadap data tersebut.
4.
Peer debriefing
(membicarakannya dengan orang lain) yaitu mengekspos hasil sementara atau hasil
akhir yang diperoleh dalam bentuk diskusi analitik dengan rekan-rekan sejawat.
5.
Mengadakan
member check yaitu dengan menguji kemungkinan dugaan-dugaan yang berbeda dan
mengembangkan pengujian-pengujian untuk mengecek analisia, dengan
mengaplikasikannya.
b.
Reliabilitas
Realibilitas
penelitian kualitatif dipengaruhi oleh definisi konsep yaitu suatu konsep dan
definisi yang dirumuskan berbeda-beda menurut pengetahuan peneliti, metode pengumpulan
dan analisis data, situasi dan kondisi sosial, status dan kedudukan peneliti
dihadapkan responden, serta hubungan peneliti dengan responden.
7.
Analisis Data
Analisis
data merupakan upaya mancari dan menata secara sistematis catatan hasil
observasi wawancara dan lainnya guna menigkatkan pemahaman penelitian tentang
kasusu yang diteliti dan menjadikannya sebagai teman bagi orang lain. Sedangkan
demi meningkatkan pemahaman tersebut analisis perlu dilanjutkan dengan berupaya
mencari makna. (Noeng Muhadjir 1996:104) pola analisis penelitian ini
menggunakan pola pikir idukatif yaitu mengangkat dari fakta-fakta atau
peristiwa-peristiwa yang bersifat khusus tersebut dipelajari dan dianalisis
sehingga bias dibuat suatu kesimpulan dan generalisasi yang bersifat umum.
Sedangkan
teknik yang digunakan untuk pemeriksan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu
yang lain adalah teknik triangulasi. Teknik trigulasi berarti membandingkan dan
mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu
dan alasan yang berbeda dalam penelitian kualitatif hal itu dapat dicapai
dengan beberapa jalan, diantaranya :
a.
Membandingkan
data hasil pengamatan dan hasil wawancara.
b.
Membandingkan
hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.
c.
Pengecekan derajat
kepercayaan penemuan hasil penelitian beberapa teknis pengumpulan data dan
d.
Pengecekan
derajat kepercayaan beberapa sumber data dengan metode yang sama. (lexy J.
Moleong, 1998 : 330-331)
Analisis data
yang digunakan yaitu analisis nonstatistik yaitu menggunakan analisis
deskriptif kualitatif. Analisis data yang diwujudkan bukan dalam bentuk angka
melainkan dalam bentuk laporan dan uraian deskriptif terhadap peningkatan
pengembangan seni siswa melalui alat music perkusi di Xxxxxxxxxxxx. Miles dan
Huberman (1984:56-59) mengemukakan bahwa salah satu permasalahan dalam
penelitian kualitatif adalah nbahwa cara kerja terutama bertalian dengan
kata-kata bukan dengan angka-angka. Rochiati Wiriaatmadja (2008:139)
8.
Desain Penelitian
Penelitian
ini dilakukan dengan menggunakan desain penelitian tindakan kelas (PTK) yang
terdiri dari 3 siklus. Dalam penelitian tindakan kelas ini peneliti mengadopsi
model yang dikembangkan oleh Kurt lewin, kemis dan Ernest Stinger.
Adapun
komponen-komponen pokok yang dijadikan sebagai langkah dalam penelitian ini
adalah : perencanaan (planning), tindakan (acting), pengamatan (observing), dan
refleksi (reflection) Nana Syaodih Sukmadinata (2010:145-146)
Siklus prosedur
penelitian ini dapat divisualisasikan sebagai berikut:
Planing Acting Observasi Reflecting
1.
Siklus I
a.
Tahap
perencanaan
Dalam tahap ini
dilakukan observasi awal untuk mengidentifikasikan masalah dan menganalisis
akar permasalahan, kemudian menetapkan tindakan pemecahannya kegiatan, yakni
dengan menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran, mempersiapkan RKH,
mempersiapkan media yang digunakan, dan membuat alat pengumpul data, termasuk
menyiapkan pertanyaan untuk wawancara dengan guru (observer).
b.
Tahap tindakan
Tahap ini merupakan
tahapan pelaksana dari rencana yang telah dibuat. Melaksanakan proses
pembelajaran. Dengan menggunakan langkah-langkah yang telah ditetapkan.
c.
Tahap pengamatan
Dalam tahap ini
dilakukan pengamatan oleh guru observer terhadap rencana pelaksana pembelajaran
dan terhadap kelangsungan proses pembelajaran melalui lembar pengamatan
terhadap anak.
d.
Tahap refleksi
Dalam tahapan ini
dilakukan evaluasi tahapan-tahapan yang telah dilalui. Menganalisis dan
merefleksi perencana serta proses pembelajaran dan hasil belajar.
2.
Siklus II
a.
Tahap
perencanaan
Dalam tahap ini
dilakukan observasi kedua untuk mengidentifikasi masalah dan menganalisis akar
permasalahan berdasarkan hasil refleksi siklus I, kemudian menetapkan tindakan
pemecahan kegiatan, yakni dengan menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran,
mempersiapkan RKH dan RKM, mempersiapkan media yang digunakan, dan membuat alat
pengumpul data, termasuk menyiapkan pertanyaan untuk wawancara dengan guru
(observer)
b.
Tahap tindakan
c.
Tahap ini
merupakan tahap pelaksana dari rencana yang telah dibuat. Melaksanakan proses
pembelajaran. Dengan langkah –langkah yang telah ditetapkan.
d.
Tahap pengamatan
Dalam tahap ini
dilakukan pengamatan oleh guru observer terhadap rencana pelaksana pembelajaran
dan terhadap kelangsungan proses pembelajaran melalui lembar pengamatan
terhadap anak.
e.
Tahap refleksi
Dalam tahapan ini
dilakukan evaluasi tahapan-tahapan yang telah dilalui. Menganalisis dan
merefleksi perencana serta proses pembelajaran dan hasil belajar.
3.
Siklus III
a.
Tahap
perencanaan
Dalam tahap ini dilakukan
observasi ketiga untuk mengidentifikasi masalah dan menganalisis akar
permasalahan berdasarkan hasil refleksi siklus II, kemudian menetapkan tindakan
pemecahannya kegiatan, yakni dengan menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran,
mempersiapkan RKM, mempersiapkan medi yang digunakan, dan membuat alat
pengumpul data, termasuk menyiapkan pertanyaan untuk wawancara dengan responden
dan guru (observer)
b.
Tahap tindakan
Tahap ini merupakan
tahapan pelaksana dari rencana yang telah dibuat. Melaksanakan proses
pembelajaran. Dengan menggunakan langkah-langkah yang telah ditetapkan.
c.
Tahap pengamatan
Dalam tahap ini
dilakukan pengamatan oleh guru observer terhadap rencana pelaksanaan
pembelajaran dan terhadap kelangsungan proses pembelajaran melalui lembar pengamatan
terhadap anak.
d.
Tahap refleksi
Dalam tahapan
ini dilakukan evaluasi tahapan-tahapan yang telah dilalui. Menganalisis dan
merefleksi perencana serta serta proses pembelajaran dan hasil belajar.
I.
Jadwal
Kegiatan Penelitian
No
|
Uraian Kegiatan
|
Juni
|
Juli
|
Agustus
|
|||||||||
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
||
1
|
Pengajuan
judul skripsi
|
||||||||||||
2
|
Pengajuan
proposal skripsi
|
||||||||||||
3
|
Persetujuan
proposal skripsi
|
||||||||||||
4
|
Kerangka
skripsi
|
||||||||||||
5
|
Pengumpulan
data
|
||||||||||||
6
|
Analisis data
|
||||||||||||
7
|
Penyusunan
laporan
|
||||||||||||
8
|
Revisi
penyusunan
|
||||||||||||
9
|
Ijin di ujikan
|
||||||||||||
10
|
Pelaksanaan
ujian
|
||||||||||||
DAFTAR PUSTAKA
Anselm Strauss dan Juliet Corbin, 2003, Dasar-dasar
Penelitian Kualitatif, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,)
Asmani, Jamal Ma’mur,
2009, Manajemen Strategi Pendidikan Anak Usia Dini, , (Jogjakarta: Diva Press,)
Depdiknas, Pedoman Teknis Penyelenggaraan Kelompok
Bermain, Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini, Jakarta, 2009.
Diane Miller Nielsen. edisi kedua, Mengelola Kelas Untuk Guru TK, PT.
Indeks.
Hajar Pamadhi & Evan Sukardi S.,
Edisi 1. 2008, Seni
Keterampilan Anak.
Universitas Terbuka,.
Khoiri, Nur, Metode Penelitian Pendidikan (Jepara:
Inisnu,
202012)
Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya,
2002)
Mayke, Sugianto T., Dra., (2011). Bermain, Mainan, dan Permainan.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan.
Moeslichatoen, Metode Pengajaran di Taman
Kanak-kanak, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004)
Moleong, Lexy J., Metodologi
Penelitan Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002)
Ramadhy, Sufyan dan
Permadi, Dadi, Bagaimana mengembangkan Kecerdasan, (Bandung: PT Sarana
Panca Karya Nusa, 2009)
S Margono, Metodologi
Penelitian Pendidikan, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004)
S. Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004)
Sagala, Syaeful, Manajemen Berbasis Sekolah dan
Masyarakat, (Jakarta: Nimas Multima, 2004)
Sarno, (2011). Pengantar Pendidikan, Program Studi Pendidikan PAUD. Fakultas Ilmu
Pendidikan IKIP Veteran Semarang.
Sudjana, Nana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar,
(Bandung: CV. Sinar Baru, 1989)
Sujanto, Agus, 1981. Psikologi
Perkembangan, Aksara Baru, jakarta
Sumanto,wasty, (2003), Psikologi Pendidikan, ( Jakarta: PT. Rineka Cipta,)
Syah, Muhibbin, Psikologi Pendidikan dengan
Pendekata Baru, PT. Remaja Rosda Karya, Bandung, 2000
T. Agustin (ed.), Undang-Undang Dasar Republik
Indonesia Amandemen ke-4, (Semarang: CV. Aneka Ilmu,2002)
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa.ed
3_cet. 2, (2002), Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai
Pustaka,)
Trianto,
M.Pd., (2011). Desain Pengembangan
Pembelajaran Tematik Bagi Anak Usia Dini TK/RA & Anak Usia Kelas Awal
SD/MI. Jakarta, Kencana.
Undang-Undang RI No. 20
Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) BAB I pasal 1
item 14, (Bandung: Citra Umbara, 2006)
Wiriaatmaja, Rochiati, (2008), Metode Penelitian Tindakan Kelas, (Bandung: RosdaKarya,)
www.box.net,2009,
Pendidikan dan Peserta Didik
www.organisasi.org,2009,
Perkembangan Peserta Didik
Tidak ada komentar:
Posting Komentar