PENERAPAN
METODE CARD SORT UNTUK
MENINGKATKAN KEAKTIFAN
BELAJAR SISWA KELAS I PADA TEMA II XXXXXXXXXXXXTAHUN PELAJARAN
2014/2015
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang
hayat. Setiap manusia membutuhkan pendidikan, sampai kapan dan dimanapun mereka
berada. Dengan demikian pendidikan
harus benar-benar diarahkan untuk
menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing disamping memiliki
budi pekerti luhur dan moral yang baik. Pendidikan adalah sebuah proses atau
aktivitas yang secara langsung dapat merubah perilaku manusia. Dengan begitu
dapatlah kita pahami sesungguhnya pendidikan adalah usaha yang dijalankan
dengan sengaja, teratur, dan berencana dengan maksud mengubah tingkahlaku manusia
kearah yang diinginkan sebagai suatu usaha yang dilakukan dengan sengaja,
teratur dan berencana.[1]
Pendidikan merupakan usaha agar manusia
dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran. Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 31 ayat (1) menyebutkan bahwa
setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan dan ayat (3) menegaskan bahwa
Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional
yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlaq mulia dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dalam undang-undang.[2]
Proses pembelajaran pada hakekatnya untuk mengembangkan aktivitas dan kreativitas peserta
didik, melalui berbagai interaksi dan pengalaman belajar. Namun dalam
pelaksanaanya seringkali tidak disadari, bahwa masih banyak kegiatan
pembelajaran yang dilaksanakan justru menghambat aktivitas dan kreativitas
peserta didik.[3]
Pada
dasarnya peran seorang guru sangat dibutuhkan dalam mencapai suatu keberhasilan
siswa dalam belajar. Oleh karena itu guru harus bisa memperbaiki strategi dalam
belajar, dengan menentukan dan membuat perencanaan pengajaran secara maksimal.
Hal tersebut dituntut adanya perubahan-perubahan pada diri siswa. Strategi
belajar mengajar dengan menggunakan metode pengajaran maupun akhlak seorang
guru dalam mengelola proses belajar mengajar sangat dibutuhkan dalam kegiatan
pembelajaran. Hal ini dilakukan untuk memberi suatu kemudahan pada siswa dalam
menerapkan pengetahuannya di masyarakat dan lingkungan. Karena pada usia sekolah dasar (6-12
tahun) sudah anak dapat mereaksi rangsangan intelektual, atau melaksanakan
tugas-tugas belajar yang menunutut kemampuan intelektual atau kemampuan
kognitif ( seperti menulis, membaca dan menghitung).[4]
Melihat
kenyataan tersebut dibutuhkan suatu usaha untuk meningkatkan hasil belajar
siswa. Salah satunya adalah dengan menggunakan metode yang tepat dalam
pembelajaran. Salah satu metode yang digunakan guru untuk meningkatkan
pemahaman siswa adalah dengan menggunakan metode cart sort.[5]
Dengan
metode cart sort diharapkan siswa akan lebih tertarik dalam mengikuti pelajaran
sehingga siswa dapat berhasil dalam meningkatkan hasil belajar nya, menjawab
pertanyaan dan mengemukakan pendapatnya dalam proses pembelajaran. Selain
meningkatkan hasil belajar siswa, dengan menggunakan media gambar guru lebih
mudah menyampaikan materi karena siswa dapat melihat langsung hal-hal yang
berkaitan dengan penjelasan dari guru.
Proses pembelajaran merupakan peran penting dalam pencapaian hasil
belajar. Guru memiliki
tugas utama dalam penyelenggara pembelajaran, karena pembelajaran dapat
diartikan sebagai kegiatan untuk membelajarkan siswa. Upaya untuk lebih
meningkatkan keberhasilan belajar siswa diantaranya dapat dilakukan melalui
upaya memperbaiki proses pembelajaran yang selama ini telah dilakukan. Dalam
perbaikan proses pembelajaran ini, peran
guru sangat penting, yaitu menetapkan metode pembelajaran yang tepat. Agar
dapat membangkitkan minat siswa/anak didik pada pelajaran dan meningkatkan
pemahaman siswa. Dengan metode pembelajaran yang tepat dalam proses kegiatan
belajar mengajar, maka keberhasilan dalam belajar dapat tercapai.
Penggunaan metode yang tepat dapat menumbuhkembangkan minat peserta
didik untuk meningkatkan pemahaman siswa Untuk itu seorang guru perlu mencari
strategi alternatif sehingga anak didik tidak akan bosan dalam belajar dan mau
belajar dengan gembira, sehingga dapat
meningkatkan kemampuan dan pada akhirnya pemahaman siswa akan naik, karena adanya motivasi dalam
dirinya yang tumbuh tanpa mereka sadari. Jadi sebaiknya guru menggunakan metode
yang dapat menunjang kegiatan belajar, sehingga dapat dijadikan sebagai alat
yang efektif untuk mencapai tujuan.[6]
Dari kenyataan seperti ini jelaslah guru tersebut perlu dibantu
dengan melibatkan yang bersangkutan pada suatu penelitian tindakan kelas dengan
maksud agar disamping guru memperoleh pengalaman langsung dalam melakukan
pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan kurikulum, juga dapat mengembangkan
kompetensi siswa sesuai dengan yang digariskan dalam kurikulum.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti terdorong untuk
melakukan penelitian tindakan kelas yang berjudul “Penerapan Metode Card Sort
Untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa Kelas I Pada Tema I sub tema III
Pembelajaran VI Di XxxxxxxxxxxxTahun
Pelajaran 2014/2015”
C. Perumusan
Masalah
Permasalahan
dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.
Apakah Penerapan Metode Card Sort dapat Meningkatkan Keaktifan
Belajar Siswa Kelas I Pada Tema I sub tema III Di XxxxxxxxxxxxTahun Pelajaran
2014/2015?
2.
Bagaimana Penerapan Metode Card Sort Untuk Meningkatkan Keaktifan
Belajar Siswa Kelas I Pada Tema I sub tema III Di XxxxxxxxxxxxTahun Pelajaran
2014/2015?
D. Tujuan
Penelitian
Tujuan dalam penelitian ini adalah:
1.
Untuk menjelaskan Penerapan Metode Card Sort dalam Meningkatkan
Keaktifan Belajar Siswa Kelas I Pada Tema I sub tema III Di XxxxxxxxxxxxTahun
Pelajaran 2014/2015?
2. Untuk
Mendiskripsikan Penerapan Metode Card Sort Untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar
Siswa Kelas I Pada Tema I sub tema III Di XxxxxxxxxxxxTahun Pelajaran
2014/2015?
E. Manfaat Penelitian
Peneliti
berharap bahwa hasil penelitian ini dapat memberikan jawaban atas permasalahan
yang telah dikemukakan di atas, dan mengharapkan dapat memberikan manfaat bagi
:
a.
Peneliti
Manfaat yang
dirasakan peneliti sendiri adalah dapat mengetahui menjelaskan Penerapan Metode
Card Sort dalam Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa Kelas I Pada Tema I sub
tema III Di XxxxxxxxxxxxTahun Pelajaran 2014/2015
b.
Peserta
didik
Melalui
penelitian ini diharapkan peserta didik lebih aktif dalam belajar, sehingga
dapat meningkatkan prestasinya.
c.
Guru
a.
Sebagai motivasi untuk meningkatkan ketrampilan bagi
perbaikan dalam proses pembelajaran.
b.
Memperoleh pengalaman langsung dalam menerapkan
pembelajaran dengan menggunakan metode Cart Sort.
d.
Sekolah
Dengan
penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi sekolah agar dapat lebih
memperhatikan sarana dan prasarana khususnya dalam pengembangan pembelajaran
dan bagi pendidik untuk lebih termotivasi dalam mengembangkan pembelajaran.
F.. Kerangka Teoritik
1. Pengertian
Peningkatan
Kata
peningkatan atau meningkatkan merupakan kegiatan peneliti membangun atau
mengusahakan tercapainya suatu kemampuan yang lebih baik dari sebelumnya.
Peneliti berupaya meningkatkan kemampuan peserta didik dalam melakukan operasi
perkalian melalui metode garis. Sehubungan dengan hal tersebut maka dalam
penelitian ini, peneliti mengadakan kegiatan pembelajaran dengan disertai
pemberian bimbingan secara langsung terhadap peserta didik, dalam bentuk
petunjuk, nasihat, ajakan, perintah, pemberian contoh atau latihan, agar
peserta didik benar-benar belajar sehingga tercapai prestasi belajar yang optimal.[7]
2. Keaktifan
Belajar
Menurut teori
kognitif, belajar menunjukan adanya jiwa yang sangat aktif, jiwa mengolah
informasi yang kita terima, tidak sekedar menyimpannya saja tanpa mengadakan
transformasi.(Gage and Berliner). Menurut teori ini anak memiliki sifat aktif,
konstruktif, dan mampu merencanakan sesuatu. Anak mampu untuk mencari,
menemukan dan menggunakan pengetahuan yang diperolehnya. Dalam proses belajar
mengajar anak mampu mengidentifikasi, merumuskan masalah, mencari dan
menentukan fakta, menganalisis, menafsirkan dan menarik kesimpulan. [8]
Aktivitas
belajar merupakan segala kegiatan yang dilakukan dalam proses interaksi (guru
dan siswa) dalam rangka mencapai tujuan belajar. Aktivitas yang dimaksudkan di
sini penekanannya adalah pada siswa, sebab dengan adanya aktivitas siswa dalam
proses pembelajaran terciptalah situasi belajar aktif. Belajar aktif adalah
suatu sistem belajar mengajar yang menekankan keaktifan siswa secara fisik,
mental intelektual dan emosional guna memperoleh hasil belajar berupa perpaduan
antara aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Peranan guru dalam aktivitas
pembelajaran sangat kompelks. Guru tidak sekedar menyampaikan ilmu pengetahuan
kepada anak didiknya, akan tetapi guru juga dituntut untuk memainkan berbagai
peran yang bertujuan untuk mengembangkan potensi anak didiknya secara optimal.[9]
Keaktifan siswa
selama proses belajar mengajar merupakan salah satu indikator adanya keinginan
atau motivasi siswa untuk belajar. Siswa dikatakan memiliki keaktifan apabila
ditemukan ciri-ciri perilaku seperti, sering bertanya kepada guru atau siswa
lain, mau mengerjakan tugas yang diberikan guru, mampu menjawab pertanyaan,
senang diberi tugas belajar, dan lain sebagainya. Keaktifan siswa dalam proses
pembelajaran akan menyebabkan interaksi yang tinggi antara guru dengan siswa
ataupun dengan siswa itu sendiri.[10]
Hal ini akan mengakibatkan suasana kelas menjadi segar dan kondusif, di mana
masing-masing siswa dapat melibatkan kemampuannya semaksimal mungkin. Aktivitas
yang timbul dari siswa akan mengakibatkan pula terbentuknya pengetahuan dan
keterampilan yang akan mengarah pada peningkatan prestasi.
Keaktifan
belajar siswa merupakan unsur dasar yang penting bagi keberhasilan proses
pembelajaran. Berikut ini dapat dikemukakan beberapa pengertian dari keaktifan
belajar siswa. Aktivitas belajar adalah kegiatan yang bersifat fisik maupun
mental, yaitu berbuat dan berpikir sebagai suatu rangkaian yang tidak dapat
dipisahkan. Belajar yang berhasil mesti melalui berbagai macam aktivitas, baik
aktivitas fisik maupun psikis. Aktivitas fisik ialah siswa giat aktif dengan
anggota badan, membuat sesuatu, bermain ataupun bekerja, ia tidak hanya duduk
dan mendengarkan, melihat atau hanya pasif. Siswa yang memiliki aktivitas
psikis (kejiwaan) adalah jika daya jiwanya bekerja sebanyak-banyaknya atau banyak
berfungsi dalam rangka pembelajaran. Saat siswa aktif jasmaninya dengan
sendirinya ia juga aktif jiwanya, begitu juga sebaliknya.
3.
Metode Card Sort
a.
Pengertian Metode Card Sort
Istilah metode berasal dari bahasa Yunani “metodos”. Kata ini
berasal dari dua suku kata: “metha” berarti melalui atau melewati, dan
“hodos”yang berarti jalan atau cara. Metode berarti jalan atau cara yang harus
di lalui untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam bahasa Arab metode disebut
“Thariqat”, dalam kamus Besar Bahasa Indonesia, “metode” adalah cara yang
teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud, sehingga dilalui untuk
menyajikan bahan pelajaran agar tercapai tujuan pengajaranm. Sehingga metode
merupakan suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.[11]
Metode Cart Sort merupakan kegiatan kolaboratif yang
biasa digunakan untuk mengajarkan konsep, penggolongan, sifat, fakta tentang
suatu objek,mengulangi informasi. Gerakan fisik yang dilakukan siswa dapat
membantu untuk member energy kepada kelas yang telah letih.[12]
Metode ini merupakan kegiatan kolaboratif yang bias
digunakan untuk mengajarkan konsep, karakteristik, klasifikasi, fakta, tentang
obyek atau meriviu informasi. Gerekan fidik yang dominan dalam strategi ini
dapat membantu mendinamiskan kelas yang jenuh atau bosan.
Setiap peserta
didik di beri potongan kertas yang berisi tentang anggota tubuh, kemudian
peserta didik untuk bergerak dan berkeliling didalam kelas untuk menemukan
karty dengan kategori yang samar, peserta didik yang mendapatkan kategori yang
sama di minta menpresentasikan kategori masing-masing di depan kelas, seiring
dengan presentasi dari tiap tiap kategori tersebut, berikan point-point penting
tentang anggota tubuh.[13]
G.
Tinjauan Hasil Penelitian Terdahulu
Penelitian tindakan ini dilakukan sebelumnya, yaitu :
1.
Skripsi berjudul” Pengaruh Keaktifan Siswa Dalam Pembelajaran
Berbasis Kegiatan Laboratorium Materi Pokok Biologi Sel Terhadap Hasil Belajar
Praktikum Biologi Di Kelas XI MAN Semarang I Semarang. Penelitian ini hasil
karya Eko Murdiyahwati NIM. 053811370, Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo. Dalam
penelitian ini dihasilkan bahwa : 1) keaktifan siswa MAN Semarang 1 Semarang
berada dalam kondisi baik, dengan nilai rata-rata yang diperoleh 86,58 yang berada
pada interval 70-91; 2) Hasil belajar siswa MAN Semarang 1 Semarang berada
dalam kondisi yang baik sekali, terbukti dengan nilai rata-rata yang diperoleh
86,5 berada pada interval 84-95. Selanjutnya analisis yang digunakan adalah
analisis regresi dan korelasi, hasil analisis menunjukkan bahwa: terdapat
pengaruh positif antara keaktifan siswa dengan hasil biologi siswa MAN Semarang
1 Semarang ditunjukkan oleh koefisien rxy = 0,585. Angka ini lebih besar dari r
tabel, baik pada taraf signifikansi 1% maupun 5% dan koefisien determinasinya
r2xy = 0,342. hal ini menunjukkan bahwa 34,2% hasil belajar biologi ditentukan
oleh keaktifan siswa melalui fungsi taksiran Y = 0,405491698x + 51,03801174.
2.
Skripsi berjudul” Upaya Peningkatan Hasil Belajar Dan Keaktifan Siswa
Pada Pembelajaran Fiqih Materi Pokok Ketentuan Qurban Dengan Menggunakan Card
Sort (Studi Tindakan Di Kelas V MI Nurul Huda Pegundan Petarukan Pemalang Tahun
Ajaran 2011/2012)” Penelitian ini hasil karya Sunarjo NIM. 093911089, Hasil
penelitian menunjukkan bahwa: terjadi peningkatan hasil belajar dan keaktifan
belajar siswa kelas V MI Nurul Huda Pegundan Petarukan Pemalang pada
pembelajaran fiqih materi pokok ketentuan qurban setelah menerapkan metode card
sort dapat di lihat dari tingkat ketuntasan belajar peserta didik per siklus
yaitu pada pra siklus ada 12 siswa atau 48,5%, mengalami kenaikan pada siklus I
ada 22 siswa atau 66,7%, dan pada siklus II tingkat ketuntasan siswa ada 29
siswa atau 87,9%, peningkatan sebesar sebanyak 21,8% dan 18,8%. Begitu juga
keaktifan belajar juga meningkat dimana pada siklus pada siklus I ada 20 siswa
atau 60,6% dan mengalami kenaikan pada siklus II yaitu ada 30 siswa atau
90,9%,, peningkatan tersebut sebesar 30,3%.
3.
Skripsi berjudul “Upaya Meningkatkan Keaktifan Peserta Didik dalam
Pembelajaran Fiqih Kelas VIII Semester Ganjil Materi Pokok Zakat melalui
Perpaduan Model Pembelajaran Everyone Is A Teacher Here dan Team Quiz di MTs
Uswatun Hasanah Tahun Ajaran 2010/2011”.[14] Penelitian
ini hasil karya Romzanah, Mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang
yang dilaksanakan pada tahun 2010. Di dalam penelitian dibahas bagaimana jika
dua model pembelajaran berbasis active learning dipadukan menjadi satu.
Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa perpaduan dua metode tersebut
dapat meningkatkan keaktifan belajar. Kaitannya dengan penelitian ini adalah
jika penelitian tersebut perpaduan dua metode tapi penelitian hanya menggunakan
satu metode.
Dari ketiga hasil penelitian terdahulu seperti pemaparan di atas,
terdapat kesamaan dengan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis, yaitu keaktifan
belajar. Akan tetapi dari ketiga penelitian tersebut tidak ada yang benar-benar
sama dengan masalah yang akan diteliti. Untuk penelitian yang pertama varibelnya
Y-nya Pembelajaran Berbasis Kegiatan Laboratorium dan kedua , variabel X-nya
ada dua, yaitu Peningkatan Hasil Belajar Dan Keaktifan Siswa dan varibel Y-nya
adalah Pembelajaran Fiqih Materi Pokok Ketentuan Qurban Dengan Menggunakan Card
Sort.
Penelitian yang dilakukan oleh Eko Murdiyahwati adalah hanya ingin
mengetahui seberapa besar pengaruh keaktifan belajar terhadap hasil belajar
biologi. Untuk penelitian yang dilakukan oleh Sunarjo, variabel X-nya sama
yaitu metode card sort namun pada mapel Fiqih, dan pada variabel Y nya ada dua
yaitu: keaktifan belajar dan hasil belajar.
Dan penelitian yang dilakukan oleh Romzanah berusaha memadukan dua
model pembelajaran berbasis active learning menjadi satu. Penelitian ini
menghasilkan kesimpulan bahwa perpaduan dua metode tersebut dapat meningkatkan
keaktifan belajar.
Hal ini merupakan titik perbedaannya karena pada penelitian ini
akan diteliti apakah Penerapan Metode Card Sort dapat Meningkatkan Keaktifan
Belajar Siswa Kelas I Pada Tema I Sub Tema III Di XxxxxxxxxxxxTahun Pelajaran
2014/2015, dan Bagaimana Penerapan Metode Card Sort Untuk Meningkatkan
Keaktifan Belajar Siswa Kelas I Pada Tema I Sub Tema III Di XxxxxxxxxxxxTahun
Pelajaran 2014/2015. Dari pemaparan di atas telah jelas mengenai perbedaan dan
persamaan antara penelitian yang akan dilakukan dengan hasil
penelitian-penelitian yang sudah dilakukan. Oleh karena itu penelitian yang
berjudul “Penerapan Metode Card Sort Untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa
Kelas I Pada Tema I Sub Tema III Di XxxxxxxxxxxxTahun Pelajaran 2014/2015”
dapat dilakukan karena masalah yang akan diteliti bukan duplikasi dari
penelitian-penelitian yang sebelumnya.
H.
Hipotesa Tindakan
Berdasarkan
kerangka teoritik di atas maka hipotesis dalam penelitian ini dapat dirumuskan:
“Penerapan Metode Card Sort dapat Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa Kelas I
Pada Tema I Sub Tema III Di XxxxxxxxxxxxTahun Pelajaran 2014/2015.”
I.
Metode Penelitian
1.
Rancangan Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dipilih dengan menggunakan model
spiral dari John Elliot menyusun model PTK yang berbeda secara skematis dengan
kedua model sebelumnya, yaitu seperti dikemukakan berikut ini. 4 Prosedur PTK
sebenarnya terdiri dari 2 siklus atau lebih. Setiap siklus dilaksanakan sesuai
dengan perubahan yang ingin dicapai. Tetapi dalam penelitian tindakan ini hanya
terdiri dari satu siklus dengan prosedur: 1) perencanaan, 2) pelaksanaan
tindakan, 3) observasi, 4) refleksi.
2.
Lokasi
Penelitian
ini dilaksanakan di XxxxxxxxxxxxJepara.
Adapun
alasan peneliti memilih Xxxxxxxxxxxxsebagai tempat penelitian adalah sebagai
berikut :
a.
Karena
siswa-siswi di Xxxxxxxxxxxxini merupakan siswa-siswi yang berada pada tingkat
sedang dalam hal penyerapan dan penguasaan materi. Hal ini berdasarkan data
kluster sekolah Xxxxxxxxxxxxtahun 2013 bahwa Xxxxxxxxxxxxmerupakan sekolah yang
berada pada kluster satu. Alasan inilah yang menjadi pertimbangan agar penelitian dapat digeneralisasikan untuk siswa yang
berkarakteristik pada umumnya, yaitu siswa dengan kemampuan sedang.
b.
Saat pelaksanaan penelitian, penulis sedang menjalani Pendidikan
Profesi Guru (PPG) di Xxxxxxxxxxxx, sehingga untuk kemudahan dalam pelaksanaan
penelitian maka dipilihlah Xxxxxxxxxxxxsebagai tempat penelitian.
c.
Selain alasan di atas, lokasi Madrasah yang dekat dengan tempat
tinggal peneliti menyebabkan Xxxxxxxxxxxxtersebut dipilih menjadi tempat
penelitian.
3.
Waktu Penelitian
PTK ini dilaksanakan pada semester gasal
tahun pelajaran 2014/2015 yang berlangsung pada bulan Juni sampai dengan Nopember
2014
4.
Subjek Penelitian
Subyek penelitian ini adalah siswa kelas
I Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Bawu
yang berjumlah 32 siswa
terdiri atas 17 siswa perempuan dan 15 siswa laki-laki. Subyek penelitian ini sangat
heterogen dilihat dari kemampuannya yakni ada yang memiliki kemampuan tinggi,
sedang, rendah dan sangat rendah
5. Kolaborator penelitian.
Dalam PTK ini diperlukan hadirnya suatu kerja sama dengan
pihak-pihak lain seperti atasan, sejawat atau kolega, mahasiswa, dan
sebagainya. Kesemuanya itu diharapkan dapat dijadikan sumber data atau data
sumber. Karena pada hakikatnya kedudukan peneliti dalam
PTK merupakan bagian dari situasi dan kondisi dari suatu latar yang
ditelitinya. Peneliti tidak hanya sebagai pengamat, tetapi dia juga terlibat
langsung dalam suatu proses situasi dan kondisi. Bentuk kerja sama atau
kolaborasi di antara para anggota situasi dan kondisi itulah yang menyebabkan
suatu proses dapat berlangsung. Kolaborasi dalam kesempatan ini ialah berupa
sudut pandang yang disampaikan oleh setiap kolaborator. Selanjutnya, sudut
pandang ini dianggap sebagai andil yang sangat penting dalam upaya pemahaman
terhadap berbagai permasalahan yang muncul. Untuk itu, peneliti akan bersikap
bahwa tidak ada sudut pandang dari seseorang yang dapat digunakan untuk
memahami sesuatu masalah secara tuntas dan mampu dibandingkan dengan sudut
pandang yang berasal; dari berbagai pihak. Namun demikian memperoleh berbagai
pandangan dari pada kolaborator, peneliti tetap sebagai figur yang memiliki, kewenangan dan tanggung jawab untuk menentukan apakah sudut pandang dari
kolaborator dipergunakan atau tidak. Oleh karenanya, dapat dikatakan bahwa
fungsi kolaborator hanyalah sebagai pembantu didalam PTK ini, bukan sebagai
yang begitu menentukan terhadap pelaksaanan dan berhasil tidaknya penelitian.
Kolaborasi dalam kesempatan ini ialah berupa sudut pandang yang
disampaikan oleh setiap kolaborator/guru pamong. Selanjutnya, sudut pandang ini
dianggap sebagai andil yang sangat penting dalam upaya pemahaman terhadap
berbagai permasalahan yang muncul. Untuk itu, peneliti akan bersikap bahwa
tidak ada sudut pandang dari seseorang yang dapat digunakan untuk memahami
sesuatu masalah secara tuntas dan mampu dibandingkan dengan sudut pandang yang
berasal; dari berbagai pihak, dalam penelitian ini penulis ditemani 1
kolabolator yaitu: saudara Misbakhul Khoir
7.
Prosedur penelitian
Secara operasional prosedur penelitian tindakan kelas yang
diterapkan dalam penelitian ini diuraikan sebagai berikut:
a.
Pra Siklus
Pembelajaran
pra siklus dilaksanakan pada tanggal 18 Agustus 2014 dengan alokasi waktu 3X35
menit. Pada pelaksanaan pra siklus peneliti sudah menggunakan metode card sort
dalam menyampaikan pembelajaran dengan tahapan:
1)
Perencanaan
Peneliti
merencanakan tindakan berdasarkan tujuan penelitian. Beberapa perangkat yang
disiapkan dalam tahap ini diantaranya:
a.
Rencana Proses Pembelajaran (RPP)
b.
Bahan ajar
c.
Skenario pembelajaran
d.
Quis
e.
Lembar observasi
2)
Pelaksanaan
Tindakan Pelaksanaan pembelajaran dengan Kompetensi Dasar (KD): bahasa
indonesia 1.2 = menerima anugerah tuhan YME berupa bahasa indonesia
yang dikenal sebagai bahasa persatuan dan sarana belajar ditengah kebergaman
bahasa daerah, 2.2=menerima keberadaan tuhan yang maha esa atas penciptaan
manusia dan bahasa yang beragam serta benda-benda di alam sekitar, 3.2= Mengenal
teks petunjuk/arahan tentang perawatan tubuh serta pemeliharaan kesehatan dan
kebugaran tubuh dengan bantuan guru atau teman dalam bahasa Indonesia lisan dan
tulis yang dapat diisi dengan kosakata bahasa daerah untuk membantu pemahaman,
4.2= Mempraktikkan teks arahan/ petunjuk tentang merawat tubuh serta kesehatan
dan kebugaran tubuh secara mandiri dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis yang
dapat diisi dengan kosakata bahasa daerah untuk membantu penyajian. Matematika 1.1
=Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya, 2.1= Menunjukkan
perilaku patuh pada aturan dalam melakukan penjumlahan dan pengurangan sesuai
prosedur/aturan dengan memperhatikan nilai tempat puluhan dan satuan, 3.1=
Mengenal lambang bilangan dan mendeskripsikan kemunculan bilangan dengan bahasa
yang sederhana, 3.2= Mengenal bilangan asli sampai 99 dengan menggunakan benda-
benda yang ada di sekitar rumah, sekolah, atau tempat bermain.
3)
Pengamatan, Selama tahap pengamatan guru melakukan observasi
terhadap kegiatan siswa dalam melatih keterampilan proses selama pembelajaran
dengan menggunakan lembar observasi yang telah disiapkan. Tentang Sikap :
Percaya diri, disiplin, dan bekerja sama, Pengetahuan: Mengetahui alat-alat
untuk mandi dan cara menguraikan bilangan asli sebagai hasil penjumlahan, Keterampilan: berkomunikasi, menulis, dan
menguraikan sebuah bilangan asli sebagai hasil penjumlahan
4)
Refleksi, dari refleksi analisis hasil observasi peneliti/guru
dengan guru obsever sebagai berikut: Hal-hal apa saja yang perlu menjadi
perhatian Bapak/Ibu selama pembelajaran, Siswa mana saja yang perlu mendapatkan
perhatian khusus, Hal-hal apa saja menjadi catatan keberhasilan pembelajaran
yang telah Bapak/ Ibu lakukan, Hal-hal apa saja yang harus diperbaiki dan ditingkatkan
agar pembelajaran yang Bapak/Ibu lakukan menjadi lebih efektif.
8.
Teknik Pengumpulan Data.
a.
Dokumentasi
Cara Dokumentasi dengan mengumpulkan data melalui
peningalan tertulis, seperti arsip, buku-buku tentang pendapat teori, dalil
atau hokum-hukum yang berhubungan dengan masalah penelitian.[15]
Dokumentasi dapat digunakan untuk melihat
hasil belajar siswa berupa nilai yang diperoleh sebelum penerapan penelitian
tindakan kelas, sebagai pembanding penerapan penelitian tindakan kelas.
b.
Tes
Tes merupakan suatu pertanyaan yang menuntut siswa untuk
menjawabnya dalam bentuk menguraikan, mendiskusikan, membandingkan, memberikan
alasan, dan bentuk lain yang sejenis sesuai dengan tuntutan pertanyaan dengan
mengunakan kata-kata dan bahasa sendiri .[16] Data
yang diperoleh melalui tes biasanya dalam bentuk penilaian tertulis dan non tes
(unjuk kerja). Tes ini dilakukan untuk mengetahui hasil belajar siswa yang di
capai sesuai dengan KKM, apabila masih banyak yang di bawah KKM maka perlu
adanya penerapan siklus berikutnya.
c.
Pengamatan/observasi
Pengamatan
dilakukan selama proses kegiatan belajar mengajar untuk memperoleh data
penelitian tentang keaktifan belajar peserta didik. Observasi dapat mengukur atau menilai
hasil dan proses belajar seperti tingkah laku siswa pada waktu belajar.[17]
9.
Teknik analisis data
Data yang diperoleh dianalisis dengan
menggunakan analisis keaktifan siswa kelas I Xxxxxxxxxxxxselama proses belajar
berlangsung. Sedangkan analisis kualitatif dilakukan untuk mengetahui hasil
belajar siswa melalui dengan metode card sort. Untuk menganalisis tingkat
keberhasilan setiap siklus dilakukan dengan cara memberikan evaluasi berupa
soal tes tertulis pada setiap akhir putaran. Analisis ini dihitung dengan
menggunakan statistik sederhana yaitu, penjumlahan nilai yang diperoleh peserta
didik, yang selanjutnya dibagi dengan jumlah peserta didik yang ada di kelas
tersebut sehingga diperoleh rata-rata tes formatif dapat dirumuskan:
X= ∑ X
N
Keterangan:
X : nilai rata-rata
∑ X : jumlah semua nilai siswa
∑ N : jumlah siswa
Pada akhir proses belajar mengajar
peserta didik diberi tes formatif 1 dengan tujuan untuk mengetahui tingkat
keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Apabila
peserta didik lebih banyak memperoleh nilai di bawah ketuntasan, maka tindak
lanjut diberikan tes formatif setelah kegiatan belajar mengajar pada siklus 2
sehingga memperoleh presentasi nilai peserta didik meningkat.
10.
Indikator keberhasilan tindakan
Indikator merupakan suatu patokan atau acuan yang digunakan untuk
menentukan keberhasilan suatu kegiatan atau program. Sesuai dengan
karakteristik penelitian tindakan kelas, maka keberhasilan tindakan berubah ke
arah perbaikan, baik yang terkait dengan anak ataupun pembelajaran dengan
menggunakan metode card sort pada pembelajaran membaca permulaan yang
dibandingkan dengan sebelum ada tindakan dengan sesudah ada tindakan. Terkait
dengan itu, maka indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah :
Tabel 1
Indikator Keberhasilan
|
Hasil
|
Aspek yang dinilai
|
|
70%
|
1.
Keaktifan visual yaitu contohnya membaca, memperhatikan gambar,
mengamati eksperimen, demonstrasi, mengamati orang lain bekerja, dan
sebagainya.
2.
Keaktifan lisan (oral) yaitu mengemukakan suatu fakta atau
prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran,
mengemukakan pendapat, berwawancara, dan diskusi.
3.
Keaktifan mendengarkan yaitu keaktifan siswa mendengarkan
penyajian bahan, mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok, mendengarkan
suatu permainan instrumen musik, dan mendengarkan siaran radio.
4.
Keaktifan menulis yaitu menulis cerita, menulis laporan,
memeriksa karangan, membuat sketsa atau rangkuman, mengerjakan tes, atau
mengisi angket.
5.
Keaktifan menggambar yaitu menggambar, membuat grafik, chart,
diagram, peta, atau merancang pola misalnya.
6.
Keaktifan motorik yaitu melakukan percobaan, memilih alat-alat,
melaksanakan pameran, membuat model, menyelenggarakan permainan (simulasi),
menari, dan berkebun.
7.
Keaktifan mental yaitu merenungkan, mengingat, memecahkan
masalah, menganalisis faktor-faktor, menemukan hubungan, dan membuat
keputusan.
8.
Keaktifan emosional yaitu contohnya minat, bosan, gembira,
berani, dan tenang.
|
11.
Instrumen penelitian
Dalam penelitian ini, instrumen yang digunakan adalah sebagai
berikut:
a.
Check list atau daftar cek adalah pedoman observasi yang berisikan
daftar dari semua aspek yang akan diobservasi, sehingga observer tinggal
memberi tanda ada atau tidak adanya dengan tanda cek (√) tentang aspek yang
diobservasi. Check list merupakan alat observasi yang praktis untuk digunakan,
sebab semua aspek yang akan diteliti sudah ditentukan terlebih dahulu.
Peneliti dalam penelitian ini berusaha memilih indikator keaktifan yang
harus dicapai oleh siswa kelas I Xxxxxxxxxxxxkemudian dikaitkan dengan
indikator pembelajaran yang ada dalam RPP. Panduan observasi bertujuan untuk
mendapatkan data yang berhubungan dengan pelaksanaan metode card sort. Data
yang didapat dari observasi ini memberikan informasi tentang keaktifan siswa melalui media kartu kata bergambar ( card sort
)
b.
Dokumentasi.
Dokumentasi merupakan sebuah
pengambilan gambar dimana gambar di sini berupa foto-foto pada saat proses
pembelajaran dengan metode card sort berlangsung. Dokumentasi ini berfungsi
untuk menjadi bukti mengenai adanya proses kegiatan belajar dengan metode card
sort, dan melalui dokumentasi ini juga dapat menjadi suatu cara mengantisipasi
adanya kekeliruan atau kesalahan dalam proses penilaian. Foto-foto yang diambil
saat pembelajaran berlangsung dapat menjadi gambaran konkret mengenai bagaimana
keaktifan dan keantusiasan anak di dalam kelas pada saat pembelajaran dengan metode
card sort.
12.
Jadwal Penelitian
Peneliti harus
merencanakan jadwal PTK dengan matang sebelum melaksanakan PTK di lapangan
dalam bentuk matrik/ tabel. Karena itu diperlukan observasi dan diskusi
intensif dengan guru kelas dalam menyusun jadwal penelitian. Yang perlu
diperhatikan adalah kalender pendidikan, program semester dan jadwal pembelajaran
mapel tertentu yang telah ditetapkan oleh madrasah.
Tabel.2
Jadwal PTK (selama 6 bulan: Juni s.d. November 2014)
|
No
|
Kegiatan
|
Bulan/ Minggu ke
|
|||||
|
|
|
Juni
|
Juli
|
Agust
|
Sept
|
Okt
|
Nov
|
|
1
|
Pematangan
dan konsultasi topik PTK
|
Minggu
ke 3-4
|
|
|
|
|
|
|
2
|
penyusunan
proposal PTK
|
|
Minggu
ke 1-4
|
|
|
|
|
|
3
|
Penyusunan
instrumen PTK
|
|
|
Minggu
Ke 1-4
|
|
|
|
|
4
|
Pelaksanaan
siklus I
|
|
|
|
Minggu 1
|
|
|
|
5
|
Pelaksanaan
siklus II
|
|
|
|
Minggu 2
|
|
|
|
6
|
Analisis Data
|
|
|
|
Minggu 3-4
|
|
|
|
7
|
Penyusunan
laporan PTK
|
|
|
|
|
Minggu 1-3
|
|
|
8
|
Pendaftaran
seminar Hasil PTK
|
|
|
|
|
Minggu 4
|
|
|
9
|
Seminar Hasil
PTK
|
|
|
|
|
|
Minggu 1
|
|
10
|
Revisi
Laporan Hasil PTK
|
|
|
|
|
|
Minggu 2
|
|
11
|
Penyerahan
Laporan Hasil PTK
kepada
pengelola (2 jilid & soft copy)
|
|
|
|
|
|
Minggu 3
|
J..Sistematika penulisan
Sistematika dalam penulisan skripsi
ini terbagi menjadi 3 (tiga) bagian yaitu bagian awal, bagian inti dan bagian
akhir skripsi.
1.
Bagian Awal penelitian ini terdiri
dari halaman judul, abstrak, halaman pengesahan, halaman motto dan persembahan,
kata pengantar, daftar isi dan daftar lampiran.
2.
Bagian Inti PTK terdiri dari 5
(lima) bab yaitu:
Bab I Pendahuluan yang berisi latar
belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, serta
sistematika penulisan skripsi.
Bab II Landasan Teori dan Hipotesis
Tindakan yang berisi tentang metode card sort, berisi tentang pengertian metode
card sort, kelebihan dan kekurangan metode card sort, langkah-langkah metode card sort,
pada sub bab dua berisi tentang keaktifan belajar, indikator keaktifan belajar,
c. Metode Card Sort sebagai
pembelajaran Aktif (Active Learning), kerangka berpikir dan hipotesis
tindakan.
Bab III Metode Penelitian berisi
tentang jenis penelitian, tempat dan waktu penelitian, populasi dan sampel
penelitian, variabel penelitian, teknik pengambilan data, dan teknik analisis
data.
Bab IV Hasil Penelitian dan
Pembahasan berisi tentang hasil penelitian,
pengujian hipotesis, pembahasan hasil penelitian, dan keterbatasan penelitian
Bab V Penutup berisi tentang
simpulan dan saran-saran.
3. Bagian Akhir Skripsi ini berisi
daftar pustaka serta lampiran-lampiran yang berupa instrumen penelitian.
[2] Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Nomor 20
Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 31, ayat (1 dan 3).
[5] Ismail SM, Strategi
Pembelajaran Agama Islam Berbasis Paikem (Semarang: RaSAIL Media Group, 2001), hlm.88.
[6] Syaiful Bahri
Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Rineka
Cipta, 2002), hlm.75
[7]
sutiyonokudus.files.wordpress.com
[8] Dimyati, dan
Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Penerbit Rineka
Cipta, 2006), hlm.45
[10] Sunarto,
“Aktifitas Belajar”, dalam http://id.shvoong.com/social-sciences/1961162-
aktifitas-belajar
[11] Ahmad Munjin
Nasih dan Lilik Nur Kholidah, Metode dan Teknik Pembelajaran Pendidikan
Agama Islam, (Bandung: PT Refika Aditama, 2009 ), hlm. 15
[12] Hamruni H, Strategi dan
model-model pembelajaran aktif dan menyenangkan,(Yogyakarta: Fakultas
Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga: 2009), hlm 280.
[13] Zaini Hisyam, dkk Strategi Pembelajaran aktif, (Yogyakarta:
Pustaka Insan Madani, 2008), hlm. 50.
[14] Romzanah,
“Upaya Meningkatkan Keaktifan Peserta Didik dalam Pembelajaran Fiqih Kelas VIII
Semester Ganjil Materi Pokok Zakat melalui Perpaduan Model Pembelajaran
Everyone Is A Teacher Here dan Team Quiz di MTs Uswatun Hasanah Tahun Ajaran
2010/2011”. Skripsi, (Semarang: IAIN Walisongo, 2010).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar