Senin, 05 Desember 2016

PROPOSAL PTK ( PENELITIAN TINDAKAN KELAS)



PENERAPAN METODE CARD SORT UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN BELAJAR SISWA KELAS I PADA TEMA II XXXXXXXXXXXXTAHUN PELAJARAN 2014/2015


PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Setiap manusia membutuhkan pendidikan, sampai kapan dan dimanapun mereka berada. Dengan demikian pendidikan harus benar-benar diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing disamping memiliki budi pekerti luhur dan moral yang baik. Pendidikan adalah sebuah proses atau aktivitas yang secara langsung dapat merubah perilaku manusia. Dengan begitu dapatlah kita pahami sesungguhnya pendidikan adalah usaha yang dijalankan dengan sengaja, teratur, dan berencana dengan maksud mengubah tingkahlaku manusia kearah yang diinginkan sebagai suatu usaha yang dilakukan dengan sengaja, teratur dan berencana.[1]
Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 31 ayat (1) menyebutkan bahwa setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan dan ayat (3) menegaskan bahwa Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlaq mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dalam undang-undang.[2]
Proses pembelajaran pada hakekatnya untuk mengembangkan aktivitas dan kreativitas peserta didik, melalui berbagai interaksi dan pengalaman belajar. Namun dalam pelaksanaanya seringkali tidak disadari, bahwa masih banyak kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan justru menghambat aktivitas dan kreativitas peserta didik.[3]
Pada dasarnya peran seorang guru sangat dibutuhkan dalam mencapai suatu keberhasilan siswa dalam belajar. Oleh karena itu guru harus bisa memperbaiki strategi dalam belajar, dengan menentukan dan membuat perencanaan pengajaran secara maksimal. Hal tersebut dituntut adanya perubahan-perubahan pada diri siswa. Strategi belajar mengajar dengan menggunakan metode pengajaran maupun akhlak seorang guru dalam mengelola proses belajar mengajar sangat dibutuhkan dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini dilakukan untuk memberi suatu kemudahan pada siswa dalam menerapkan pengetahuannya di masyarakat dan lingkungan. Karena pada usia sekolah dasar (6-12 tahun) sudah anak dapat mereaksi rangsangan intelektual, atau melaksanakan tugas-tugas belajar yang menunutut kemampuan intelektual atau kemampuan kognitif ( seperti menulis, membaca dan menghitung).[4]
Melihat kenyataan tersebut dibutuhkan suatu usaha untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Salah satunya adalah dengan menggunakan metode yang tepat dalam pembelajaran. Salah satu metode yang digunakan guru untuk meningkatkan pemahaman siswa adalah dengan menggunakan metode cart sort.[5]
Dengan metode cart sort diharapkan siswa akan lebih tertarik dalam mengikuti pelajaran sehingga siswa dapat berhasil dalam meningkatkan hasil belajar nya, menjawab pertanyaan dan mengemukakan pendapatnya dalam proses pembelajaran. Selain meningkatkan hasil belajar siswa, dengan menggunakan media gambar guru lebih mudah menyampaikan materi karena siswa dapat melihat langsung hal-hal yang berkaitan dengan penjelasan dari guru.
Proses pembelajaran merupakan peran penting dalam pencapaian hasil belajar. Guru memiliki tugas utama dalam penyelenggara pembelajaran, karena pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan untuk membelajarkan siswa. Upaya untuk lebih meningkatkan keberhasilan belajar siswa diantaranya dapat dilakukan melalui upaya memperbaiki proses pembelajaran yang selama ini telah dilakukan. Dalam perbaikan proses  pembelajaran ini, peran guru sangat penting, yaitu menetapkan metode pembelajaran yang tepat. Agar dapat membangkitkan minat siswa/anak didik pada pelajaran dan meningkatkan pemahaman siswa. Dengan metode pembelajaran yang tepat dalam proses kegiatan belajar mengajar, maka keberhasilan dalam belajar dapat tercapai.
      Penggunaan metode yang tepat dapat menumbuhkembangkan minat peserta didik untuk meningkatkan pemahaman siswa Untuk itu seorang guru perlu mencari strategi alternatif sehingga anak didik tidak akan bosan dalam belajar dan mau belajar dengan gembira, sehingga dapat meningkatkan kemampuan dan pada akhirnya pemahaman siswa  akan naik, karena adanya motivasi dalam dirinya yang tumbuh tanpa mereka sadari. Jadi sebaiknya guru menggunakan metode yang dapat menunjang kegiatan belajar, sehingga dapat dijadikan sebagai alat yang efektif untuk mencapai tujuan.[6]
Dari kenyataan seperti ini jelaslah guru tersebut perlu dibantu dengan melibatkan yang bersangkutan pada suatu penelitian tindakan kelas dengan maksud agar disamping guru memperoleh pengalaman langsung dalam melakukan pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan kurikulum, juga dapat mengembangkan kompetensi siswa sesuai dengan yang digariskan dalam kurikulum.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti terdorong untuk melakukan penelitian tindakan kelas yang berjudul “Penerapan Metode Card Sort Untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa Kelas I Pada Tema I sub tema III Pembelajaran VI  Di XxxxxxxxxxxxTahun Pelajaran 2014/2015”
C.  Perumusan Masalah
Permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.    Apakah Penerapan Metode Card Sort dapat Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa Kelas I Pada Tema I sub tema III Di XxxxxxxxxxxxTahun Pelajaran 2014/2015?
2.    Bagaimana Penerapan Metode Card Sort Untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa Kelas I Pada Tema I sub tema III Di XxxxxxxxxxxxTahun Pelajaran 2014/2015? 
D. Tujuan Penelitian
Tujuan dalam penelitian ini adalah:
1.    Untuk menjelaskan Penerapan Metode Card Sort dalam Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa Kelas I Pada Tema I sub tema III Di XxxxxxxxxxxxTahun Pelajaran 2014/2015?
2.    Untuk Mendiskripsikan Penerapan Metode Card Sort Untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa Kelas I Pada Tema I sub tema III Di XxxxxxxxxxxxTahun Pelajaran 2014/2015?
E. Manfaat Penelitian
Peneliti berharap bahwa hasil penelitian ini dapat memberikan jawaban atas permasalahan yang telah dikemukakan di atas, dan mengharapkan dapat memberikan manfaat bagi :
a.    Peneliti
Manfaat yang dirasakan peneliti sendiri adalah dapat mengetahui menjelaskan Penerapan Metode Card Sort dalam Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa Kelas I Pada Tema I sub tema III Di XxxxxxxxxxxxTahun Pelajaran 2014/2015
b.    Peserta didik
Melalui penelitian ini diharapkan peserta didik lebih aktif dalam belajar, sehingga dapat meningkatkan prestasinya.
c.    Guru
a.    Sebagai motivasi untuk meningkatkan ketrampilan bagi perbaikan dalam proses pembelajaran.
b.    Memperoleh pengalaman langsung dalam menerapkan pembelajaran dengan menggunakan metode Cart Sort.
d.   Sekolah
Dengan penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi sekolah agar dapat lebih memperhatikan sarana dan prasarana khususnya dalam pengembangan pembelajaran dan bagi pendidik untuk lebih termotivasi dalam mengembangkan pembelajaran.
F.. Kerangka Teoritik
1.    Pengertian Peningkatan
Kata peningkatan atau meningkatkan merupakan kegiatan peneliti membangun atau mengusahakan tercapainya suatu kemampuan yang lebih baik dari sebelumnya. Peneliti berupaya meningkatkan kemampuan peserta didik dalam melakukan operasi perkalian melalui metode garis. Sehubungan dengan hal tersebut maka dalam penelitian ini, peneliti mengadakan kegiatan pembelajaran dengan disertai pemberian bimbingan secara langsung terhadap peserta didik, dalam bentuk petunjuk, nasihat, ajakan, perintah, pemberian contoh atau latihan, agar peserta didik benar-benar belajar sehingga tercapai prestasi belajar yang optimal.[7]
2.    Keaktifan Belajar
Menurut teori kognitif, belajar menunjukan adanya jiwa yang sangat aktif, jiwa mengolah informasi yang kita terima, tidak sekedar menyimpannya saja tanpa mengadakan transformasi.(Gage and Berliner). Menurut teori ini anak memiliki sifat aktif, konstruktif, dan mampu merencanakan sesuatu. Anak mampu untuk mencari, menemukan dan menggunakan pengetahuan yang diperolehnya. Dalam proses belajar mengajar anak mampu mengidentifikasi, merumuskan masalah, mencari dan menentukan fakta, menganalisis, menafsirkan dan menarik kesimpulan. [8]
Aktivitas belajar merupakan segala kegiatan yang dilakukan dalam proses interaksi (guru dan siswa) dalam rangka mencapai tujuan belajar. Aktivitas yang dimaksudkan di sini penekanannya adalah pada siswa, sebab dengan adanya aktivitas siswa dalam proses pembelajaran terciptalah situasi belajar aktif. Belajar aktif adalah suatu sistem belajar mengajar yang menekankan keaktifan siswa secara fisik, mental intelektual dan emosional guna memperoleh hasil belajar berupa perpaduan antara aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Peranan guru dalam aktivitas pembelajaran sangat kompelks. Guru tidak sekedar menyampaikan ilmu pengetahuan kepada anak didiknya, akan tetapi guru juga dituntut untuk memainkan berbagai peran yang bertujuan untuk mengembangkan potensi anak didiknya secara optimal.[9]
Keaktifan siswa selama proses belajar mengajar merupakan salah satu indikator adanya keinginan atau motivasi siswa untuk belajar. Siswa dikatakan memiliki keaktifan apabila ditemukan ciri-ciri perilaku seperti, sering bertanya kepada guru atau siswa lain, mau mengerjakan tugas yang diberikan guru, mampu menjawab pertanyaan, senang diberi tugas belajar, dan lain sebagainya. Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran akan menyebabkan interaksi yang tinggi antara guru dengan siswa ataupun dengan siswa itu sendiri.[10] Hal ini akan mengakibatkan suasana kelas menjadi segar dan kondusif, di mana masing-masing siswa dapat melibatkan kemampuannya semaksimal mungkin. Aktivitas yang timbul dari siswa akan mengakibatkan pula terbentuknya pengetahuan dan keterampilan yang akan mengarah pada peningkatan prestasi.
Keaktifan belajar siswa merupakan unsur dasar yang penting bagi keberhasilan proses pembelajaran. Berikut ini dapat dikemukakan beberapa pengertian dari keaktifan belajar siswa. Aktivitas belajar adalah kegiatan yang bersifat fisik maupun mental, yaitu berbuat dan berpikir sebagai suatu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. Belajar yang berhasil mesti melalui berbagai macam aktivitas, baik aktivitas fisik maupun psikis. Aktivitas fisik ialah siswa giat aktif dengan anggota badan, membuat sesuatu, bermain ataupun bekerja, ia tidak hanya duduk dan mendengarkan, melihat atau hanya pasif. Siswa yang memiliki aktivitas psikis (kejiwaan) adalah jika daya jiwanya bekerja sebanyak-banyaknya atau banyak berfungsi dalam rangka pembelajaran. Saat siswa aktif jasmaninya dengan sendirinya ia juga aktif jiwanya, begitu juga sebaliknya.
3.    Metode Card Sort
a.    Pengertian Metode Card Sort
Istilah metode berasal dari bahasa Yunani “metodos”. Kata ini berasal dari dua suku kata: “metha” berarti melalui atau melewati, dan “hodos”yang berarti jalan atau cara. Metode berarti jalan atau cara yang harus di lalui untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam bahasa Arab metode disebut “Thariqat”, dalam kamus Besar Bahasa Indonesia, “metode” adalah cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud, sehingga dilalui untuk menyajikan bahan pelajaran agar tercapai tujuan pengajaranm. Sehingga metode merupakan suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.[11] 
Metode Cart Sort merupakan kegiatan kolaboratif yang biasa digunakan untuk mengajarkan konsep, penggolongan, sifat, fakta tentang suatu objek,mengulangi informasi. Gerakan fisik yang dilakukan siswa dapat membantu untuk member energy kepada kelas yang telah letih.[12]
Metode ini merupakan kegiatan kolaboratif yang bias digunakan untuk mengajarkan konsep, karakteristik, klasifikasi, fakta, tentang obyek atau meriviu informasi. Gerekan fidik yang dominan dalam strategi ini dapat membantu mendinamiskan kelas yang jenuh atau bosan.
   Setiap peserta didik di beri potongan kertas yang berisi tentang anggota tubuh, kemudian peserta didik untuk bergerak dan berkeliling didalam kelas untuk menemukan karty dengan kategori yang samar, peserta didik yang mendapatkan kategori yang sama di minta menpresentasikan kategori masing-masing di depan kelas, seiring dengan presentasi dari tiap tiap kategori tersebut, berikan point-point penting tentang anggota tubuh.[13]
G. Tinjauan Hasil Penelitian Terdahulu
Penelitian tindakan ini  dilakukan sebelumnya, yaitu :
1.    Skripsi berjudul” Pengaruh Keaktifan Siswa Dalam Pembelajaran Berbasis Kegiatan Laboratorium Materi Pokok Biologi Sel Terhadap Hasil Belajar Praktikum Biologi Di Kelas XI MAN Semarang I Semarang. Penelitian ini hasil karya Eko Murdiyahwati NIM. 053811370, Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo. Dalam penelitian ini dihasilkan bahwa : 1) keaktifan siswa MAN Semarang 1 Semarang berada dalam kondisi baik, dengan nilai rata-rata yang diperoleh 86,58 yang berada pada interval 70-91; 2) Hasil belajar siswa MAN Semarang 1 Semarang berada dalam kondisi yang baik sekali, terbukti dengan nilai rata-rata yang diperoleh 86,5 berada pada interval 84-95. Selanjutnya analisis yang digunakan adalah analisis regresi dan korelasi, hasil analisis menunjukkan bahwa: terdapat pengaruh positif antara keaktifan siswa dengan hasil biologi siswa MAN Semarang 1 Semarang ditunjukkan oleh koefisien rxy = 0,585. Angka ini lebih besar dari r tabel, baik pada taraf signifikansi 1% maupun 5% dan koefisien determinasinya r2xy = 0,342. hal ini menunjukkan bahwa 34,2% hasil belajar biologi ditentukan oleh keaktifan siswa melalui fungsi taksiran Y = 0,405491698x + 51,03801174.
2.    Skripsi berjudul” Upaya Peningkatan Hasil Belajar Dan Keaktifan Siswa Pada Pembelajaran Fiqih Materi Pokok Ketentuan Qurban Dengan Menggunakan Card Sort (Studi Tindakan Di Kelas V MI Nurul Huda Pegundan Petarukan Pemalang Tahun Ajaran 2011/2012)” Penelitian ini hasil karya Sunarjo NIM. 093911089, Hasil penelitian menunjukkan bahwa: terjadi peningkatan hasil belajar dan keaktifan belajar siswa kelas V MI Nurul Huda Pegundan Petarukan Pemalang pada pembelajaran fiqih materi pokok ketentuan qurban setelah menerapkan metode card sort dapat di lihat dari tingkat ketuntasan belajar peserta didik per siklus yaitu pada pra siklus ada 12 siswa atau 48,5%, mengalami kenaikan pada siklus I ada 22 siswa atau 66,7%, dan pada siklus II tingkat ketuntasan siswa ada 29 siswa atau 87,9%, peningkatan sebesar sebanyak 21,8% dan 18,8%. Begitu juga keaktifan belajar juga meningkat dimana pada siklus pada siklus I ada 20 siswa atau 60,6% dan mengalami kenaikan pada siklus II yaitu ada 30 siswa atau 90,9%,, peningkatan tersebut sebesar 30,3%.
3.    Skripsi berjudul “Upaya Meningkatkan Keaktifan Peserta Didik dalam Pembelajaran Fiqih Kelas VIII Semester Ganjil Materi Pokok Zakat melalui Perpaduan Model Pembelajaran Everyone Is A Teacher Here dan Team Quiz di MTs Uswatun Hasanah Tahun Ajaran 2010/2011”.[14] Penelitian ini hasil karya Romzanah, Mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang yang dilaksanakan pada tahun 2010. Di dalam penelitian dibahas bagaimana jika dua model pembelajaran berbasis active learning dipadukan menjadi satu. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa perpaduan dua metode tersebut dapat meningkatkan keaktifan belajar. Kaitannya dengan penelitian ini adalah jika penelitian tersebut perpaduan dua metode tapi penelitian hanya menggunakan satu metode.
Dari ketiga hasil penelitian terdahulu seperti pemaparan di atas, terdapat kesamaan dengan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis, yaitu keaktifan belajar. Akan tetapi dari ketiga penelitian tersebut tidak ada yang benar-benar sama dengan masalah yang akan diteliti. Untuk penelitian yang pertama varibelnya Y-nya Pembelajaran Berbasis Kegiatan Laboratorium dan kedua , variabel X-nya ada dua, yaitu Peningkatan Hasil Belajar Dan Keaktifan Siswa dan varibel Y-nya adalah Pembelajaran Fiqih Materi Pokok Ketentuan Qurban Dengan Menggunakan Card Sort.
Penelitian yang dilakukan oleh Eko Murdiyahwati adalah hanya ingin mengetahui seberapa besar pengaruh keaktifan belajar terhadap hasil belajar biologi. Untuk penelitian yang dilakukan oleh Sunarjo, variabel X-nya sama yaitu metode card sort namun pada mapel Fiqih, dan pada variabel Y nya ada dua yaitu: keaktifan belajar dan hasil belajar.
Dan penelitian yang dilakukan oleh Romzanah berusaha memadukan dua model pembelajaran berbasis active learning menjadi satu. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa perpaduan dua metode tersebut dapat meningkatkan keaktifan belajar.
Hal ini merupakan titik perbedaannya karena pada penelitian ini akan diteliti apakah Penerapan Metode Card Sort dapat Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa Kelas I Pada Tema I Sub Tema III Di XxxxxxxxxxxxTahun Pelajaran 2014/2015, dan Bagaimana Penerapan Metode Card Sort Untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa Kelas I Pada Tema I Sub Tema III Di XxxxxxxxxxxxTahun Pelajaran 2014/2015. Dari pemaparan di atas telah jelas mengenai perbedaan dan persamaan antara penelitian yang akan dilakukan dengan hasil penelitian-penelitian yang sudah dilakukan. Oleh karena itu penelitian yang berjudul “Penerapan Metode Card Sort Untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa Kelas I Pada Tema I Sub Tema III Di XxxxxxxxxxxxTahun Pelajaran 2014/2015” dapat dilakukan karena masalah yang akan diteliti bukan duplikasi dari penelitian-penelitian yang sebelumnya.
H.  Hipotesa Tindakan
Berdasarkan kerangka teoritik di atas maka hipotesis dalam penelitian ini dapat dirumuskan: “Penerapan Metode Card Sort dapat Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa Kelas I Pada Tema I Sub Tema III Di XxxxxxxxxxxxTahun Pelajaran 2014/2015.”
I. Metode Penelitian
1.    Rancangan Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dipilih dengan menggunakan model spiral dari John Elliot menyusun model PTK yang berbeda secara skematis dengan kedua model sebelumnya, yaitu seperti dikemukakan berikut ini. 4 Prosedur PTK sebenarnya terdiri dari 2 siklus atau lebih. Setiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai. Tetapi dalam penelitian tindakan ini hanya terdiri dari satu siklus dengan prosedur: 1) perencanaan, 2) pelaksanaan tindakan, 3) observasi, 4) refleksi.
2.    Lokasi
Penelitian ini dilaksanakan di XxxxxxxxxxxxJepara. 
Adapun alasan peneliti memilih Xxxxxxxxxxxxsebagai tempat penelitian adalah sebagai berikut :
a.    Karena siswa-siswi di Xxxxxxxxxxxxini merupakan siswa-siswi yang berada pada tingkat sedang dalam hal penyerapan dan penguasaan materi. Hal ini berdasarkan data kluster sekolah Xxxxxxxxxxxxtahun 2013 bahwa Xxxxxxxxxxxxmerupakan sekolah yang berada pada kluster satu. Alasan inilah yang menjadi pertimbangan agar penelitian dapat digeneralisasikan untuk siswa yang berkarakteristik pada umumnya, yaitu siswa dengan kemampuan sedang.
b.    Saat pelaksanaan penelitian, penulis sedang menjalani Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Xxxxxxxxxxxx, sehingga untuk kemudahan dalam pelaksanaan penelitian maka dipilihlah Xxxxxxxxxxxxsebagai tempat penelitian.
c.    Selain alasan di atas, lokasi Madrasah yang dekat dengan tempat tinggal peneliti menyebabkan Xxxxxxxxxxxxtersebut dipilih menjadi tempat penelitian.
3.    Waktu Penelitian
PTK ini dilaksanakan pada semester gasal tahun pelajaran 2014/2015 yang berlangsung pada bulan Juni sampai dengan Nopember 2014
4.    Subjek Penelitian
Subyek penelitian ini adalah siswa kelas I Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Bawu  yang berjumlah 32  siswa terdiri atas 17 siswa perempuan dan 15 siswa laki-laki. Subyek penelitian ini sangat heterogen dilihat dari kemampuannya yakni ada yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, rendah dan sangat rendah
5.    Kolaborator penelitian.
Dalam PTK ini diperlukan hadirnya suatu kerja sama dengan pihak-pihak lain seperti atasan, sejawat atau kolega, mahasiswa, dan sebagainya. Kesemuanya itu diharapkan dapat dijadikan sumber data atau data sumber. Karena pada hakikatnya kedudukan peneliti dalam PTK merupakan bagian dari situasi dan kondisi dari suatu latar yang ditelitinya. Peneliti tidak hanya sebagai pengamat, tetapi dia juga terlibat langsung dalam suatu proses situasi dan kondisi. Bentuk kerja sama atau kolaborasi di antara para anggota situasi dan kondisi itulah yang menyebabkan suatu proses dapat berlangsung. Kolaborasi dalam kesempatan ini ialah berupa sudut pandang yang disampaikan oleh setiap kolaborator. Selanjutnya, sudut pandang ini dianggap sebagai andil yang sangat penting dalam upaya pemahaman terhadap berbagai permasalahan yang muncul. Untuk itu, peneliti akan bersikap bahwa tidak ada sudut pandang dari seseorang yang dapat digunakan untuk memahami sesuatu masalah secara tuntas dan mampu dibandingkan dengan sudut pandang yang berasal; dari berbagai pihak. Namun demikian memperoleh berbagai pandangan dari pada kolaborator, peneliti tetap sebagai figur yang memiliki, kewenangan dan tanggung jawab untuk menentukan apakah sudut pandang dari kolaborator dipergunakan atau tidak. Oleh karenanya, dapat dikatakan bahwa fungsi kolaborator hanyalah sebagai pembantu didalam PTK ini, bukan sebagai yang begitu menentukan terhadap pelaksaanan dan berhasil tidaknya penelitian.
Kolaborasi dalam kesempatan ini ialah berupa sudut pandang yang disampaikan oleh setiap kolaborator/guru pamong. Selanjutnya, sudut pandang ini dianggap sebagai andil yang sangat penting dalam upaya pemahaman terhadap berbagai permasalahan yang muncul. Untuk itu, peneliti akan bersikap bahwa tidak ada sudut pandang dari seseorang yang dapat digunakan untuk memahami sesuatu masalah secara tuntas dan mampu dibandingkan dengan sudut pandang yang berasal; dari berbagai pihak, dalam penelitian ini penulis ditemani 1 kolabolator yaitu: saudara Misbakhul Khoir
7.    Prosedur penelitian
Secara operasional prosedur penelitian tindakan kelas yang diterapkan dalam penelitian ini diuraikan sebagai berikut:
a.    Pra Siklus
Pembelajaran pra siklus dilaksanakan pada tanggal 18 Agustus 2014 dengan alokasi waktu 3X35 menit. Pada pelaksanaan pra siklus peneliti sudah menggunakan metode card sort dalam menyampaikan pembelajaran dengan tahapan:
1)   Perencanaan
Peneliti merencanakan tindakan berdasarkan tujuan penelitian. Beberapa perangkat yang disiapkan dalam tahap ini diantaranya:
a.    Rencana Proses Pembelajaran (RPP)
b.    Bahan ajar
c.    Skenario pembelajaran
d.   Quis
e.    Lembar observasi
2)   Pelaksanaan
Tindakan Pelaksanaan pembelajaran dengan Kompetensi Dasar (KD): bahasa indonesia  1.2 = menerima anugerah tuhan YME berupa bahasa indonesia yang dikenal sebagai bahasa persatuan dan sarana belajar ditengah kebergaman bahasa daerah, 2.2=menerima keberadaan tuhan yang maha esa atas penciptaan manusia dan bahasa yang beragam serta benda-benda di alam sekitar, 3.2= Mengenal teks petunjuk/arahan tentang perawatan tubuh serta pemeliharaan kesehatan dan kebugaran tubuh dengan bantuan guru atau teman dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis yang dapat diisi dengan kosakata bahasa daerah untuk membantu pemahaman, 4.2= Mempraktikkan teks arahan/ petunjuk tentang merawat tubuh serta kesehatan dan kebugaran tubuh secara mandiri dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis yang dapat diisi dengan kosakata bahasa daerah untuk membantu penyajian. Matematika 1.1 =Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya, 2.1= Menunjukkan perilaku patuh pada aturan dalam melakukan penjumlahan dan pengurangan sesuai prosedur/aturan dengan memperhatikan nilai tempat puluhan dan satuan, 3.1= Mengenal lambang bilangan dan mendeskripsikan kemunculan bilangan dengan bahasa yang sederhana, 3.2= Mengenal bilangan asli sampai 99 dengan menggunakan benda- benda yang ada di sekitar rumah, sekolah, atau tempat bermain.
3)   Pengamatan, Selama tahap pengamatan guru melakukan observasi terhadap kegiatan siswa dalam melatih keterampilan proses selama pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi yang telah disiapkan. Tentang Sikap : Percaya diri, disiplin, dan bekerja sama, Pengetahuan: Mengetahui alat-alat untuk mandi dan cara menguraikan bilangan asli sebagai hasil penjumlahan,  Keterampilan: berkomunikasi, menulis, dan menguraikan sebuah bilangan asli sebagai hasil penjumlahan
4)   Refleksi, dari refleksi analisis hasil observasi peneliti/guru dengan guru obsever sebagai berikut: Hal-hal apa saja yang perlu menjadi perhatian Bapak/Ibu selama pembelajaran, Siswa mana saja yang perlu mendapatkan perhatian khusus, Hal-hal apa saja menjadi catatan keberhasilan pembelajaran yang telah Bapak/ Ibu lakukan, Hal-hal apa saja yang harus diperbaiki dan ditingkatkan agar pembelajaran yang Bapak/Ibu lakukan menjadi lebih efektif.
8.    Teknik Pengumpulan Data.
a.    Dokumentasi
Cara Dokumentasi dengan mengumpulkan data melalui peningalan tertulis, seperti arsip, buku-buku tentang pendapat teori, dalil atau hokum-hukum yang berhubungan dengan masalah penelitian.[15] Dokumentasi  dapat  digunakan untuk melihat hasil belajar siswa berupa nilai yang diperoleh sebelum penerapan penelitian tindakan kelas, sebagai pembanding penerapan penelitian tindakan kelas.
b.    Tes
Tes merupakan suatu pertanyaan yang menuntut siswa untuk menjawabnya dalam bentuk menguraikan, mendiskusikan, membandingkan, memberikan alasan, dan bentuk lain yang sejenis sesuai dengan tuntutan pertanyaan dengan mengunakan kata-kata dan bahasa  sendiri .[16] Data yang diperoleh melalui tes biasanya dalam bentuk penilaian tertulis dan non tes (unjuk kerja). Tes ini dilakukan untuk mengetahui hasil belajar siswa yang di capai sesuai dengan KKM, apabila masih banyak yang di bawah KKM maka perlu adanya penerapan siklus berikutnya.
c.    Pengamatan/observasi
Pengamatan dilakukan selama proses kegiatan belajar mengajar untuk memperoleh data penelitian tentang keaktifan belajar peserta didik. Observasi dapat mengukur atau menilai hasil dan proses belajar seperti tingkah laku siswa pada waktu belajar.[17]
9.    Teknik analisis data
Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis keaktifan siswa kelas I Xxxxxxxxxxxxselama proses belajar berlangsung. Sedangkan analisis kualitatif dilakukan untuk mengetahui hasil belajar siswa melalui dengan metode card sort. Untuk menganalisis tingkat keberhasilan setiap siklus dilakukan dengan cara memberikan evaluasi berupa soal tes tertulis pada setiap akhir putaran. Analisis ini dihitung dengan menggunakan statistik sederhana yaitu, penjumlahan nilai yang diperoleh peserta didik, yang selanjutnya dibagi dengan jumlah peserta didik yang ada di kelas tersebut sehingga diperoleh rata-rata tes formatif dapat dirumuskan:
X= ∑ X
       N
Keterangan:
X : nilai rata-rata
∑ X : jumlah semua nilai siswa
∑ N : jumlah siswa
Pada akhir proses belajar mengajar peserta didik diberi tes formatif 1 dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Apabila peserta didik lebih banyak memperoleh nilai di bawah ketuntasan, maka tindak lanjut diberikan tes formatif setelah kegiatan belajar mengajar pada siklus 2 sehingga memperoleh presentasi nilai peserta didik meningkat.
10.    Indikator keberhasilan tindakan
Indikator merupakan suatu patokan atau acuan yang digunakan untuk menentukan keberhasilan suatu kegiatan atau program. Sesuai dengan karakteristik penelitian tindakan kelas, maka keberhasilan tindakan berubah ke arah perbaikan, baik yang terkait dengan anak ataupun pembelajaran dengan menggunakan metode card sort pada pembelajaran membaca permulaan yang dibandingkan dengan sebelum ada tindakan dengan sesudah ada tindakan. Terkait dengan itu, maka indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah :
Tabel 1
Indikator Keberhasilan
Hasil
Aspek yang dinilai
70%
1.    Keaktifan visual yaitu contohnya membaca, memperhatikan gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, mengamati orang lain bekerja, dan sebagainya.
2.    Keaktifan lisan (oral) yaitu mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, berwawancara, dan diskusi.
3.    Keaktifan mendengarkan yaitu keaktifan siswa mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok, mendengarkan suatu permainan instrumen musik, dan mendengarkan siaran radio.
4.    Keaktifan menulis yaitu menulis cerita, menulis laporan, memeriksa karangan, membuat sketsa atau rangkuman, mengerjakan tes, atau mengisi angket.
5.    Keaktifan menggambar yaitu menggambar, membuat grafik, chart, diagram, peta, atau merancang pola misalnya.
6.    Keaktifan motorik yaitu melakukan percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan pameran, membuat model, menyelenggarakan permainan (simulasi), menari, dan berkebun.
7.    Keaktifan mental yaitu merenungkan, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis faktor-faktor, menemukan hubungan, dan membuat keputusan.
8.    Keaktifan emosional yaitu contohnya minat, bosan, gembira, berani, dan tenang.

11.    Instrumen penelitian
Dalam penelitian ini, instrumen yang digunakan adalah sebagai berikut:
a.    Check list atau daftar cek adalah pedoman observasi yang berisikan daftar dari semua aspek yang akan diobservasi, sehingga observer tinggal memberi tanda ada atau tidak adanya dengan tanda cek (√) tentang aspek yang diobservasi. Check list merupakan alat observasi yang praktis untuk digunakan, sebab semua aspek yang akan diteliti sudah ditentukan terlebih dahulu.
Peneliti dalam penelitian ini berusaha memilih indikator keaktifan yang harus dicapai oleh siswa kelas I Xxxxxxxxxxxxkemudian dikaitkan dengan indikator pembelajaran yang ada dalam RPP. Panduan observasi bertujuan untuk mendapatkan data yang berhubungan dengan pelaksanaan metode card sort. Data yang didapat dari observasi ini memberikan informasi tentang keaktifan siswa  melalui media kartu kata bergambar ( card sort )
b.    Dokumentasi.
Dokumentasi  merupakan sebuah pengambilan gambar dimana gambar di sini berupa foto-foto pada saat proses pembelajaran dengan metode card sort berlangsung. Dokumentasi ini berfungsi untuk menjadi bukti mengenai adanya proses kegiatan belajar dengan metode card sort, dan melalui dokumentasi ini juga dapat menjadi suatu cara mengantisipasi adanya kekeliruan atau kesalahan dalam proses penilaian. Foto-foto yang diambil saat pembelajaran berlangsung dapat menjadi gambaran konkret mengenai bagaimana keaktifan dan keantusiasan anak di dalam kelas pada saat pembelajaran dengan metode card sort.
12.    Jadwal Penelitian
Peneliti harus merencanakan jadwal PTK dengan matang sebelum melaksanakan PTK di lapangan dalam bentuk matrik/ tabel. Karena itu diperlukan observasi dan diskusi intensif dengan guru kelas dalam menyusun jadwal penelitian. Yang perlu diperhatikan adalah kalender pendidikan, program semester dan jadwal pembelajaran mapel tertentu yang telah ditetapkan oleh madrasah.
Tabel.2
Jadwal PTK (selama 6 bulan: Juni s.d. November 2014)

No
Kegiatan
Bulan/ Minggu ke


Juni
Juli
Agust
Sept
Okt
Nov
1
Pematangan dan konsultasi topik PTK
Minggu
ke 3-4





2
penyusunan proposal PTK

Minggu
ke 1-4




3
Penyusunan instrumen PTK


Minggu
Ke 1-4



4
Pelaksanaan siklus I



Minggu 1


5
Pelaksanaan siklus II



Minggu 2


6
Analisis Data



Minggu 3-4


7
Penyusunan laporan PTK




Minggu 1-3

8
Pendaftaran seminar Hasil PTK




Minggu 4

9
Seminar Hasil PTK





Minggu 1
10
Revisi Laporan Hasil PTK





Minggu 2
11
Penyerahan Laporan Hasil PTK
kepada pengelola (2 jilid & soft copy)





Minggu 3

J..Sistematika penulisan
Sistematika dalam penulisan skripsi ini terbagi menjadi 3 (tiga) bagian yaitu bagian awal, bagian inti dan bagian akhir skripsi.
1.    Bagian Awal penelitian ini terdiri dari halaman judul, abstrak, halaman pengesahan, halaman motto dan persembahan, kata pengantar, daftar isi dan daftar lampiran.
2.    Bagian Inti PTK terdiri dari 5 (lima) bab yaitu:
Bab I Pendahuluan yang berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, serta sistematika penulisan skripsi.
Bab II Landasan Teori dan Hipotesis Tindakan yang berisi tentang metode card sort, berisi tentang pengertian metode card sort, kelebihan dan kekurangan metode card sort, langkah-langkah metode card sort, pada sub bab dua berisi tentang keaktifan belajar, indikator keaktifan belajar,  c. Metode Card Sort sebagai pembelajaran Aktif (Active Learning), kerangka berpikir dan hipotesis tindakan.
Bab III Metode Penelitian berisi tentang jenis penelitian, tempat dan waktu penelitian, populasi dan sampel penelitian, variabel penelitian, teknik pengambilan data, dan teknik analisis data.
Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan berisi tentang hasil penelitian, pengujian hipotesis, pembahasan hasil penelitian, dan keterbatasan penelitian
Bab V Penutup berisi tentang simpulan dan saran-saran.
3.   Bagian Akhir Skripsi ini berisi daftar pustaka serta lampiran-lampiran yang berupa instrumen penelitian.


[1]  Syamsul Ma’arif, Selamatkan Pendidikan Dasar Kita, (Semarang: Need’s Press, 2009), hlm. 16-17.
[2] Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 31, ayat (1 dan 3).
[3] D. Deni Koeswara Halimah , Menjadi Guru Kreatif, (Bandung: PT Pribumi Mekar, 2008), hlm. 100
[4] Syamsu Yusuf, Psikologi Perkambangan Anak Dan Remaja, (Bandung: Rosda Karya, 2009), hlm.178
[5]  Ismail SM, Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis Paikem (Semarang: RaSAIL Media Group, 2001), hlm.88.
[6] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2002), hlm.75
[7] sutiyonokudus.files.wordpress.com
[8] Dimyati, dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Penerbit Rineka Cipta,  2006),  hlm.45
[9] Sugihartono Dkk, Psikologi Pendidikan, ( Yogyakarta: UNY Pres, 2007), hlm.85
[10] Sunarto, “Aktifitas Belajar”, dalam http://id.shvoong.com/social-sciences/1961162- aktifitas-belajar
[11] Ahmad Munjin Nasih dan Lilik Nur Kholidah, Metode dan Teknik Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Bandung: PT Refika Aditama, 2009 ), hlm. 15
[12] Hamruni H, Strategi dan model-model pembelajaran aktif dan menyenangkan,(Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga: 2009), hlm 280.
[13]   Zaini Hisyam, dkk Strategi Pembelajaran aktif, (Yogyakarta: Pustaka Insan Madani, 2008), hlm. 50.
[14] Romzanah, “Upaya Meningkatkan Keaktifan Peserta Didik dalam Pembelajaran Fiqih Kelas VIII Semester Ganjil Materi Pokok Zakat melalui Perpaduan Model Pembelajaran Everyone Is A Teacher Here dan Team Quiz di MTs Uswatun Hasanah Tahun Ajaran 2010/2011”. Skripsi, (Semarang: IAIN Walisongo, 2010).
[15] S. Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2004), hlm.181
[16] Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar , ( Bandung: Rosda Karya, 2011), hlm. 35
[17] Nana Sudjana, Op.cit, hlm.84

Tidak ada komentar:

Posting Komentar